Neraca Dagang Indonesia Diproyeksi Tetap Surplus Awal 2026, Namun Potensi Menyempit Mengintai

Author Image

Hodak

28 Februari 2026

neraca dagang indonesia, surplus perdagangan, ekspor impor, kementerian perdagangan, badan pusat statistik

Indonesia diproyeksikan akan kembali mencatatkan surplus neraca perdagangan pada awal tahun 2026, melanjutkan tren positif yang telah berlangsung selama lebih dari lima tahun. Namun, di tengah optimisme ini, para ekonom memperingatkan adanya potensi penyempitan surplus seiring dengan laju pertumbuhan impor yang diperkirakan akan melampaui ekspor.

Surplus Berlanjut di Januari 2026

(BPS) dijadwalkan akan mengumumkan data ekspor dan impor Januari 2026 pada Senin, 2 Maret 2026. Ekonom PT Bank Permata Tbk Faisal Rachman memprediksi pada Januari 2026 akan mencapai US$2,65 miliar. Angka ini relatif stabil dibandingkan dengan surplus US$2,51 miliar yang tercatat pada Desember 2025. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono sebelumnya menegaskan bahwa neraca perdagangan barang Indonesia telah mengalami surplus selama 68 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Secara kumulatif, kinerja perdagangan Indonesia sepanjang tahun 2025 menunjukkan hasil yang menggembirakan. BPS melaporkan surplus neraca perdagangan barang mencapai US$41,05 miliar, meningkat signifikan dari US$31,04 miliar pada periode yang sama tahun 2024. Nilai ekspor Indonesia sepanjang 2025 mencapai US$282,91 miliar, tumbuh 6,15 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara nilai impor mencapai US$241,86 miliar, naik 2,83 persen.

Dinamika Ekspor dan Impor

Konsensus Bloomberg memproyeksikan ekspor Indonesia pada Januari 2026 akan tumbuh 11,9 persen secara tahunan (year-on-year), menandai rebound tajam dari realisasi bulan sebelumnya yang hanya 0,36 persen. Namun, Faisal Rachman juga mencatat bahwa ekspor diproyeksikan mengalami penurunan secara bulanan, yang “mencerminkan pola musiman yang lazim terjadi setiap Januari.” Peningkatan ekspor nonmigas, terutama dari sektor industri pengolahan, menjadi penopang utama surplus ini.

Di sisi lain, impor diperkirakan melonjak 20 persen (yoy) pada Januari 2026. Lonjakan impor ini seringkali mencerminkan peningkatan aktivitas produksi di dalam negeri, yang diikuti dengan kebutuhan bahan baku dan barang modal yang lebih tinggi. Kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan dan peningkatan investasi juga diperkirakan akan mendorong permintaan impor yang lebih tinggi.

Faktor Pendorong dan Tantangan

Meskipun surplus diproyeksikan berlanjut, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memperkirakan surplus pada 2026 akan cenderung menyempit. Ia menjelaskan, “Kami memperkirakan surplus perdagangan masih ada namun cenderung menyempit karena impor berpotensi tumbuh lebih cepat daripada ekspor seiring agenda kebijakan yang makin berorientasi pertumbuhan dan kebutuhan input produksi.” Perlambatan ekonomi Tiongkok dan moderasi harga komoditas global juga menjadi faktor risiko yang dapat menahan kinerja ekspor.

Namun, pemerintah terus berupaya memperkuat posisi perdagangan Indonesia. Perjanjian Perdagangan Timbal Balik (Agreement on Reciprocal Trade/ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat, yang ditandatangani pada 19 Februari 2026, diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap kinerja ekspor. Melalui ART, Indonesia mendapatkan tarif nol persen untuk 1.819 produk unggulan, termasuk minyak kelapa sawit, kopi, kakao, dan tekstil (dengan mekanisme kuota tarif). Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso bahkan sempat mengungkapkan, “Nanti akan ada surprise untuk beberapa komoditas dengan ekspor besar ke AS.”

Menteri Perdagangan Budi Santoso juga optimistis terhadap daya saing produk Indonesia. Ia menargetkan transaksi sebesar US$17,5 miliar pada ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. “Di tengah dinamika global yang tidak mudah, neraca dagang kita tetap hijau. Ini menunjukkan produk Indonesia masih kompetitif dan pasar internasional masih memberi ruang pertumbuhan,” ujar Budi. Pemerintah juga mendorong percepatan ekspor melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, seperti Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Export Center.

Secara keseluruhan, kinerja ekonomi Indonesia mengawali 2026 dengan sejumlah indikator positif, termasuk penguatan sektor manufaktur yang ditunjukkan oleh Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang naik ke level 52,6 pada Januari 2026. Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menyatakan, “Perkembangan ini menjadi sinyal optimis, sekaligus menegaskan ketahanan serta daya saing eksternal Indonesia di tengah berbagai tantangan domestik maupun global.”