OUE Commercial REIT (OUE REIT), entitas properti yang dikendalikan oleh taipan Indonesia Mochtar Riady dan keluarganya, tengah menjajaki potensi penjualan One Raffles Place, salah satu gedung pencakar langit ikonik di jantung distrik bisnis pusat (CBD) Singapura. Langkah strategis ini diperkirakan dapat mencapai nilai hingga S$2,4 miliar atau sekitar US$1,9 miliar, menyusul tingginya minat investor terhadap aset properti komersial di negara kota tersebut.
Konfirmasi mengenai penjajakan minat pasar ini disampaikan oleh manajer OUE REIT dalam sebuah pengajuan kepada Bursa Efek Singapura pada Jumat, 20 Februari 2026. Penjajakan ini menanggapi laporan awal oleh The Business Times pada 19 Februari 2026 yang mengindikasikan potensi divestasi aset perkantoran dan ritel yang strategis tersebut.
One Raffles Place merupakan kompleks properti terpadu yang mencakup menara perkantoran 62 lantai, blok 38 lantai, dan podium ritel enam lantai. Total luas kotor yang dapat disewakan mencapai lebih dari 65.000 meter persegi. Lokasinya yang premium di pusat CBD Raffles Place, ditambah dengan konektivitas langsung ke stasiun MRT Raffles Place, menjadikannya salah satu properti Grade A yang paling diminati.
Berdasarkan data per akhir Desember 2025, nilai saham efektif OUE REIT di One Raffles Place tercatat sebesar S$1,9 miliar. OUE REIT sendiri memiliki sekitar 67,95% saham efektif di properti ini melalui anak perusahaan tidak langsungnya, OUB Centre Ltd, yang memegang 81,54% saham. Sementara itu, United Overseas Bank (UOB) memiliki 18,46% saham langsung di One Raffles Place.
Untuk memfasilitasi proses penjualan ini, OUE REIT dan UOB telah menunjuk dua konsultan properti terkemuka, CBRE dan JLL, sebagai agen pemasaran bersama.
Potensi divestasi ini terjadi di tengah kondisi pasar properti komersial Singapura yang sangat kondusif. Volume investasi di sektor hotel, perkantoran, dan aset ritel di Singapura melonjak 18% menjadi S$33,9 miliar pada tahun 2025, menandai level tertinggi dalam delapan tahun terakhir. Peningkatan ini sebagian besar didorong oleh lingkungan suku bunga yang lebih rendah. Analis RHB Bank di Singapura, Vijay Natarajan, menyoroti adanya “permintaan investor institusional yang kuat untuk aset Grade A CBD berkualitas tinggi dengan pasokan baru yang terbatas dan permintaan yang solid.”
Prospek pasar properti Singapura untuk tahun 2026 juga terlihat cerah, dengan proyeksi pertumbuhan sewa kantor di CBD inti yang lebih cepat, didukung oleh permintaan yang kuat dan pasokan yang terbatas. Singapura juga diperkirakan akan menjadi salah satu dari tiga destinasi investasi teratas di Asia-Pasifik pada tahun 2026.
Meskipun demikian, manajer OUE REIT menegaskan kehati-hatian dalam pernyataannya. “Manajer ingin memberitahukan bahwa tidak ada jaminan bahwa perjanjian yang mengikat atau transaksi apa pun akan terwujud,” demikian bunyi pernyataan tersebut. Pihak manajemen akan “menentukan tindakan yang tepat pada waktunya dengan mempertimbangkan hasil penjajakan dan kepentingan terbaik semua pemegang unit OUE REIT.”
Langkah divestasi ini sejalan dengan strategi OUE REIT untuk mengoptimalkan portofolio dan memperkuat neraca keuangan. Sebelumnya, pada Desember 2024, OUE REIT telah mendivestasi properti Lippo Plaza di Shanghai senilai S$357,4 juta, dengan tujuan memfokuskan seluruh portofolionya di Singapura. Kinerja OUE REIT juga menunjukkan tren positif, dengan distribusi per unit (DPU) naik 10,6% pada semester kedua 2025, didukung oleh biaya pembiayaan yang lebih rendah. Tingkat hunian kantor mencapai 95,4% pada periode yang sama, dengan revisi sewa positif sebesar 9,1% untuk tahun fiskal 2025.