Bursa saham Eropa menunjukkan momentum penguatan signifikan pada akhir Februari 2026, dengan indeks-indeks utama mencapai rekor tertinggi. Kinerja positif ini didorong oleh laporan keuangan perusahaan yang solid serta meredanya tekanan inflasi di Zona Euro, meskipun prospek ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian.
Indeks Saham Eropa Capai Puncak Baru
Pada perdagangan Rabu, 25 Februari 2026, pasar saham Eropa dibuka lebih tinggi, mencerminkan sentimen positif investor. Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup menguat 0,69% atau 4,33 poin menjadi 633,47, melampaui rekor penutupan sebelumnya. Indeks DAX30 Jerman naik 0,02% mencapai 25.027,88 poin, FTSE 100 Inggris meningkat 0,49% menjadi 10.732,85 poin, dan CAC40 Prancis mengalami kenaikan 0,25% ditutup pada 8.540,73 poin. Indeks Euro Stoxx 50 juga naik 0,51% menjadi 6.147,60 poin, sementara IBEX35 Spanyol dan FTSE MIB Italia masing-masing menguat 0,75% dan 0,60%.
Laba Perusahaan Mendorong Optimisme
Sektor keuangan menjadi pendorong utama penguatan ini, dengan saham perbankan melonjak 2,8%. Saham HSBC, bank terbesar di Eropa, melonjak hampir 8% setelah menaikkan target laba utama dan melaporkan kinerja laba tahunan yang melampaui ekspektasi. Selain itu, sejumlah perusahaan Eropa lainnya juga melaporkan hasil yang kuat. Eni SpA, raksasa energi Italia, mencatat laba kuartal IV-2025 yang melampaui perkiraan analis, didukung oleh peningkatan produksi. Nordex juga melonjak berkat panduan positif, dan E.ON menguat setelah meningkatkan rencana investasinya. Sektor pertambangan dan utilitas juga mencetak rekor tertinggi baru sejak 2008, menandakan reli pasar yang meluas.
Namun, tidak semua laporan keuangan menunjukkan hasil yang seragam. Saham produsen minuman Diageo anjlok 12,7% setelah memangkas proyeksi penjualan dan dividennya. Stellantis juga melaporkan kerugian tahunan pertamanya, meskipun sahamnya berhasil membalikkan kerugian. Sementara itu, Allianz merosot 0,3% setelah mengeluarkan panduan 2026 yang tidak memenuhi ekspektasi pasar.
Inflasi Zona Euro di Bawah Target ECB
Kabar baik datang dari data inflasi Zona Euro. Tingkat inflasi tahunan melambat menjadi 1,7% pada Januari 2026, turun dari 2,0% pada Desember 2025. Angka ini menandai level terendah sejak September 2024 dan merupakan kali pertama inflasi berada di bawah target 2% Bank Sentral Eropa (ECB) sejak Mei. Penurunan inflasi ini memperkuat harapan bahwa suku bunga akan tetap stabil untuk jangka waktu yang lebih lama.
ECB sendiri telah mempertahankan suku bunga utamanya tidak berubah pada pertemuan kebijakan moneter Desember 2025 dan Januari 2026, dengan suku bunga operasi pembiayaan utama tetap di 2,15% dan suku bunga fasilitas simpanan di 2,00%. Presiden ECB Christine Lagarde menyatakan bahwa inflasi Zona Euro diperkirakan akan stabil pada target 2% dalam jangka menengah, menegaskan bahwa bank sentral berada dalam “posisi yang baik” terkait inflasi dan kebijakan moneter. ECB akan terus mengikuti pendekatan yang bergantung pada data dan pertemuan demi pertemuan dalam menentukan sikap kebijakan moneter yang tepat.
Sentimen AI dan Tantangan Global
Sentimen pasar juga membaik seiring meredanya kekhawatiran akan disrupsi kecerdasan buatan (AI). Perusahaan rintisan AI asal Amerika Serikat, Anthropic, menjalin kemitraan dengan sejumlah perusahaan dan meluncurkan plug-in AI baru, yang dinilai sebagai sinyal bahwa bisnis tradisional mulai beradaptasi dengan kemajuan AI, bukan langsung terdampak disrupsi besar. Direktur Riset XTB, Kathleen Brooks, menyebut kabar ini sebagai “pesan kuat yang menenangkan investor, yang sebelumnya diliputi kekhawatiran eksistensial terhadap masa depan ekonomi global di era AI.”
Meski demikian, volatilitas masih membayangi pasar karena ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat. Presiden Donald Trump menekankan akan melanjutkan agenda tarifnya, dengan tarif impor global 10% yang sudah berlaku dan opsi peningkatan menjadi 15%. Selain itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pada 19 Februari 2026, menyatakan bahwa prospek ekonomi global melambat menjadi 3,2% pada 2026, dipengaruhi oleh ketidakpastian pasar dan tensi geopolitik. Ekonomi Eropa dan Jepang diperkirakan melambat karena ekspor yang turun dan permintaan yang belum kuat. Indeks sentimen konsumen GfK Jerman juga turun menjadi -24,7, lebih lemah dari ekspektasi.
Secara keseluruhan, Eropa menunjukkan ketahanan dan momentum positif yang kuat di awal 2026, didukung oleh fundamental korporasi dan kebijakan moneter yang efektif. Namun, dinamika global, terutama terkait kebijakan perdagangan dan perlambatan ekonomi di beberapa kawasan, tetap menjadi faktor yang perlu dicermati oleh investor.