Minat Kendaraan Listrik Berbeda Arah di AS dan Asia di Tengah Gejolak Harga BBM

Gejolak geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Iran dan Israel yang didukung Amerika Serikat, telah memicu volatilitas signifikan pada harga minyak mentah global. Situasi ini, yang sempat membuat harga minyak Brent melonjak hingga 119 dolar AS per barel, seharusnya menjadi pendorong utama minat terhadap (EV) sebagai alternatif yang lebih hemat. Namun, tren adopsi EV menunjukkan arah yang berbeda di pasar utama seperti Amerika Serikat dibandingkan dengan negara-negara di Asia.

Di Amerika Serikat, meskipun harga bensin rata-rata melonjak 27 persen sejak akhir Februari 2026, mencapai 3,72 dolar AS per galon pada 17 Maret, penjualan kendaraan listrik justru mengalami penurunan tajam. Data dari S&P Global Mobility menunjukkan bahwa registrasi EV baru pada Januari 2026 anjlok 41 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan pangsa pasar mobil listrik murni turun dari 8,3 persen menjadi 5,1 persen. Penurunan ini terjadi setelah insentif pajak federal untuk kendaraan listrik dihentikan pada 30 September 2025.

Analis industri, seperti Karl Brauer dari iSeeCars dan Tom Libby dari S&P Global Mobility, menilai kondisi ini sebagai fase penyesuaian pasar setelah hilangnya dukungan insentif pemerintah. Meskipun Tesla masih mendominasi pasar EV AS dengan pangsa 53,7 persen pada Januari 2026, perusahaan tersebut juga mencatat penurunan registrasi sebesar 26 persen secara tahunan. Sementara itu, merek lain seperti Hyundai, Ford, dan Chevrolet mengalami penurunan penjualan EV yang lebih drastis, masing-masing 23 persen, 67 persen, dan 55 persen. Hanya Cadillac yang mencatatkan pertumbuhan 8,1 persen, dan Toyota dengan pertumbuhan 25 persen dari basis yang lebih kecil.

Asia Justru Alami Lonjakan Minat EV

Berbanding terbalik dengan Amerika Serikat, negara-negara di Asia justru menyaksikan lonjakan minat terhadap kendaraan listrik dan hibrida. Kenaikan harga bahan bakar minyak akibat konflik di Timur Tengah telah mendorong konsumen di Filipina, Vietnam, dan Thailand untuk beralih ke kendaraan yang lebih efisien.

Sebagai contoh, sebuah diler BYD di Manila melaporkan bahwa penjualan EV dalam dua minggu pertama Maret 2026 menyamai total penjualan bulanan mereka. Di Vietnam, diler Vinfast berhasil menjual 250 unit mobil listrik hanya dalam tiga minggu, meningkat signifikan dari rata-rata 50 unit per minggu pada tahun 2025. Albert Park, Kepala Ekonomi Asian Development Bank, menegaskan bahwa harga minyak yang lebih tinggi akan “membantu transisi ke kendaraan listrik” karena “menciptakan insentif ekonomi” untuk transisi hijau.

Dinamika Pasar Kendaraan Listrik di Indonesia

Indonesia juga menunjukkan tren positif dalam adopsi kendaraan listrik. Penjualan kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) pada Januari 2026 mencapai 10.211 unit, hampir empat kali lipat dibandingkan Januari 2025. Total penjualan BEV selama Januari-Februari 2026 diperkirakan mencapai 22.500 unit, menyumbang 15 persen dari total penjualan mobil nasional. Penjualan kendaraan hibrida plug-in (PHEV) bahkan mengalami pertumbuhan eksplosif, melonjak lebih dari 3.000 persen pada Januari 2026.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan pembiayaan kendaraan listrik sebesar 39,13 persen secara tahunan pada Januari 2026, mencapai Rp21,05 triliun. Hal ini didorong oleh berbagai faktor, termasuk potensi penghematan biaya operasional yang signifikan. Mobil listrik menawarkan biaya energi yang hanya sekitar 25 persen dari biaya bahan bakar bensin, biaya perawatan 30-50 persen lebih murah, dan pajak kendaraan yang lebih rendah berkat insentif pemerintah.

Meskipun demikian, pemerintah Indonesia masih mengkaji keberlanjutan insentif mobil listrik untuk tahun 2026, dengan fokus pada pembeli pertama dan pendorong produksi lokal. Insentif impor mobil listrik CBU (Completely Built Up) sendiri telah dihentikan mulai 1 Januari 2026, mendorong produsen untuk membangun fasilitas produksi di dalam negeri.