OpenAI, perusahaan di balik fenomena kecerdasan buatan (AI) ChatGPT, memproyeksikan pendapatan ambisius yang akan melampaui US$280 miliar atau setara dengan sekitar Rp4.722 triliun pada tahun 2030. Proyeksi ini muncul di tengah persiapan perusahaan untuk penawaran umum perdana (IPO) yang berpotensi mendorong valuasinya hingga mencapai US$1 triliun.
Target pendapatan fantastis sebesar US$280 miliar tersebut diprediksi akan terbagi hampir merata antara segmen konsumen dan korporasi. Angka ini menunjukkan keyakinan kuat OpenAI terhadap permintaan yang terus meningkat untuk teknologi AI generatif di berbagai sektor industri.
Performa finansial OpenAI menunjukkan tren kenaikan yang signifikan. Pada tahun 2025, pendapatan perusahaan tercatat mencapai US$13,1 miliar, melampaui target awal US$10 miliar. Bahkan, Chief Financial Officer OpenAI, Sarah Friar, melaporkan bahwa pendapatan tahunan perusahaan pada 2025 telah melampaui US$20 miliar. Angka ini merupakan lonjakan drastis dari pendapatan sekitar US$5,5 miliar hingga US$6 miliar yang dibukukan pada tahun 2024.
Untuk menopang pertumbuhan masif ini, OpenAI juga telah merevisi target belanja infrastruktur komputasinya. Perusahaan kini menargetkan pengeluaran sekitar US$600 miliar hingga tahun 2030, sebuah penurunan signifikan dari proyeksi sebelumnya yang mencapai US$1,4 triliun yang sempat diutarakan CEO Sam Altman. Penyesuaian ini bertujuan untuk menyelaraskan pengeluaran dengan proyeksi pertumbuhan pendapatan yang diharapkan. Meskipun demikian, OpenAI diperkirakan masih akan membakar kas tambahan sebesar US$112 miliar hingga 2030.
Di sisi pendanaan, OpenAI sedang dalam tahap finalisasi putaran pendanaan baru yang diperkirakan akan mengumpulkan lebih dari US$100 miliar. Sekitar 90% dari dana tersebut diharapkan berasal dari investor strategis, termasuk Nvidia yang berpotensi menyuntikkan hingga US$30 miliar, serta SoftBank, Amazon, dan Microsoft.
Putaran pendanaan ini diperkirakan akan menempatkan valuasi pra-uang (pre-money valuation) OpenAI di angka US$730 miliar. Dengan masuknya dana segar, valuasi keseluruhan perusahaan dapat melampaui US$850 miliar. Beberapa laporan bahkan menyebutkan bahwa IPO OpenAI, yang sedang dalam persiapan, dapat mendorong valuasinya hingga US$1 triliun. Sam Altman sendiri menyatakan bahwa IPO adalah “jalur yang paling mungkin” bagi perusahaan mengingat kebutuhan modal yang besar.
Pertumbuhan pengguna ChatGPT juga menjadi salah satu pendorong utama. Platform AI generatif ini kini memiliki lebih dari 900 juta pengguna aktif mingguan, kembali mencapai rekor tertinggi. Selain itu, OpenAI juga mulai menjajaki aliran pendapatan baru dengan menguji coba fitur iklan untuk beberapa penggunanya.