Merdeka Gold Resources Ajukan Dual Listing di Bursa Hong Kong, Perluas Akses Investor Global

PT Tbk (EMAS), anak usaha dari PT Tbk (MDKA), secara resmi telah mengajukan permohonan pencatatan saham di (HKEX) pada 20 Maret 2026. Langkah strategis ini ditempuh perseroan untuk memperluas basis investornya dan mengakses pasar modal internasional yang lebih luas.

Pengajuan ini menandai fase ekspansi baru bagi EMAS, yang sebelumnya telah sukses melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada September 2025. Dalam penawaran umum perdana () di BEI, EMAS berhasil menghimpun dana sekitar Rp 4,66 triliun, atau setara dengan US$275 juta hingga US$297 juta.

Tujuan dan Proses Dual Listing

Sekretaris Perusahaan EMAS, Adi Adriansyah Sjoekri, mengungkapkan bahwa dokumen awal yang dikenal sebagai Application Proof telah disampaikan kepada HKEX pada 20 Maret 2026. Dokumen ini berisi keterangan mengenai perseroan sehubungan dengan permohonan pencatatan. Saat ini, dokumen tersebut masih dalam tahap penelaahan oleh Hong Kong Exchanges and Clearing.

Adi Adriansyah Sjoekri juga menegaskan bahwa draft dokumen yang diajukan belum bersifat final dan tidak sepatutnya dijadikan dasar atau diandalkan oleh para investor. Untuk memuluskan proses ini, EMAS telah menunjuk UBS Securities Hong Kong Limited dan CITIC Securities (Hong Kong) Limited sebagai joint sponsors.

Presiden Direktur Merdeka Gold Resources, Boyke Poerbaya Abidin, menyatakan bahwa permohonan pencatatan saham di HKEX merupakan langkah penting setelah IPO di BEI dan dimulainya produksi di Tambang Emas Pani pada awal tahun ini. “Kami tetap fokus untuk meningkatkan operasi secara aman dan memberikan nilai jangka panjang, sekaligus memperluas akses terhadap pasar modal internasional,” ujar Boyke. Keputusan memilih Hong Kong didasari oleh akses ke basis investor global yang lebih luas dan likuiditas pasar yang tinggi, terutama untuk perusahaan pertambangan.

Kinerja dan Proyek Unggulan

Merdeka Gold Resources mengelola Tambang Emas Pani yang berlokasi di Pohuwato, Gorontalo. Proyek ini merupakan aset unggulan perseroan dan diakui sebagai tambang emas primer terbesar di Indonesia berdasarkan sumber daya dan cadangan, dengan estimasi 7 juta ons emas dalam sumber daya mineral dan 5,2 juta ons dalam cadangan bijih.

Proyek Pani telah mencapai first gold pour pada Februari 2026 dan mencatat penjualan perdana sebanyak 16 kg emas kepada PT Aneka Tambang (ANTM) pada Maret 2026. Produksi puncak di Tambang Pani diperkirakan mencapai 140.000–150.000 ons emas per tahun antara 2026-2030, dengan potensi mencapai 500.000 ons per tahun pada operasi penuh.

Meskipun demikian, laporan keuangan EMAS menunjukkan rugi bersih sebesar US$27,5 juta pada tahun 2025, meningkat dari US$12,7 juta pada tahun 2024. Di sisi lain, saham EMAS di BEI sempat mengalami penurunan 10,26% ke harga Rp 8.525 per saham pada perdagangan Rabu (25/3/2026), di tengah pengumuman pengunduran diri tiga anggota direksi dan sentimen negatif dari penurunan harga emas dunia di akhir Maret 2026.

Perubahan Manajemen

Seiring dengan rencana dual listing ini, tiga anggota direksi EMAS, yaitu Albert Saputro, David Thomas Fowler, dan Adi Adriansyah Sjoekri, telah mengajukan pengunduran diri. Pengunduran diri ini akan berlaku efektif setelah mendapatkan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang semula dijadwalkan pada 13 April 2026, namun telah ditunda menjadi 22 April 2026.