Raksasa pizza global, Papa John’s International Inc., mengumumkan rencana restrukturisasi besar-besaran yang mencakup penutupan sekitar 300 gerai di Amerika Utara dan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 7% karyawan korporatnya. Keputusan ini disampaikan dalam laporan keuangan kuartal keempat tahun 2025 pada 26 Februari 2026, sebagai bagian dari upaya perusahaan untuk meningkatkan profitabilitas di tengah tantangan pasar yang ketat.
Dari total 300 gerai yang akan ditutup, sekitar 200 di antaranya diperkirakan akan berhenti beroperasi pada tahun 2026, sementara sisanya akan menyusul hingga akhir tahun 2027. Gerai-gerai yang ditargetkan untuk ditutup sebagian besar adalah lokasi waralaba yang berkinerja buruk, tidak memenuhi ekspektasi merek, atau tidak memiliki jalur yang jelas menuju peningkatan finansial yang berkelanjutan. Banyak dari gerai ini telah beroperasi lebih dari satu dekade dan menghasilkan pendapatan yang negatif.
Kinerja Keuangan yang Menantang di Pasar Domestik
Langkah drastis ini diambil menyusul kinerja keuangan yang beragam di tahun fiskal 2025. Papa John’s melaporkan total pendapatan sebesar $2,1 miliar, yang stagnan dibandingkan tahun sebelumnya. Penjualan sistemik restoran global tercatat $4,92 miliar, naik tipis 1% dari tahun sebelumnya, namun pertumbuhan ini hampir seluruhnya didorong oleh pasar internasional yang mengalami peningkatan penjualan sebesar 5%.
Sebaliknya, pasar Amerika Utara menunjukkan penurunan penjualan sebanding (comparable sales) sebesar 2%, dengan gerai milik perusahaan turun 3% dan gerai waralaba turun 2%. Laba bersih perusahaan juga merosot signifikan menjadi $32,1 juta pada tahun 2025, turun $52,1 juta dibandingkan tahun sebelumnya, atau anjlok 62% dari $84 juta pada tahun 2024. Pada kuartal keempat 2025, pendapatan Papa John’s sebesar $498,2 juta meleset dari ekspektasi analis, meskipun laba per saham (EPS) yang disesuaikan sedikit melampaui perkiraan.
Chief Financial Officer (CFO) dan Presiden Amerika Utara Papa John’s, Ravi Thanawala, menjelaskan bahwa penutupan gerai ini bertujuan untuk mengoptimalkan portofolio restoran dan meningkatkan profitabilitas waralaba. “Gerai-gerai ini sebagian besar adalah milik waralaba, berusia lebih dari satu dekade, dan menghasilkan AUV (Average Unit Volume) di bawah $600.000,” ujar Thanawala.
Strategi Transformasi dan Proyeksi Masa Depan
CEO Papa John’s, Todd Penegor, menyatakan bahwa tindakan ini merupakan bagian dari upaya transformasi yang lebih luas untuk meningkatkan kesehatan merek dan persepsi nilai di mata pelanggan. Selain penutupan gerai dan PHK, perusahaan juga menerapkan langkah-langkah pemotongan biaya lainnya, termasuk penyederhanaan menu dengan menghapus item yang kurang populer seperti sandwich Papadia dan Papa Bites pizza rolls. Perusahaan menargetkan penghematan biaya setidaknya $25 juta hingga tahun 2027, dengan sekitar $13 juta diharapkan terealisasi pada tahun 2026.
Meskipun melakukan penutupan, Papa John’s tidak sepenuhnya mundur dari pasar. Perusahaan berencana untuk membuka antara 40 hingga 50 restoran baru di Amerika Utara pada tahun 2026, serta 180 hingga 220 restoran baru di pasar internasional. Inovasi produk juga menjadi fokus utama, dengan peluncuran pizza kerak protein dan pizza pan baru yang diharapkan dapat menarik pelanggan baru. Selain itu, Papa John’s berinvestasi dalam teknologi, termasuk peningkatan aplikasi dengan agen pemesanan bertenaga AI dan program loyalitas.
Untuk tahun 2026, Papa John’s memproyeksikan penjualan sistemik global akan berkisar antara datar hingga penurunan satu digit rendah. Penjualan sebanding di Amerika Utara diperkirakan akan menurun 2% hingga 4%, sementara penjualan sebanding internasional diproyeksikan tumbuh 2% hingga 4%. Perusahaan juga mengantisipasi biaya restrukturisasi sekitar $16 juta hingga $23 juta pada tahun 2026 dan 2027. Tantangan yang dihadapi Papa John’s mencerminkan dinamika yang lebih luas di industri pizza, dengan persaingan ketat dari rival seperti Domino’s dan Pizza Hut, serta perubahan preferensi konsumen dan kenaikan biaya operasional.