Mikel Arteta: ‘Hati Saya Hampir Berhenti’ Saat Arsenal Kalahkan Chelsea dengan Gol Set-Piece

mikel arteta, arsenal, chelsea, premier league, set-piece

Manajer , , mengakui jantungnya nyaris berhenti saat timnya berhasil menaklukkan dengan skor tipis 2-1 dalam laga yang menegangkan pada 1 Maret 2026. Kemenangan krusial ini semakin mendekatkan The Gunners pada ambisi gelar juara liga pertama mereka dalam 22 tahun terakhir. Uniknya, kedua gol kemenangan Arsenal lahir dari skema bola mati, sebuah aspek permainan yang kerap menjadi sorotan sekaligus kekuatan tim asuhan Arteta.

Kemenangan Dramatis dan Peran Bola Mati

Dalam pertandingan yang berlangsung di Emirates Stadium, Arsenal membuka keunggulan melalui sundulan William Saliba yang memanfaatkan sepak pojok di pertengahan babak pertama. Namun, Chelsea sempat menyamakan kedudukan lewat gol bunuh diri Piero Hincapie. Jurrien Timber kemudian mengembalikan keunggulan Arsenal di babak kedua, lagi-lagi dari sepak pojok, pada menit ke-66. Empat menit berselang, harapan Chelsea semakin menipis setelah Pedro Neto diganjar kartu merah.

Meski unggul jumlah pemain, Arsenal harus berjuang keras di menit-menit akhir. David Raya bahkan dipaksa melakukan penyelamatan gemilang dari tendangan melengkung Alejandro Garnacho, dan gol Liam Delap dianulir karena offside di masa tambahan waktu. “Penyelamatan yang dia (Raya) lakukan di aksi terakhir, dari tembakan luar biasa, saya mendapatkan sudut yang tepat dan hati saya hampir berhenti,” ungkap Arteta pasca pertandingan. “Tapi tangan David ada di sana untuk menghidupkannya kembali.”

Arteta Tegaskan Pentingnya Set-Piece

Kemenangan yang ditentukan oleh dua gol dari sepak pojok ini kembali memicu perdebatan mengenai ketergantungan Arsenal pada bola mati. Namun, Mikel Arteta dengan tegas menepis kritik tersebut, menegaskan bahwa set-piece adalah bagian integral dari sepak bola modern. Ia berulang kali menyatakan ambisinya agar Arsenal menjadi yang terbaik dalam setiap aspek permainan.

“Kami ingin menjadi raja dalam segala hal,” ujar Arteta dalam sebuah kesempatan. “Dalam set-piece – yang terbaik di dunia. Dalam high press – yang terbaik di dunia. Menyerang ruang terbuka – yang terbaik di dunia. Kami ingin atmosfer terbaik di stadion, dan menjadi yang terbaik dalam segala hal.” Ia menambahkan bahwa timnya bekerja keras untuk mendominasi setiap fase permainan.

Arsenal dan Dominasi Set-Piece Musim Ini

Gol Jurrien Timber ke gawang Chelsea menandai gol ke-16 Arsenal dari sepak pojok di musim 2025/26 ini, sebuah angka yang menyamai rekor Premier League untuk gol terbanyak dari sepak pojok dalam satu musim. Keunggulan Arsenal dalam situasi bola mati bukanlah hal baru. Pada musim 2023-2024, mereka memimpin Premier League dengan mencetak 20 gol dari set-piece, termasuk 16 gol dari sepak pojok. Keberhasilan ini tak lepas dari peran pelatih set-piece inovatif, Nicolas Jover, yang telah mengubah Arsenal menjadi salah satu tim paling berbahaya dari situasi bola mati di dunia.

Arteta sendiri telah memiliki obsesi terhadap set-piece selama satu dekade, bahkan sebelum ia menjabat sebagai manajer Arsenal. Ia melihatnya sebagai cara untuk mengembangkan tim, berevolusi, dan memberikan lebih banyak alat kepada pemain agar lebih tidak terduga dan efisien. Meskipun beberapa pengamat dan penggemar menuduh Arsenal terlalu bergantung pada set-piece, Arteta menganggapnya sebagai “narasi” yang muncul ketika tim tidak mencetak gol dari permainan terbuka. Baginya, yang terpenting adalah kemampuan tim untuk mencetak gol dari berbagai cara dan menjaga soliditas pertahanan.