Mural di Teheran Abadikan Warisan Revolusi Islam, Tampilkan Ayatollah Khomeini dan Khamenei

Author Image

Hodak

28 Februari 2026

Sebuah mural besar di , ibu kota Iran, menjadi pengingat visual yang kuat akan warisan Revolusi Islam 1979, menampilkan potret pendiri Republik Islam Iran, , bersama dengan Pemimpin Tertinggi saat ini, . Keberadaan mural semacam ini menyoroti peran seni publik sebagai alat propaganda dan ekspresi politik yang mendalam di negara tersebut.

Ayatollah Ruhollah Khomeini adalah tokoh sentral yang memimpin Revolusi Islam 1979, menggulingkan Dinasti Pahlavi dan mendirikan Republik Islam Iran. Ia menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi pertama dari tahun 1979 hingga wafatnya pada tahun 1989, meninggalkan warisan radikalisme dan teokrasi yang kuat. Setelah kepergiannya, tongkat kepemimpinan diteruskan kepada Ayatollah Ali Khamenei pada tahun 1989.

Sebagai Pemimpin Tertinggi kedua, Ayatollah Ali Khamenei kini menjadi kepala negara terlama di Timur Tengah, dengan masa jabatan yang telah berlangsung selama 36 tahun. Ia memegang otoritas tertinggi dalam berbagai aspek pemerintahan, termasuk kebijakan luar negeri, ekonomi, pendidikan, dan militer, serta memiliki keputusan akhir atas urusan negara.

Mural-mural di Teheran telah lama berfungsi sebagai kanvas ideologis bagi pemerintah Iran. Sejak Revolusi Islam, dinding-dinding kota telah diubah menjadi media untuk menyebarkan pesan-pesan revolusioner, mengagungkan para pemimpin, dan menyuarakan sentimen anti-Barat. Citra publik ini secara konsisten memperkuat kehadiran dan legitimasi para pemimpin serta nilai-nilai Revolusi Islam di benak masyarakat.

Pada 11 Februari 2026 lalu, Iran memperingati ulang tahun ke-47 Revolusi Islam dengan demonstrasi massal di seluruh negeri. Dalam acara tersebut, para demonstran terlihat membawa potret Ayatollah Khomeini dan Ayatollah Khamenei, menunjukkan dukungan terhadap kepemimpinan dan warisan revolusi. Peringatan ini juga menjadi momen bagi pemerintah untuk menampilkan kekuatan domestik dan retorika anti-Amerika serta anti-Israel.

Di tengah dinamika regional, mural-mural baru di Teheran juga mencerminkan ketegangan geopolitik yang meningkat. Beberapa mural terbaru menyoroti kesiapan Iran untuk melakukan pembalasan terhadap agresi Israel, dengan pesan-pesan yang mengacu pada simbol-simbol keberanian dan keadilan dalam sejarah Islam.

Namun, peringatan revolusi tahun ini juga berlangsung di tengah gejolak internal. Presiden Masoud Pezeshkian mengakui adanya “kesedihan besar” atas protes anti-rezim yang terjadi pada akhir 2025 hingga Januari 2026. Meskipun demikian, Pemimpin Tertinggi Khamenei pada 10 Februari 2026 memberikan pengampunan atau pengurangan hukuman kepada 2.108 tahanan, namun tidak termasuk mereka yang terlibat dalam kerusuhan baru-baru ini.

Dalam konteks ketidakpastian regional dan internal, laporan juga menyebutkan bahwa Ayatollah Khamenei telah mendelegasikan rencana suksesi kepada kepala keamanan nasionalnya, Ali Larijani, untuk memastikan kelangsungan negara dalam skenario perang atau pembunuhan.