PADANG, 31 Januari 2026 – Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo bersama Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade meninjau langsung kondisi intake PDAM Padang di kawasan Gunung Pangilun, Padang Utara. Peninjauan ini dilakukan menyusul lumpuhnya infrastruktur pasokan air bersih di Kota Padang akibat banjir bandang pada akhir November 2025.
Kerusakan Intake Peninggalan Kolonial
Kunjungan kerja yang berlangsung pada Jumat (30/1/2026) ini menyoroti kerusakan parah pada salah satu intake PDAM Padang. Intake yang merupakan peninggalan era kolonial Belanda ini sebelumnya menopang hampir 30 persen kebutuhan air bersih bagi pelanggan PDAM Kota Padang. Namun, banjir bandang telah merusak fungsinya secara signifikan, mengancam distribusi air bersih bagi ratusan ribu warga.
Dalam peninjauan tersebut, turut hadir Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi, Wali Kota Padang Fadly Amran, Direktur Utama PDAM Padang Hendra Pebrizal, Kepala Balai PBPK Sumbar Kementerian PU Maria Doeni Isa, serta jajaran kepala balai teknis Kementerian PU di Sumbar.
Pembangunan Intake Baru Senilai Rp 400 Miliar
Andre Rosiade menyatakan bahwa pemerintah pusat telah memastikan pembangunan intake baru di kawasan Kampung Koto dengan nilai investasi mencapai Rp 400-an miliar. Pembangunan ini akan berlokasi tidak jauh dari intake lama di Gunung Pangilun.
“Intake baru tersebut dirancang berkapasitas lebih besar 500 liter per detik dan dilengkapi sistem pengolahan air modern untuk menjawab persoalan air keruh yang selama ini dikeluhkan masyarakat,” kata Andre Rosiade, dalam keterangannya, Jumat (30/1/2026).
Strategi Penanganan Jangka Panjang
Menteri PU Dody Hanggodo menjelaskan bahwa Kota Padang ditopang oleh 12 intake. Saat ini, tujuh SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum) menjadi prioritas penanganan darurat pascabencana. Salah satunya adalah SPAM Palukahan dengan kapasitas 200 liter per detik dari total 500 liter per detik.
Untuk menekan biaya operasional jangka panjang, Kementerian PU akan membangun Instalasi Pengolahan Air (IPA) berbahan baja dengan sistem gravitasi. Unit pra-sedimentasi juga akan dipasang di lokasi baru untuk mengurangi kandungan pasir dan lumpur yang menyebabkan air keruh.
Penanganan darurat juga mencakup perbaikan pipa transmisi sepanjang 1,3 kilometer yang terputus akibat banjir bandang, terutama di area jembatan yang rusak. Nilai pekerjaan tanggap darurat infrastruktur air bersih ini mencapai sekitar Rp 92 miliar.
Kebutuhan Lahan dan Relokasi
Pemerintah Kota Padang telah menyiapkan lahan seluas 5,8 hektare, namun masih membutuhkan tambahan sekitar 1,3 hektare di beberapa titik. Kepala Balai Maria Doeni Isa mengungkapkan bahwa lokasi lama di kawasan Limau Manis mengalami keretakan struktur sejak gempa tahun 2009 dan semakin berisiko pascabanjir, sehingga diputuskan untuk direlokasi.
Fasilitas IPA dan reservoir baru akan dipindahkan sekitar 800 meter dari lokasi lama untuk mengoptimalkan sistem gravitasi. Genset tua peninggalan Belanda yang boros akan diganti dengan sistem yang lebih efisien.
Sinergi dan Dukungan
Pemerintah juga menyiapkan sinergi lintas wilayah, termasuk kerja sama dengan Universitas Andalas (Unand) untuk memanfaatkan kelebihan kapasitas SPAM guna membantu wilayah rawan kekeringan.
Wali Kota Padang Fadly Amran menyampaikan terima kasih atas perhatian pemerintah pusat dan provinsi. “Intake Gunung Pangilun ini memang harus diistirahatkan. Kerusakannya sudah banyak dan sangat berisiko jika terjadi gempa lagi,” ujar Fadly.
Ia menegaskan Pemerintah Kota Padang siap berkolaborasi untuk mempercepat penyelesaian persoalan air bersih. “Kami akan terus bekerja keras. Mohon doa dan dukungan agar masalah air bersih di Kota Padang bisa segera tuntas,” katanya.






