Pakistan Deklarasikan ‘Perang Terbuka’ Lawan Afghanistan di Tengah Eskalasi Konflik Lintas Batas

Author Image

Bejo

28 Februari 2026

pakistan, afghanistan, taliban, ttp, konflik perbatasan

Ketegangan antara dan memuncak menjadi deklarasi ‘perang terbuka’ oleh Islamabad pada Jumat, 27 Februari 2026. Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif, menegaskan bahwa kesabaran negaranya telah habis menyusul serangkaian serangan lintas batas dan tuduhan bahwa pemerintah di Kabul melindungi kelompok militan.

Deklarasi dramatis ini datang setelah Pakistan melancarkan serangan udara besar-besaran ke sejumlah kota di Afghanistan, termasuk ibu kota Kabul dan Kandahar, pada Jumat dini hari. Serangan ini disebut sebagai respons atas serangan lintas batas yang dilancarkan pasukan Afghanistan terhadap tentara Pakistan pada Kamis malam.

“Kesabaran kami telah mencapai batasnya. Sekarang ini adalah perang terbuka antara kami dan Anda,” tulis Asif di platform media sosial X, menandai eskalasi signifikan dalam hubungan kedua negara bertetangga tersebut. Operasi militer Pakistan ini diberi nama “Ghazab lil-Haq” atau “Kemarahan yang Benar”.

Pemerintah Pakistan berulang kali menuduh rezim Taliban di Afghanistan memberikan perlindungan bagi militan Tehrik-i-Taliban Pakistan (), kelompok yang bertanggung jawab atas serangkaian serangan teror mematikan di wilayah Pakistan. Islamabad mengklaim memiliki “bukti tak terbantahkan” bahwa serangan bom bunuh diri dan serangan terhadap aparat keamanan sejak akhir 2024 dirancang oleh militan yang berbasis di Afghanistan.

Namun, pemerintah Taliban Afghanistan dengan tegas membantah tuduhan tersebut, bersikeras bahwa pemberontakan TTP adalah masalah internal Pakistan. Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, menyatakan bahwa Afghanistan menginginkan “dialog” untuk menyelesaikan konflik yang sedang berlangsung. Taliban juga menuduh serangan udara Pakistan pada Minggu sebelumnya telah menghantam daerah sipil, termasuk rumah dan sekolah agama, yang menyebabkan sedikitnya 18 warga sipil tewas.

Eskalasi terbaru ini merupakan puncak dari ketegangan yang telah berlangsung berbulan-bulan. Pada Oktober 2025, bentrokan perbatasan yang mematikan menewaskan puluhan tentara, warga sipil, dan militan di kedua belah pihak. Meskipun gencatan senjata yang dimediasi Qatar sempat tercapai, putaran pembicaraan damai berikutnya di Istanbul pada November gagal menghasilkan kesepakatan yang langgeng.

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menegaskan kesiapan angkatan bersenjata negaranya. Ia menyatakan bahwa Pakistan “memiliki kemampuan penuh untuk menghancurkan setiap niat agresif” dan “tidak akan membiarkan perdamaian dan keamanan negara dikompromikan dalam keadaan apa pun.” Sementara itu, laporan awal mengenai korban jiwa masih simpang siur. Pakistan mengklaim serangan udaranya menewaskan 133 pejabat Taliban Afghanistan dan melukai lebih dari 200 orang. Sebaliknya, Afghanistan mengklaim pasukannya telah menewaskan 55 tentara Pakistan dan merebut beberapa pos militer. Pakistan membantah klaim penangkapan tentaranya.

Garis Durand, perbatasan sepanjang 2.670 kilometer yang memisahkan kedua negara, telah lama menjadi sumber sengketa. Afghanistan tidak pernah secara resmi mengakui garis ini sebagai perbatasan internasional, sementara Islamabad menganggapnya sebagai batas yang sah. Di tengah memanasnya situasi, Qatar telah menyerukan de-eskalasi dan membahas cara-cara untuk mengurangi ketegangan dengan kedua belah pihak. Amerika Serikat juga menyatakan terus memantau situasi dengan cermat.