Bursa saham Jepang dibuka melemah tajam pada Senin, 2 Maret 2026, menyusul eskalasi krisis di Timur Tengah yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Indeks acuan Nikkei 225 merosot 1,8% pada awal perdagangan di Tokyo, sementara indeks Topix yang lebih luas melemah 2,2%. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga minyak mentah global.
Konflik Iran Memanas Pasca Kematian Pemimpin Tertinggi
Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta beberapa pejabat tinggi lainnya. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangkaian serangan rudal ke Israel dan beberapa negara di Teluk yang memiliki hubungan dengan AS, termasuk Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Selain itu, Iran juga dilaporkan menyerang beberapa kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi industri minyak dunia. Insiden ini memicu kekhawatiran serius akan gangguan pasokan minyak global, mengingat sekitar 20% hingga 30% konsumsi minyak dunia melewati selat strategis tersebut.
Harga Minyak Melonjak, Pasar Beralih ke Aset Aman
Dampak langsung dari eskalasi konflik ini terlihat jelas di pasar komoditas. Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 13% pada satu titik, menembus US$82 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 8% menjadi US$71,88 per barel pada 2 Maret 2026. Lonjakan harga energi ini mendorong investor untuk beralih ke aset-aset yang dianggap aman (safe haven), seperti dolar AS, emas, dan obligasi pemerintah. Harga emas sendiri dilaporkan melonjak 1,5%.
Di bursa Jepang, perusahaan eksportir, seperti produsen otomotif dan elektronik, menjadi salah satu penyumbang terbesar penurunan indeks, seiring dengan melemahnya saham perbankan. Sebaliknya, produsen minyak dan perusahaan pelayaran justru menguat di tengah kenaikan harga minyak.
Kekhawatiran Inflasi Global dan Respon Internasional
Para analis pasar memperingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan dapat memicu tekanan inflasi global yang lebih tinggi, menekan nilai tukar mata uang, dan memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral di berbagai negara. Pengamat pasar modal, Hendra Wardana, menilai bahwa memanasnya konflik di Timur Tengah telah mendorong pasar masuk ke fase risk-off, di mana investor global cenderung keluar dari aset berisiko.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa aksi militer terhadap Iran akan berlanjut dalam beberapa hari mendatang, bahkan memperingatkan bahwa konflik bisa berlangsung “empat minggu lagi”. Sementara itu, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengecam serangan militer tersebut dan menyerukan de-eskalasi serta penghentian permusuhan segera, memperingatkan risiko konflik yang lebih besar dan tak terkendali. Sebagai upaya untuk mengimbangi gangguan pasokan, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya dilaporkan sepakat untuk meningkatkan produksi sebesar 206 ribu barel per hari.