Neraca perdagangan Indonesia kembali menunjukkan kinerja positif pada awal tahun 2026. Data terbaru mencatat surplus sebesar USD 2,52 miliar pada Januari 2026, melanjutkan tren surplus bulanan yang telah berlangsung sejak pertengahan tahun 2020.
Proyeksi Pertumbuhan Ekspor dan Impor
Meskipun demikian, angka surplus ini sedikit lebih rendah dibandingkan capaian Januari 2025 yang mencapai USD 3,45 miliar. Jajak pendapat Reuters terhadap 12 ekonom yang dilakukan antara 23 hingga 27 Februari 2026 memproyeksikan surplus perdagangan Januari akan mencapai USD 2,76 miliar, meningkat dari USD 2,52 miliar pada Desember 2025.
Dari sisi ekspor, jajak pendapat Reuters memproyeksikan kenaikan sebesar 11,07% secara tahunan (year-on-year) pada Januari 2026, sedikit melambat dari pertumbuhan 11,64% pada Desember 2025. Sementara itu, impor diperkirakan melonjak 13,23% secara tahunan pada Januari, lebih tinggi dari pertumbuhan 10,81% di bulan sebelumnya.
Konsensus Bloomberg juga mengindikasikan optimisme serupa, dengan proyeksi pertumbuhan ekspor Indonesia pada Januari 2026 mencapai 11,9% secara tahunan. Angka ini jauh lebih kuat dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang hanya 0,36%. Di sisi lain, impor Januari diproyeksikan melonjak 20% secara tahunan, hampir dua kali lipat laju ekspor, setelah Desember lalu terkontraksi 2,7%.
Faktor Pendorong dan Tantangan ke Depan
Lonjakan impor yang signifikan ini seringkali menjadi cerminan dari denyut produksi dalam negeri. Industri manufaktur dan sektor perdagangan diperkirakan mulai meningkatkan kapasitas dan mengisi kembali persediaan sejak Januari untuk mengantisipasi lonjakan permintaan pada periode Ramadan dan Idul Fitri yang jatuh pada Februari dan Maret. Hal ini menunjukkan optimisme pelaku usaha terhadap prospek konsumsi domestik jangka pendek.
Namun, di tengah pertumbuhan yang kuat ini, prospek neraca perdagangan Indonesia sepanjang tahun 2026 diperkirakan akan lebih menantang dan cenderung menyempit dibandingkan tahun 2025. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal, menyebutkan bahwa kinerja ekspor 2026 akan menghadapi tantangan lebih besar akibat faktor global yang semakin kompleks.
Beberapa tantangan tersebut meliputi potensi kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang semakin represif, pelemahan harga komoditas utama seperti batu bara, dan peningkatan inflasi produsen domestik yang dapat mendorong naiknya biaya produksi. Pemerintah sendiri menargetkan pertumbuhan ekspor sebesar 7,09% pada tahun 2026, sedikit lebih rendah dari target 2025 (7,1%), namun secara nominal nilai ekspor diproyeksikan mencapai USD 315 miliar, meningkat dari target USD 294 miliar pada 2025.
Indikator Ekonomi Pendukung
Selain data perdagangan, inflasi Indonesia juga menjadi perhatian. Inflasi diprediksi meningkat menjadi 4,31% pada Februari 2026, lebih tinggi dari angka Januari 2026 yang tercatat 3,55%. Angka ini berada di atas target Bank Indonesia yang menargetkan inflasi pada kisaran 1,5% hingga 3,5% untuk tahun 2026 dan 2027.
Di sisi lain, ketahanan eksternal Indonesia tetap solid. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2026 tercatat tinggi sebesar USD 154,6 miliar. Jumlah ini setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Bank Indonesia juga mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) pada level 4,75% di Januari 2026.