MIND ID dan Kemendiktisaintek Ubah Limbah Timah Jadi LTJ, Perkuat Kemandirian Mineral Kritis Nasional

mind id, kemendiktisaintek, logam tanah jarang, limbah timah, mineral kritis

PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau , sebagai BUMN Holding Industri Pertambangan, bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi () telah berhasil menuntaskan riset pengembangan . Inovasi ini berfokus pada pemanfaatan limbah timah untuk menghasilkan (LTJ) atau Rare Earth Elements (REE), sebuah langkah strategis untuk memperkuat kemandirian industri nasional.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Faudzan Adziman, menjelaskan bahwa penelitian ini secara spesifik menargetkan pengolahan limbah timah yang kaya akan monasit. Monasit, yang selama ini sering dianggap sebagai limbah, memiliki potensi besar untuk diolah kembali menjadi mineral bernilai tinggi seperti torium, uranium, dan neodimium.

Neodimium dikenal sebagai magnet yang sangat kuat dan bernilai ekonomi tinggi, dengan aplikasi krusial dalam baterai kendaraan listrik (EV). Sementara itu, torium dan uranium memegang peran penting dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Indonesia sendiri telah menargetkan porsi penggunaan tenaga nuklir sebesar 11,7% hingga 12,1% dalam bauran energi primer nasional pada tahun 2060, sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 40/2025 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN).

Pemanfaatan LTJ ini diharapkan dapat meningkatkan energi, efisiensi, dan memperpanjang usia baterai ketika dicampur dengan komponen baterai berbasis nikel (NMC) atau litium (LFP). Para ahli di Indonesia bahkan telah mampu memisahkan LTJ dari mineral kasiterit (bijih timah) dan memproduksi berbagai prototipe baterai berbasis LTJ di dalam negeri.

Sebagai bagian dari Grup MIND ID, PT Timah Tbk juga aktif dalam upaya hilirisasi ini. PT Timah mengelola bijih pembawa timah yang masih mengandung REE dan terus mengakselerasi pengembangannya melalui pembangunan Pilot Plant Logam Tanah Jarang di Tanjung Ular, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Fasilitas ini berfokus pada revitalisasi dan modifikasi unit pengolahan monasit, dengan rencana untuk membangun pabrik skala komersial di masa depan.

Inisiatif ini sejalan dengan program hilirisasi mineral nasional dan visi “Asta Cita Presiden Prabowo” untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Pemerintah Indonesia secara konsisten mendorong optimalisasi sumber daya mineral kritis untuk memperkuat posisi negara dalam rantai pasok global. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa investasi dalam mineral kritis harus mematuhi regulasi nasional dan mendukung hilirisasi, bukan sekadar ekspor bahan mentah.

Indonesia memiliki cadangan mineral kritis yang melimpah, termasuk timah sebesar 6,4 miliar ton atau sekitar 24,3% dari cadangan dunia, dengan kontribusi produksi sekitar 21%. Transisi energi global yang semakin masif turut meningkatkan permintaan akan mineral-mineral kritis ini, menjadikan pengembangan dan pemanfaatannya sangat strategis bagi ketahanan energi dan daya saing industri nasional.

MIND ID berkomitmen untuk terus mengelola komoditas mineral secara bertanggung jawab, menciptakan nilai tambah ekonomi, serta memberikan manfaat sosial dan lingkungan bagi masyarakat Indonesia. Kolaborasi riset, inovasi teknologi, dan sinergi antara pemerintah, industri, dan akademisi menjadi kunci untuk memastikan potensi mineral kritis nasional tidak lagi terbuang, melainkan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi dan kemandirian bangsa.