Kelompok negara pengekspor minyak utama, OPEC+, dijadwalkan bertemu pada Minggu, 1 Maret 2026, untuk mempertimbangkan opsi peningkatan pasokan minyak yang lebih besar dari rencana semula. Pertemuan darurat ini dipicu oleh serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, yang telah memicu gejolak signifikan di pasar energi global.
Sebelumnya, delapan anggota kunci OPEC+ — Arab Saudi, Rusia, Uni Emirat Arab, Kazakhstan, Kuwait, Irak, Aljazair, dan Oman — telah sepakat untuk melanjutkan peningkatan produksi moderat sebesar 137.000 barel per hari mulai April 2026, mengakhiri jeda tiga bulan yang diberlakukan sejak Januari 2026 karena faktor musiman. Namun, delegasi OPEC+ kini mengindikasikan bahwa kelompok tersebut akan mempertimbangkan kenaikan pasokan yang lebih substansial di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Dampak Serangan Terhadap Pasar Minyak Global
Serangan mendadak terhadap Iran telah menyebabkan kekhawatiran serius akan gangguan pasokan minyak, mendorong harga minyak mentah melonjak. Harga minyak mentah Brent, patokan internasional, telah ditutup pada level tertinggi tujuh bulan di US$72,87 per barel pada Jumat lalu. Analis pasar memprediksi harga Brent dapat melonjak hingga US$80 per barel jika konflik berlanjut, bahkan berpotensi mencapai US$100 per barel jika Selat Hormuz terganggu.
Selat Hormuz, jalur pelayaran vital, merupakan koridor bagi sekitar 20 hingga 30 persen pasokan minyak global, atau sekitar 13 juta barel per hari pada tahun 2025. Laporan pada Sabtu mengindikasikan Iran sedang berupaya menutup selat tersebut, sebuah skenario terburuk yang dapat menyebabkan lonjakan harga minyak secara drastis. Sebagai langkah antisipasi, produsen utama seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah mempercepat ekspor minyak mereka.
Detail Serangan AS-Israel dan Respons Iran
Serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026, menargetkan beberapa kota di Iran, termasuk Teheran, Qom, Karaj, Kermanshah, Tabriz, dan Isfahan, di mana terdapat fasilitas nuklir utama. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa tujuan operasi militer ini adalah untuk “mempertahankan rakyat Amerika dengan menghilangkan ancaman yang akan segera terjadi dari rezim Iran” dan “menghancurkan program misilnya”, dengan tujuan yang lebih besar yaitu perubahan rezim. Dalam serangan tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas, sebuah kabar yang diumumkan oleh Presiden Trump.
Sebagai respons, Iran telah melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS di Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Arab Saudi. Kementerian Luar Negeri Iran mengecam serangan tersebut sebagai “tindakan agresi yang tidak beralasan dan ilegal”. Kantor berita semi-resmi Mehr juga melaporkan adanya ledakan di Pulau Kharg, terminal ekspor minyak utama Iran, meskipun detail lebih lanjut belum tersedia.
Reaksi Internasional dan Kekhawatiran Eskalasi
Serangan ini terjadi setelah berminggu-minggu ketegangan yang meningkat, di mana Presiden Trump berulang kali mengancam Iran terkait program nuklirnya dan di tengah krisis ekonomi serta protes nasional di Iran. Upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan nuklir baru antara AS dan Iran, yang baru saja berakhir pada Kamis lalu di Swiss, kini terancam.
Komunitas internasional bereaksi beragam. Rusia dan Tiongkok menyatakan dukungan untuk Iran, sementara Kanada, Australia, dan Ukraina mendukung AS dan Israel. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dan Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Volker Türk menyerukan pengekangan dan de-eskalasi, memperingatkan bahwa warga sipil selalu menjadi korban utama dalam konflik bersenjata. Inggris, Prancis, dan Jerman juga mendesak Iran untuk menghentikan serangan balasan di kawasan tersebut.