Delapan negara anggota aliansi OPEC+ telah menyepakati peningkatan produksi minyak mentah sebesar 206.000 barel per hari (bph) yang akan berlaku mulai April 2026. Keputusan ini diambil di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia secara signifikan dan kekhawatiran serius akan gangguan pasokan global.
Pertemuan virtual yang melibatkan Arab Saudi, Rusia, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman, yang dikenal sebagai ‘Delapan Sukarela’ (V8), pada Minggu (1/3/2026) menghasilkan kesepakatan untuk melanjutkan peningkatan produksi setelah sempat menunda penambahan pasokan sepanjang Januari hingga Maret 2026. Penundaan sebelumnya diputuskan pada November 2025 dengan alasan faktor musiman.
Pada Senin (2/3/2026), harga minyak mentah global melonjak tajam. Harga minyak mentah berjangka Brent sempat menyentuh level US$82,37 per barel sebelum ditutup di sekitar US$79,34 per barel, naik lebih dari 8 persen. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan serupa, mencapai sekitar US$72,43 per barel. Lonjakan ini dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang kemudian dibalas dengan serangan rudal oleh Iran, mengganggu pengiriman minyak dari Timur Tengah.
Kekhawatiran pasar semakin diperparah oleh ancaman Iran untuk mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati sekitar 20 persen konsumsi minyak global atau sekitar 15 juta bph setiap harinya. Gangguan di selat ini dapat secara substansial memangkas pasokan minyak yang diperdagangkan secara global.
Menanggapi keputusan OPEC+, analis pasar memberikan pandangan skeptis terhadap dampaknya dalam meredam gejolak harga. Jorge Leon, kepala analisis geopolitik di konsultan Rystad Energy, menyatakan bahwa peningkatan 206.000 bph tersebut “kemungkinan tidak akan menenangkan pasar — ini adalah sinyal, bukan solusi.” Ia menambahkan, “Anda dapat mengumumkan peningkatan produksi, tetapi jika kapal tanker menghadapi kendala di Hormuz, pasar fisik tetap ketat.”
Homayoun Falakshahi, seorang analis dari Kpler, juga berpendapat bahwa injeksi pasokan besar-besaran saat ini dinilai prematur sebelum dampak riil dari serangan terhadap aliran logistik energi dapat terkuantifikasi dengan jelas.
Peningkatan produksi ini merupakan bagian dari pengembalian bertahap atas pemangkasan sukarela sebesar 1,65 juta bph yang pertama kali diumumkan pada April 2023. Selain itu, OPEC+ juga sebelumnya telah melakukan pengurangan sukarela sebesar 2,2 juta bph pada November 2023.
Meskipun ada proyeksi dari beberapa lembaga seperti J.P. Morgan dan EIA yang memperkirakan harga minyak Brent akan rata-rata sekitar US$60 per barel pada tahun 2026 karena fundamental pasokan-permintaan yang lunak, risiko geopolitik tetap menjadi faktor penentu yang tidak terduga. Badan Energi Internasional (IEA) bahkan telah merevisi turun perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global untuk tahun 2026 sebesar 83.000 bph, mengutip kelemahan musiman.
OPEC+ menegaskan kembali komitmennya terhadap stabilitas pasar dan pendekatan yang hati-hati, dengan tetap mempertahankan fleksibilitas penuh untuk menyesuaikan produksi sesuai kebutuhan. Kelompok ini akan terus mengadakan pertemuan bulanan untuk meninjau kondisi pasar. Negara-negara anggota yang melakukan kelebihan produksi sejak Januari 2024 juga berkomitmen untuk sepenuhnya mengkompensasi volume berlebih tersebut. Pertemuan OPEC+ berikutnya dijadwalkan pada 5 April 2026.