Militer AS Gunakan AI Anthropic dalam Serangan ke Iran, Abaikan Larangan Trump

militer, gunakan, anthropic, teknologi, iran

Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan tetap menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) Claude dari Anthropic dalam operasi serangan terbarunya ke Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Fakta ini menjadi sorotan tajam, mengingat penggunaan AI tersebut terjadi hanya berselang beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump secara resmi mengeluarkan perintah larangan terhadap teknologi Anthropic di seluruh lembaga federal.

Serangan gabungan AS dan Israel, yang dinamai “Operation Epic Fury” oleh Washington dan “Operation Roaring Lion” oleh Tel Aviv, menargetkan pangkalan militer, fasilitas pertahanan, serta struktur kepemimpinan Iran. Komando Pusat AS (US Central Command) diyakini menjadi salah satu pihak yang menggunakan layanan Anthropic di lapangan.

Peran AI Claude dalam Operasi Militer

Model AI Claude dari Anthropic dikerahkan untuk berbagai keperluan di balik layar (back-end) dalam operasi militer tersebut. Fungsinya mencakup analisis data intelijen, penerjemahan komunikasi musuh yang disadap secara instan, identifikasi target, optimalisasi rantai pasok logistik militer, hingga simulasi skenario pertempuran. Meskipun demikian, AI Claude dipastikan tidak digunakan secara langsung sebagai pengambil keputusan mematikan, seperti menerbangkan drone atau menentukan target pengeboman secara otonom.

Penggunaan AI Anthropic oleh pemerintah dan militer AS bukanlah hal baru; teknologi ini telah dimanfaatkan sejak tahun 2024, bahkan menjadi perusahaan AI tingkat lanjut pertama yang perangkatnya digunakan di jaringan rahasia pemerintah untuk menangani pekerjaan rahasia.

Konflik Trump dan Pentagon dengan Anthropic

Perintah larangan penggunaan teknologi Anthropic oleh Presiden Trump pada Jumat, 27 Februari 2026, merupakan puncak dari perselisihan sengit antara perusahaan AI tersebut dengan Pentagon. Konflik ini bermula dari penolakan Anthropic untuk memberikan akses tak terbatas kepada militer AS terhadap perangkat AI-nya untuk “semua tujuan yang sah.”

CEO Anthropic, Dario Amodei, menegaskan bahwa perusahaannya memiliki “garis merah” etika yang tidak dapat dilanggar. Dua batasan utama tersebut adalah larangan penggunaan teknologi Claude untuk pengawasan massal terhadap warga AS dan larangan pengembangan senjata otonom mematikan tanpa campur tangan manusia. Amodei menyatakan bahwa Anthropic adalah “warga Amerika yang patriotik” namun khawatir potensi penyalahgunaan AI dapat bertentangan dengan nilai-nilai Amerika.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth melabeli Anthropic sebagai “risiko rantai pasokan keamanan nasional” dan bersikeras bahwa Pentagon membutuhkan fleksibilitas penuh untuk semua tujuan hukum demi kepentingan pertahanan negara. Hegseth juga menyatakan, “Para prajurit Amerika tidak akan pernah disandera oleh keinginan ideologis perusahaan teknologi besar.”

Melalui unggahan di Truth Social, Trump mengecam Anthropic, menyatakan, “Kami tidak membutuhkannya, kami tidak menginginkannya, dan tidak akan berbisnis dengan mereka lagi!” Ia juga memperingatkan, “Anthropic sebaiknya bersikap kooperatif dan membantu selama masa transisi penghapusan ini, atau saya akan menggunakan kekuatan penuh kepresidenan untuk memaksa mereka patuh, yang akan diikuti oleh konsekuensi perdata dan pidana berat.” Trump bahkan menyebut Anthropic sebagai “Perusahaan AI sayap kiri radikal yang dijalankan oleh orang-orang yang tidak tahu apa itu dunia nyata.”

Dampak dan Ironi di Medan Tempur

Keputusan Trump ini menghapus potensi kerja sama senilai US$200 juta yang telah disepakati Anthropic dengan militer, serta kontrak dengan lembaga sipil lainnya. Meskipun ada perintah larangan, militer AS diberikan masa transisi enam bulan untuk beralih dari produk Anthropic. Anthropic sendiri menyatakan akan menggugat keputusan tersebut di pengadilan, menyebut pernyataan pemerintah sebagai “balasan dan hukuman.”

Penggunaan AI Anthropic dalam serangan ke Iran, hanya beberapa jam setelah larangan resmi diumumkan, menciptakan sebuah ironi dan paradoks. Hal ini menunjukkan betapa dalamnya teknologi AI telah terintegrasi dalam sistem operasional militer, sehingga sulit untuk dihentikan secara mendadak.

Ketegangan Regional yang Memanas

Serangan AS dan Israel ke Iran ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Negosiasi nuklir tidak langsung antara Washington dan Teheran di Jenewa sebelumnya tidak membuahkan hasil. Amerika Serikat telah mengerahkan dua gugus tugas kapal induk ke Teluk Persia sebagai sinyal tekanan dan kesiapan militer. Selain itu, Iran juga dilanda gelombang protes besar yang dipicu krisis ekonomi dan merosotnya nilai tukar rial.

Laporan menyebutkan, serangan udara dan rudal gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026 menyebabkan insiden tragis, termasuk serangan yang menghantam sekolah dasar putri di Minab, Iran, yang mengakibatkan puluhan hingga ratusan korban meninggal dan luka-luka di antara para siswa. Sebagai balasan, rudal Iran dilaporkan menghantam kawasan Tel Aviv di Israel, menyebabkan korban jiwa dan luka-luka di kalangan warga sipil, serta kerusakan di bandara dan fasilitas umum di Uni Emirat Arab.