Palkin: “Infantino Lepas dari Realitas” di Tengah Wacana FIFA Izinkan Rusia Kembali

Author Image

Hodak

27 Februari 2026

Presiden menuai kritik tajam dari CEO , , menyusul pernyataannya pada awal Februari 2026 yang mengisyaratkan kemungkinan pencabutan larangan terhadap tim nasional dan klub Rusia dari kompetisi internasional. Palkin menyebut pandangan Infantino sebagai “lepas sepenuhnya dari realitas” di tengah penderitaan dan kehancuran yang terus melanda Ukraina akibat perang.

Infantino berpendapat bahwa larangan yang diberlakukan sejak Februari 2022 tersebut “tidak mencapai apa pun; itu hanya menciptakan lebih banyak frustrasi dan kebencian.” Ia meyakini bahwa “membiarkan anak perempuan dan laki-laki dari Rusia bermain sepak bola di bagian lain Eropa akan membantu.” Bahkan, Infantino mengusulkan agar FIFA mengabadikan aturan dalam statuta mereka yang menyatakan bahwa tidak ada negara yang boleh dilarang bermain sepak bola karena tindakan pemimpin politik mereka.

Menanggapi hal tersebut, Palkin secara terbuka mengundang Infantino untuk mengunjungi Ukraina dan menyaksikan langsung dampak perang yang menghancurkan. “Realitasnya adalah ini: kami telah bertahan dalam perang skala penuh selama empat tahun. Ratusan ribu orang telah terbunuh. Kota-kota telah hancur. Infrastruktur sipil, olahraga, energi, dan pemanas telah luluh lantak. Kehidupan jutaan orang telah hancur,” kata Palkin. Ia juga menantang Infantino untuk “berbicara dengan para pemain kami – dengan Dmytro Riznyk, yang kehilangan saudaranya dalam perang, dan dengan Denys Tvardovskyi, yang ayahnya juga terbunuh saat membela Ukraina.”

Kecaman serupa juga datang dari pejabat pemerintah Ukraina. Menteri Olahraga Ukraina, Matvii Bidnyi, melabeli komentar Infantino sebagai “tidak bertanggung jawab” dan “kekanak-kanakan.” Bidnyi menegaskan bahwa lebih dari 650 atlet dan pelatih Ukraina, termasuk lebih dari 100 pesepak bola, telah kehilangan nyawa mereka dalam konflik tersebut. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, menambahkan bahwa “679 anak perempuan dan laki-laki Ukraina tidak akan pernah bisa bermain sepak bola – Rusia membunuh mereka.”

Sebagai konteks, FIFA dan UEFA memberlakukan larangan terhadap klub dan tim nasional Rusia dari semua kompetisi pada Februari 2022, menyusul invasi skala penuh ke Ukraina. Larangan ini telah ditegakkan oleh Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS), dan hingga Februari 2026, Rusia masih dilarang berpartisipasi dalam kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026.

Kekecewaan Shakhtar Donetsk terhadap FIFA tidak hanya terbatas pada pernyataan Infantino. Klub tersebut juga telah berselisih dengan FIFA selama empat tahun terakhir terkait regulasi Lampiran 7 (Annex 7) dari Peraturan Status dan Transfer Pemain (RSTP). Regulasi ini, yang diperpanjang hingga 30 Juni 2026, memungkinkan pemain dan pelatih asing untuk secara sepihak menangguhkan kontrak mereka dengan klub-klub di Ukraina dan Rusia. Shakhtar mengklaim telah merugi sekitar €60 juta karena sekitar 15 pemain pergi tanpa menghasilkan biaya transfer. “Situasi yang terus-menerus dengan FIFA ini telah menguras kesabaran saya,” ujar Palkin.

Di sisi lain, Shakhtar Donetsk justru melayangkan pujian kepada UEFA dan Presiden Aleksander Čeferin. Direktur Olahraga Shakhtar, Dario Srna, memuji Čeferin yang selalu siap sedia membantu, bahkan menghubungi Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk memfasilitasi pergerakan pemain keluar masuk Ukraina. “Dia tidak bertindak seperti presiden UEFA, dia bertindak seperti manusia,” kata Srna, mengkontraskan dengan pandangannya terhadap FIFA. Čeferin sendiri tetap pada pendiriannya bahwa perang di Ukraina harus berakhir agar Rusia dapat diizinkan kembali ke kompetisi.

Sementara itu, pernyataan Infantino disambut baik oleh Kremlin. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa “Sudah saatnya memikirkan hal ini” dan bahwa pesepak bola Rusia “harus mendapatkan kembali hak-hak mereka sepenuhnya.” Rusia sendiri telah memainkan pertandingan persahabatan, sebagian besar melawan tim non-UEFA (kecuali Belarus dan Serbia), dan bahkan ada laporan pada November 2025 tentang “rencana liar” untuk menyelenggarakan Piala Dunia paralel pada tahun 2026 di Rusia, yang terbatas pada tim-tim yang gagal lolos ke ajang FIFA, sebagai upaya menarik perhatian terhadap sanksi.