Ketegangan antara Pakistan dan pemerintahan Taliban di Afghanistan memuncak pada Jumat, 27 Februari 2026, ketika Pakistan secara resmi menyatakan ‘perang terbuka’ setelah melancarkan serangan udara balasan di beberapa provinsi Afghanistan. Deklarasi ini menyusul serangkaian serangan teror mematikan di Pakistan yang dikaitkan dengan kelompok militan yang beroperasi dari wilayah Afghanistan, bahkan di tengah bulan suci Ramadan yang baru dimulai.
Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, menegaskan bahwa kesabaran negaranya telah habis. “Kesabaran kami telah mencapai batasnya. Sekarang ini adalah perang terbuka antara kami dan Anda,” tulis Asif di platform X, menuduh Taliban Afghanistan ‘mengekspor terorisme’.
Operasi Ghazab Lil Haq dan Klaim Korban
Pada Jumat dini hari, Pakistan melancarkan ‘Operasi Ghazab Lil Haq’ (Kemarahan yang Benar) dengan serangan udara di ibu kota Afghanistan, Kabul, serta provinsi Kandahar dan Paktia. Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, mengklaim bahwa serangan tersebut menewaskan sedikitnya 133 anggota Taliban Afghanistan dan melukai lebih dari 200 lainnya.
Namun, klaim tersebut dibantah oleh pihak Afghanistan. Kementerian Pertahanan Afghanistan menyatakan bahwa dalam operasi balasan mereka pada Kamis malam, 26 Februari 2026, sebanyak 55 tentara Pakistan tewas dan 11 lainnya terluka. Mereka juga mengklaim telah menghancurkan 19 pos militer Pakistan dan dua pangkalan. Bentrokan juga dilaporkan kembali terjadi di dekat perbatasan Torkham.
Rentetan Serangan Teror di Pakistan
Eskalasi terbaru ini dipicu oleh serangkaian serangan teror di Pakistan sepanjang Februari 2026. Pada 6 Februari, sebuah bom bunuh diri di masjid Syiah di Islamabad menewaskan 31 hingga 36 jemaah, yang diklaim oleh ISIS-K. Kemudian, pada 16 Februari, serangan bom bunuh diri kendaraan dan baku tembak di pos pemeriksaan keamanan di Distrik Bajaur, Khyber Pakhtunkhwa, menewaskan 11 personel keamanan dan seorang anak, serta melukai tujuh lainnya. Serangan ini diklaim oleh Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP).
Sebagai respons, Pakistan telah melancarkan serangan udara pada 21 dan 22 Februari di provinsi Nangarhar, Paktika, dan Khost di Afghanistan, menargetkan kamp-kamp TTP dan ISIS-K. Pakistan mengklaim 80 militan tewas, sementara Afghanistan melaporkan 18 warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak, tewas dalam serangan tersebut. Pada 19 Februari, Pakistan juga telah melayangkan protes keras kepada duta besar Afghanistan atas penggunaan wilayah Afghanistan oleh para pemberontak.
Tuduhan dan Penyangkalan
Pakistan secara konsisten menuduh pemerintahan Taliban Afghanistan melindungi para pemimpin dan pejuang Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) yang melancarkan serangan lintas batas ke wilayah Pakistan. Sejak Taliban Afghanistan kembali berkuasa pada pertengahan 2021, kekerasan militan di Pakistan telah meningkat secara signifikan, dengan lebih dari 3.500 personel keamanan dan warga sipil Pakistan tewas dalam serangan TTP.
Sebaliknya, Taliban Afghanistan menyangkal tuduhan tersebut, bersikeras bahwa kehadiran TTP di tanah Afghanistan tidak ada dan bahwa pemberontakan TTP adalah masalah internal Pakistan.
Reaksi Internasional dan Upaya Mediasi yang Gagal
Meningkatnya konflik ini telah menarik perhatian internasional. Tiongkok menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi di perbatasan Pakistan-Afghanistan dan menawarkan mediasi. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga mendesak kedua negara untuk menahan diri dan mematuhi hukum internasional, dengan penekanan khusus pada perlindungan warga sipil.
Sebelumnya, gencatan senjata rapuh yang dimediasi Qatar telah disepakati pada Oktober 2025 setelah bentrokan lintas batas paling mematikan dalam beberapa tahun. Namun, pembicaraan lanjutan di Istanbul gagal menghasilkan kesepakatan yang langgeng, meninggalkan hubungan kedua negara dalam ketegangan.