Asosiasi Atletik Nasional Perguruan Tinggi (NCAA) tengah bersiap untuk menerapkan sanksi yang jauh lebih ketat terhadap program atletik yang berupaya mengakuisisi pemain di luar jendela transfer resmi. Komite Pengawas Football Bowl Subdivision (FBS) Divisi I NCAA pada 20 Maret 2026 merekomendasikan hukuman berat, termasuk larangan enam pertandingan bagi pelatih kepala dan denda 20% dari anggaran sepak bola tim, jika terbukti melanggar aturan.
Usulan sanksi ini muncul setelah NCAA menghapus jendela transfer musim semi untuk sepak bola pada tahun 2026, menyisakan hanya satu periode transfer di bulan Januari (2-15 Januari, dengan tambahan lima hari untuk pemain yang berlaga di pertandingan kejuaraan College Football Playoff). Langkah ini bertujuan untuk menutup celah yang memungkinkan tim mengakuisisi atlet yang tidak secara resmi masuk ke portal transfer, sebuah praktik yang dikhawatirkan dapat merusak stabilitas daftar pemain.
Berdasarkan rekomendasi yang diamandemen pada 20 Maret 2026, jika sebuah institusi merekrut seorang atlet yang tidak aktif di Portal Transfer pada saat transfer dan atlet tersebut berpartisipasi dalam aktivitas terkait atletik di sekolah baru, maka akan ada dua tindakan utama. Pertama, pelatih kepala akan dilarang dari semua tugas sepak bola, termasuk perekrutan dan kepelatihan di lapangan, serta tugas administratif seperti rapat tim, untuk enam pertandingan. Kedua, sekolah tersebut akan didenda sebesar 20% dari anggaran sepak bola mereka.
Sebelumnya, komite juga mengusulkan pengurangan lima slot daftar pemain untuk musim berikutnya, namun sanksi ini telah dihapus dari proposal yang diamandemen. Meskipun demikian, dua sanksi yang tersisa dianggap sangat berat, terutama mengingat batasan 105 pemain beasiswa di tingkat FBS.
Kekhawatiran NCAA terhadap praktik mengakali aturan transfer ini bukan tanpa alasan. Salah satu kasus yang menonjol adalah kepindahan bek Xavier Lucas dari Wisconsin ke Miami. Lucas meninggalkan Wisconsin dan mendaftar di Miami tanpa pernah secara resmi masuk ke portal transfer, memicu gugatan dari Wisconsin atas tuduhan tampering. Kasus lain yang disebut-sebut memicu legislasi darurat ini adalah ketika Ole Miss merekrut mantan pemain Clemson, Luke Ferrelli, pada 22 Januari, hampir seminggu setelah jendela portal transfer ditutup, yang kemudian memicu tuduhan tampering dari pelatih Clemson, Dabo Swinney.
Mark Alnutt, Ketua Komite Pengawas FBS dan Direktur Atletik di Buffalo, menegaskan pentingnya aturan ini. “Kami merasa ini tepat untuk memberikan penekanan pada aturan ini mengingat kondisi sepak bola Divisi I saat ini,” ujarnya. Ia menambahkan, “Jika ada pergerakan tanpa melalui proses sebagaimana diatur, komite merasa perlu ada sanksi yang signifikan.” Senada, Direktur Atletik Georgia, Josh Brooks, menyatakan, “Upaya untuk mengakali proses jendela transfer adalah masalah bagi olahraga ini. Kami ingin semua orang tahu bahwa ini tidak akan diizinkan, dan komite ingin melindungi jendela transfer yang telah ditetapkan.”
Proposal ini diharapkan akan disetujui oleh Kabinet Divisi I NCAA paling lambat April 2026. Jika disahkan, legislasi ini akan segera berlaku dan bersifat retroaktif hingga 25 Februari 2026, yang berarti pelanggaran yang terjadi sejak tanggal tersebut dapat dikenakan sanksi. Penting untuk dicatat bahwa Kabinet Divisi I juga telah mendukung penerapan sanksi ini di semua cabang olahraga, tidak hanya sepak bola.
Dengan langkah ini, NCAA menunjukkan komitmen seriusnya untuk menciptakan stabilitas daftar pemain dan memastikan kepatuhan terhadap proses transfer yang telah ditetapkan, sekaligus mengirimkan pesan tegas kepada program-program yang mencoba mencari celah dalam sistem.