Hubungan antara Pakistan dan Afghanistan memanas tajam pada Jumat, 27 Februari 2026, setelah Pakistan melancarkan serangkaian serangan udara ke ibu kota Afghanistan, Kabul, serta provinsi Kandahar dan Paktia. Eskalasi ini terjadi hanya beberapa jam setelah Afghanistan mengklaim telah melakukan serangan lintas batas ke Pakistan.
Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, secara tegas menyatakan bahwa kedua negara kini berada dalam kondisi “perang terbuka”. Melalui platform media sosial X, Asif menulis, “Kesabaran kami sudah sampai ke batasnya. Sekarang ini adalah perang terbuka antara kami dan kamu.” Pernyataan ini menandai titik terendah dalam hubungan Islamabad dan Kabul sejak Taliban kembali berkuasa di Afghanistan pada Agustus 2021.
Warga Kabul dilaporkan terbangun pada Jumat dini hari oleh suara jet tempur dan setidaknya tiga ledakan keras, diikuti oleh sirene ambulans yang meraung-raung di tengah kegelapan kota. Juru bicara pemerintah Taliban, Zabihullah Mujahid, mengonfirmasi serangan Pakistan tersebut, namun awalnya menyatakan tidak ada laporan korban jiwa.
Serangan udara Pakistan pada 27 Februari ini merupakan respons terhadap serangan lintas batas yang dilancarkan militer Afghanistan pada Kamis malam, 26 Februari. Pihak Afghanistan mengklaim serangan mereka adalah balasan atas serangan udara mematikan yang dilakukan Pakistan di wilayah perbatasan Afghanistan pada Minggu, 22 Februari.
Pada serangan 22 Februari, Pakistan menargetkan tujuh lokasi di provinsi Nangarhar dan Paktika, yang diklaim sebagai tempat persembunyian militan Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) dan afiliasi ISIS. Namun, otoritas Taliban melaporkan bahwa serangan tersebut menewaskan sedikitnya 18 warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak. Seorang saksi mata di Nangarhar, Shahabuddin, mengungkapkan bahwa hanya lima dari 23 anggota keluarganya yang selamat. Laporan lain menyebutkan 17 orang tewas di Paktika, termasuk 12 anak-anak.
Kedua belah pihak saling mengklaim jumlah korban jiwa yang sangat berbeda dalam eskalasi terbaru. Juru bicara Perdana Menteri Pakistan, Mosharraf Zaidi, mengklaim bahwa serangan balasan Pakistan telah menewaskan 133 petempur Taliban Afghanistan dan melukai lebih dari 200 lainnya. Zaidi juga menyebut 27 pos militer Afghanistan hancur dan sembilan lainnya berhasil direbut, serta lebih dari 80 tank dan kendaraan lapis baja dihancurkan.
Sebaliknya, Kementerian Pertahanan Afghanistan melaporkan delapan tentara mereka tewas dan 11 lainnya terluka dalam serangan darat. Mereka juga mengklaim 55 tentara Pakistan tewas, beberapa di antaranya ditangkap hidup-hidup, dan 19 pos militer Pakistan dihancurkan. Selain itu, 13 warga sipil Afghanistan, termasuk wanita dan anak-anak, dilaporkan terluka akibat serangan mortir Pakistan yang menghantam kamp pengungsi di Nangarhar. Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, memberikan angka yang lebih rendah untuk pihak Pakistan, yakni dua tentara tewas dan tiga lainnya terluka.
Akar permasalahan konflik ini adalah tuduhan Pakistan bahwa Afghanistan melindungi militan TTP yang melancarkan serangan di wilayahnya, sebuah klaim yang berulang kali dibantah oleh pemerintah Taliban di Kabul. Garis Durand, perbatasan sepanjang 2.611 kilometer yang belum diakui secara resmi oleh Afghanistan, telah lama menjadi titik konflik.
Eskalasi ini semakin membahayakan gencatan senjata rapuh yang dimediasi oleh Qatar dan Turki sejak Oktober 2025. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres telah menyatakan keprihatinan mendalam dan mendesak kedua belah pihak untuk melindungi warga sipil sesuai hukum internasional serta menyelesaikan perbedaan melalui dialog. Sementara itu, otoritas Afghanistan telah mengevakuasi kamp pengungsi di dekat perbatasan Torkham setelah beberapa pengungsi terluka.