Neraca Perdagangan Indonesia Januari 2026 Surplus US$0,95 Miliar, AS Jadi Penopang Utama

neraca perdagangan indonesia, badan pusat statistik, amerika serikat, china, filipina

(BPS) mengumumkan bahwa pada Januari 2026 kembali mencatatkan surplus sebesar US$0,95 miliar. Capaian ini memperpanjang tren positif neraca perdagangan Indonesia selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Meskipun demikian, nilai surplus pada awal tahun ini tercatat lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada Desember 2025 yang mencapai US$2,51 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa surplus ini ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang kuat, meskipun impor mengalami peningkatan signifikan secara tahunan. Total nilai ekspor Indonesia pada Januari 2026 mencapai US$22,16 miliar, menunjukkan kenaikan 3,39 persen secara tahunan (year-on-year) dibandingkan Januari 2025. Sementara itu, nilai impor tercatat sebesar US$21,20 miliar, melonjak 18,21 persen secara tahunan.

Kinerja Nonmigas dan Migas

Surplus neraca perdagangan Januari 2026 didominasi oleh sektor nonmigas yang membukukan surplus sebesar US$3,22 miliar. Komoditas utama penyumbang surplus nonmigas antara lain lemak dan minyak hewan nabati (HS15) dengan surplus US$3,10 miliar, bahan bakar mineral (HS27) sebesar US$2,16 miliar, serta besi dan baja (HS72) sebesar US$1,51 miliar. Kenaikan ekspor nonmigas terutama didorong oleh sektor industri pengolahan yang tumbuh 8,19 persen secara tahunan.

Di sisi lain, neraca perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar US$2,27 miliar. Defisit ini terutama berasal dari komoditas minyak mentah, hasil minyak, dan gas. Peningkatan impor secara keseluruhan didorong oleh impor nonmigas, terutama pada kelompok bahan baku atau penolong yang naik 14,67 persen, serta barang modal yang meningkat 35,32 persen.

Mitra Dagang Utama: AS Penopang, China Defisit Terdalam

Berdasarkan negara mitra dagang, (AS) menjadi penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia pada Januari 2026. Neraca perdagangan dengan AS mencatat surplus sebesar US$1,55 miliar. “Negara penyumbang surplus untuk neraca perdagangan total yaitu Amerika Serikat,” kata Ateng Hartono. Ekspor ke AS didominasi oleh mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya, alas kaki, serta pakaian dan aksesorisnya.

Selain AS, India juga memberikan kontribusi surplus sebesar US$1,07 miliar, diikuti oleh dengan surplus US$0,69 miliar. Untuk kelompok nonmigas, surplus dengan AS mencapai US$1,81 miliar, India US$1,10 miliar, dan Filipina US$0,69 miliar.

Namun, Indonesia mencatat defisit terdalam dengan China, yang mencapai US$2,47 miliar. Defisit ini disebabkan oleh tingginya impor dari China yang mencapai US$7,89 miliar, sementara ekspor ke China hanya US$5,27 miliar. Komoditas impor utama dari China meliputi mesin dan peralatan mekanis, mesin dan perlengkapan elektrik, serta kendaraan dan bagiannya.

Selain China, Indonesia juga mengalami defisit perdagangan dengan Australia sebesar US$0,96 miliar dan Prancis sebesar US$0,47 miliar. Kondisi ini menunjukkan dinamika kompleks dalam hubungan perdagangan Indonesia dengan mitra-mitra utamanya di tengah fluktuasi ekonomi global.