Menperin Pastikan Industri TPT Nasional Siap Penuhi Lonjakan Permintaan Lebaran 2026

agus gumiwang kartasasmita, industri tpt, kementerian perindustrian, idulfitri 2026, ekonomi indonesia

Menteri Perindustrian (Menperin) memastikan bahwa industri tekstil dan produk tekstil (TPT) serta alas kaki di dalam negeri berada dalam kondisi optimal dan siap memenuhi lonjakan permintaan masyarakat, khususnya menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah pada tahun 2026 ini. Kesiapan ini didukung oleh kapasitas produksi yang memadai untuk pasar domestik.

Momentum Ramadan dan Idulfitri secara konsisten memicu peningkatan konsumsi produk sandang dan alas kaki. Industri nasional telah melakukan persiapan intensif sejak awal tahun 2026, dengan fokus pada produksi busana muslim, sarung, mukena, perlengkapan ibadah, serta sepatu dan sandal kasual, guna memastikan ketersediaan barang di pasaran.

Kinerja sektor TPT menunjukkan tren positif sepanjang tahun 2025, mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 3,55 persen secara tahunan. Sektor padat karya ini juga memberikan kontribusi signifikan sebesar 0,97 persen terhadap PDB nasional. Penyerapan tenaga kerja di sektor TPT mencapai sekitar 3,96 juta orang per Agustus 2025, meningkat dari 3,76 juta orang pada Februari 2025, membuktikan perannya sebagai tulang punggung penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur.

Untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga, (Kemenperin) telah mengambil berbagai langkah strategis. Ini termasuk memonitor kapasitas produksi, memperkuat pasokan bahan baku, serta mengoordinasikan distribusi dan logistik. Selain itu, pemerintah juga memperketat pengawasan terhadap praktik impor pakaian bekas ilegal atau thrifting yang dinilai merugikan industri dalam negeri, khususnya pelaku industri kecil dan menengah.

Tantangan dan Strategi Pengembangan Industri TPT

Meskipun menunjukkan pertumbuhan, nasional masih menghadapi sejumlah tantangan. Plt. Deputi Bidang Koordinasi Industri, Ketenagakerjaan, dan Pariwisata Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dida Gardera, pada Desember 2025 sempat menyebut bahwa industri TPT dapat disebut sebagai “sunset industry” karena teknologi yang perlu ditingkatkan dan daya saing yang kalah dibandingkan produk negara lain. Tantangan lain meliputi rendahnya utilisasi pabrik di sektor hulu, tingginya ketergantungan impor bahan baku (mencapai 50-70%), tekanan produk impor murah, serta risiko makroekonomi seperti fluktuasi nilai tukar dan harga energi yang tinggi.

Ketergantungan pada bahan baku impor juga menjadi perhatian. Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, pada awal Maret 2026 mengungkapkan kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan Monoetilen Glikol (MEG), bahan baku utama serat poliester yang 85% diimpor dari Timur Tengah, akibat eskalasi konflik di kawasan tersebut. Meski stok saat ini masih aman untuk lebih dari dua bulan, kenaikan harga sulit dihindari jika konflik berlanjut.

Menanggapi tantangan ini, pemerintah melalui Kemenko Perekonomian dan Kemenperin terus berupaya memperkuat industri TPT. Kemenperin berkomitmen untuk tidak membiarkan sektor ini berjalan sendiri, dengan menyiapkan berbagai insentif dan kebijakan pro-industri, termasuk fasilitasi pembiayaan, pelatihan SDM, dan penguatan pengawasan impor. Program Restrukturisasi Mesin dan Peralatan juga dijalankan untuk modernisasi mesin, yang terbukti meningkatkan kapasitas produksi sebesar 21,75 persen, efisiensi energi 11,86 persen, dan penyerapan tenaga kerja 3,96 persen.

Pemerintah juga tengah menyusun “Grand Design” dan melakukan kajian strategi pengembangan ekosistem industri TPT yang berkelanjutan dan berdaya saing global, dengan fokus pada pengembangan high value garments dan sustainable materials. Upaya ini diharapkan dapat menjadikan Indonesia sebagai pusat inovasi dan pertumbuhan global bagi industri tekstil.