Neraca Dagang Indonesia Diproyeksikan Surplus US$2,76 Miliar pada Januari 2026

Author Image

Bejo

28 Februari 2026

neraca, dagang, indonesia, surplus, perdagangan

Neraca perdagangan Indonesia diperkirakan akan kembali mencatatkan surplus signifikan pada awal tahun 2026. Konsensus ekonom yang dihimpun Reuters memproyeksikan surplus perdagangan pada Januari 2026 akan melebar menjadi US$2,76 miliar. Angka ini menunjukkan peningkatan dari surplus Desember 2025 yang tercatat sebesar US$2,51 miliar.

Proyeksi positif ini melanjutkan tren surplus neraca perdagangan Indonesia yang telah berlangsung selama 68 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Pudji Ismartini, sebelumnya mengungkapkan bahwa surplus sepanjang Januari hingga November 2025 mencapai US$38,54 miliar. Sementara itu, data kumulatif sepanjang Januari-Desember 2025 menunjukkan surplus mencapai US$41,05 miliar.

Ekonom PT Bank Permata Tbk, Faisal Rachman, turut memperkirakan surplus perdagangan Januari 2026 akan berada di kisaran US$2,65 miliar. Menurutnya, ekspor pada Januari 2026 diproyeksikan terkontraksi 13,52% secara bulanan (MoM), mencerminkan pola musiman yang lazim terjadi setiap Januari dan normalisasi harga komoditas. Namun, secara tahunan (YoY), ekspor diperkirakan masih tumbuh positif sebesar 6,33%.

Di sisi lain, impor Indonesia juga diproyeksikan terkontraksi 15,53% secara bulanan pada Januari 2026, sejalan dengan pola musiman. Namun, secara tahunan, impor diperkirakan meningkat 12,24%, melampaui pertumbuhan ekspor. Faisal Rachman menjelaskan, pertumbuhan impor tahunan ini menandakan perbaikan permintaan domestik. Ia menambahkan, “Hal ini sejalan dengan agenda kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan, yang telah diterapkan sejak semester II-2025, dan memperkuat permintaan domestik.”

Meskipun awal tahun 2026 menunjukkan kinerja surplus yang solid, beberapa ekonom memprediksi surplus neraca perdagangan sepanjang tahun 2026 akan cenderung menyempit dibandingkan capaian kuat pada 2025. Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, menyatakan, “Kami memperkirakan surplus perdagangan masih ada namun cenderung menyempit karena impor berpotensi tumbuh lebih cepat daripada ekspor seiring agenda kebijakan yang makin berorientasi pertumbuhan dan kebutuhan input produksi.”

Peningkatan impor ini didorong oleh pemulihan permintaan domestik, investasi yang terus meningkat, serta kebutuhan input produksi untuk industri. Realisasi investasi yang melampaui target pada 2025 dan lonjakan kontribusi hilirisasi hingga 43,3% berpeluang menjaga permintaan impor barang modal dan peralatan pada 2026. Pemerintah sendiri menargetkan nilai ekspor pada 2026 mencapai US$315 miliar, yang berpotensi menjadi nilai ekspor tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

Selain neraca perdagangan, indikator ekonomi lain juga menunjukkan sinyal positif. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Januari 2026 tercatat ekspansif di level 52,6, naik dari 51,2 pada bulan sebelumnya. Penguatan ini didorong oleh peningkatan permintaan domestik dan kenaikan output produksi, yang turut meningkatkan optimisme pelaku usaha ke level tertinggi dalam sepuluh bulan terakhir. Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, menegaskan, “Perkembangan ini menjadi sinyal optimis, sekaligus menegaskan ketahanan serta daya saing eksternal Indonesia di tengah berbagai tantangan domestik maupun global.”

Namun, tantangan eksternal tetap perlu diwaspadai. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal, menilai kinerja ekspor 2026 akan lebih menantang akibat faktor global, termasuk potensi kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang semakin represif dan pelemahan harga komoditas utama seperti batu bara.