Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri secara resmi memulai Operasi Ketupat 2026 yang akan berlangsung selama dua pekan, mulai 13 hingga 26 Maret 2026. Operasi tahunan ini dirancang untuk memastikan keamanan, keselamatan, dan kenyamanan masyarakat selama arus mudik dan balik Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah. Penegasan ini disampaikan oleh Kakorlantas Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho, yang menekankan bahwa operasi ini bukan sekadar penanganan lalu lintas, melainkan sebuah operasi kemanusiaan yang lebih luas.
Irjen Agus Suryonugroho menegaskan, “Operasi Ketupat 2026 bukan hanya operasi di bidang lalu lintas, bukan berkaitan dengan mudik dan balik tetapi operasi ketupat adalah Polri hadir untuk menjaga momen sosial, baik spiritual, rangkaian bulan suci Ramadan, dan Idulfitri harus aman.” Dengan mengusung tema “Mudik Aman, Masyarakat Bahagia” sesuai arahan Kapolri, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama keberhasilan operasi ini.
Prediksi Arus Mudik dan Strategi Penguraian Kepadatan
Kementerian Perhubungan memprediksi sekitar 143,91 juta orang akan melakukan perjalanan mudik Lebaran 2026, sedikit menurun dari tahun sebelumnya. Namun, pemerintah tetap mewaspadai potensi lonjakan di luar prediksi, mengingat realisasi tahun 2025 yang melampaui survei awal. Puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada 18 hingga 20 Maret 2026 (H-3 hingga H-1 Lebaran), sementara arus balik diprediksi memuncak pada 24 hingga 28 Maret 2026 (H+3 hingga H+7 Lebaran).
Untuk mengantisipasi kepadatan, Korlantas Polri telah menyiapkan berbagai skenario rekayasa lalu lintas, termasuk sistem one-way dan contraflow yang akan diterapkan secara dinamis di jalur tol utama, khususnya Trans Jawa dan Trans Sumatera. Diproyeksikan, sekitar 3,6 juta kendaraan akan melintasi ruas tol Trans Jawa dan Sumatera. Selain itu, kebijakan Work From Anywhere (WFA) bagi ASN dan pekerja swasta pada 16, 17, 25, 26, dan 27 Maret 2026 diharapkan dapat membantu menyebarkan puncak arus mudik.
Empat Klaster Pengamanan Utama
Operasi Ketupat 2026 membagi fokus pengamanan ke dalam empat klaster utama. Pertama, pengamanan di jalur tol dan arteri yang mencakup manajemen lalu lintas, pengawasan rest area, dan mitigasi titik rawan kecelakaan. Kedua, pengamanan di tempat ibadah dan kawasan wisata untuk menjamin kelancaran akses dan keselamatan pengunjung. Ketiga, lokasi penyeberangan pelabuhan, dengan titik krusial Merak-Bakauheni. Terakhir, pengamanan di simpul transportasi publik seperti terminal, bandara, dan stasiun kereta api.
Kesiapan infrastruktur jalan juga menjadi prioritas. Kementerian Pekerjaan Umum menargetkan kondisi jalan nasional, terutama di Jalur Pantura, bebas lubang atau ‘Zero Potholes’ pada H-10 Lebaran. PT Jasa Marga turut mendukung dengan menyerahkan 101 unit kendaraan patroli kepada Korlantas Polri untuk pengamanan di ruas tol.
Fokus di Lampung: Sinkronisasi Merak-Bakauheni dan Antisipasi Cuaca Ekstrem
Khusus di wilayah Lampung, Polda Lampung dan Polda Banten telah melakukan sinkronisasi data dan skema pengamanan untuk mengantisipasi lonjakan arus pemudik di jalur penyeberangan Merak-Bakauheni. Kapolda Lampung Irjen Pol Helfi Assegaf menekankan pentingnya akurasi dan kecepatan data antarposko serta komunikasi real-time antara petugas di Merak dan Bakauheni. Pengawasan berbasis teknologi, seperti pemanfaatan CCTV di Pelabuhan Bakauheni yang terintegrasi dengan Command Center, menjadi prioritas.
Untuk mengurai kepadatan, disiapkan 76 kapal di lintasan Jawa-Sumatera, buffer zone tambahan, dan rekayasa lalu lintas berlapis. Bahkan, Pelabuhan PT Sumur Makmur Abadi (SMA) akan difungsikan sebagai pelabuhan pendukung untuk mempercepat distribusi kendaraan. Selain itu, lima titik rest area disiapkan di Lampung sebagai antisipasi kepadatan dan faktor cuaca ekstrem. Irwasda Polda Lampung Kombes Pol Yudi Hermawan juga telah mengeluarkan kebijakan peniadaan cuti bagi seluruh personel dari Operasi Cempaka hingga Operasi Ketupat untuk memastikan kesiapsiagaan maksimal.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa momen Lebaran 2026 masih berada dalam pengaruh musim hujan, dengan potensi cuaca ekstrem di jalur mudik utama, khususnya Jawa Barat dan Jawa Tengah. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga disiapkan secara situasional untuk menekan risiko bencana hidrometeorologi. Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi resmi dan mempersiapkan perjalanan dengan matang demi mudik yang aman dan nyaman.