Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr Albusaidi, pada Jumat (27/2/2026) menyatakan bahwa kesepakatan damai terkait program nuklir Iran kini “dalam jangkauan.” Pernyataan optimis ini muncul setelah Iran dilaporkan menyetujui prinsip “akumulasi nol” atau “penimbunan nol” material nuklir yang diperkaya, serta membuka diri untuk verifikasi penuh oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Dalam wawancara dengan program “Face the Nation” CBS News, Albusaidi, yang berperan sebagai mediator dalam pembicaraan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran, menyebut kesepakatan ini sebagai pencapaian besar. Ia menekankan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki material nuklir yang mampu menghasilkan bom, sebuah poin yang disebutnya “sepenuhnya baru” dan berbeda dari kesepakatan era Presiden Obama.
Menurut Albusaidi, stok uranium yang diperkaya Iran saat ini akan “dicampur ke tingkat serendah mungkin” dan “diubah menjadi bahan bakar, dan bahan bakar itu tidak dapat diubah kembali.” Selain itu, Iran bersedia memberikan “akses penuh” kepada inspektur IAEA ke situs-situs nuklirnya untuk memverifikasi ketentuan kesepakatan.
Meskipun ada kemajuan signifikan, Albusaidi mengakui bahwa masih dibutuhkan “sedikit lebih banyak waktu” untuk menyelesaikan detail-detail kesepakatan. Pembicaraan teknis dijadwalkan akan dilanjutkan pada Senin, 2 Maret, di Wina, Austria.
Perbedaan Pandangan dan Tantangan Verifikasi
Di sisi lain, laporan rahasia IAEA yang beredar pada Jumat (27/2/2026) mengungkapkan kekhawatiran serius. IAEA menyatakan “tidak dapat memverifikasi apakah Iran telah menangguhkan semua kegiatan terkait pengayaan” atau “ukuran stok uranium Iran di fasilitas nuklir yang terdampak” karena kurangnya akses sejak serangan militer pada Juni 2025. Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, sebelumnya memperingatkan bahwa agensi tersebut “tidak akan dapat memberikan jaminan bahwa program nuklir Iran secara eksklusif damai” sampai Iran meningkatkan kerja samanya.
IAEA juga mencatat bahwa “hilangnya kesinambungan pengetahuan” atas material nuklir Iran perlu segera ditangani. Stok uranium Iran yang diperkaya hingga 60% kemurnian, yang diperkirakan mencapai 440,9 kilogram pada Juni 2025, cukup untuk membuat hingga 10 bom nuklir jika Iran memutuskan untuk mempersenjatai programnya.
Presiden AS Donald Trump, sementara itu, tetap bersikeras menginginkan “tanpa pengayaan” sama sekali dari Iran. Delegasi AS dilaporkan menuntut Iran membongkar fasilitas nuklirnya dan menyerahkan semua uranium yang diperkaya ke Amerika Serikat, tuntutan yang ditolak oleh Iran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Iran memiliki “hak penuh untuk menikmati energi nuklir damai, termasuk pengayaan.”
Konteks Geopolitik dan Dialog Regional
Pembicaraan yang dimediasi Oman di Jenewa ini berlangsung di tengah peningkatan ketegangan regional, termasuk pengerahan militer besar-besaran AS di Teluk Persia dan ancaman serangan. Kedutaan Besar AS di Yerusalem bahkan telah mengizinkan staf non-esensial untuk meninggalkan Israel sebagai langkah antisipasi.
Meskipun fokus utama saat ini adalah isu nuklir, Albusaidi juga menyebut bahwa Iran “terbuka untuk membahas semua masalah, termasuk rudal balistik,” namun bersikeras bahwa putaran pembicaraan saat ini tetap berpusat pada masalah nuklir. Kekhawatiran non-nuklir lainnya dapat dibahas melalui dialog regional antara Iran dan negara-negara tetangganya.