Pasar Kripto Bergejolak Hebat Usai Serangan AS-Israel ke Iran, Bitcoin Sempat Anjlok Tajam

bitcoin, iran, amerika serikat, israel, pasar kripto

Pasar mata uang kripto global mengalami guncangan hebat menyusul serangan militer yang dilancarkan (AS) dan terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Insiden ini memicu aksi jual masif, menyebabkan harga (BTC) dan aset digital lainnya anjlok signifikan, serta menguapkan miliaran dolar AS dari kapitalisasi .

Pada hari serangan, Bitcoin sempat merosot tajam hingga 3,8 persen, mencapai level terendah di USD 63.038. Sumber lain mencatat koreksi Bitcoin mencapai 5,66 persen ke level USD 63.840, bahkan sempat menyentuh USD 63.245. Tidak hanya Bitcoin, Ether (ETH) sebagai token terbesar kedua juga terkoreksi dalam, dengan penurunan 4,5 persen ke USD 1.835 atau 7,77 persen ke USD 1.870. Data dari CoinGecko menunjukkan, sekitar USD 128 miliar nilai pasar aset digital menguap segera setelah kabar serangan tersebut menyebar.

Ketegangan Geopolitik dan Pernyataan Presiden Trump

Serangan gabungan AS-Israel ini dilaporkan menargetkan beberapa kota di Iran, termasuk Teheran, Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah. Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi operasi militer tersebut melalui unggahan di platform Truth Social miliknya. Ia menyatakan tujuan serangan itu adalah untuk membela rakyat Amerika dengan melenyapkan ancaman nyata dari rezim Iran. Trump juga menyerukan kepada rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan mereka setelah kampanye militer berakhir.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan rudal ke berbagai lokasi, termasuk Israel, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain, serta mengancam akan menyerang pangkalan-pangkalan yang terkait dengan AS di Irak. Eskalasi ini memperburuk ketidakpastian di kawasan Timur Tengah dan memicu kekhawatiran akan konflik yang lebih luas.

Bitcoin sebagai ‘Katup Tekanan’ dan Pemulihan Parsial

Analis pasar mencatat bahwa Bitcoin seringkali berperan sebagai ‘katup tekanan likuiditas’ selama peristiwa geopolitik kritis yang terjadi di akhir pekan. Karena diperdagangkan 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu, Bitcoin menyerap aksi jual yang dalam kondisi normal akan terjadi di pasar tradisional. Justin d’Anethan, kepala riset di Arctic Digital, menilai dampak awal terhadap token tersebut tidak sedrastis yang mungkin diperkirakan sebagian pihak, mengingat banyak posisi leverage yang sudah tersapu sebelumnya.

Pada Minggu, 1 Maret 2026, pasar kripto menunjukkan tanda-tanda pemulihan parsial. Bitcoin sempat menguat hingga 2,2 persen, mencapai level USD 68.196, setelah beredar kabar mengenai wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Namun, penguatan ini tidak bertahan lama, dan harga BTC kembali melemah ke kisaran USD 65.300 atau USD 66.500. Ether juga mengalami kenaikan 4,58 persen, melampaui angka USD 2.000. Meskipun ada pemulihan, ketidakpastian masih membayangi, dengan para pedagang menunggu pembukaan pasar ekuitas AS dan dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) Bitcoin pada hari Senin untuk penentuan harga yang sesungguhnya.

Sentimen Investor dan Prospek Pasar

Pelaku pasar masih mencari titik terendah harga Bitcoin, dan kenaikan yang terjadi dinilai belum cukup kuat karena kepercayaan investor masih terguncang oleh eskalasi geopolitik. Di pasar derivatif, sekitar USD 1,9 miliar opsi jual (put options) Bitcoin terkonsentrasi pada harga kesepakatan USD 60.000 di Deribit, menunjukkan tingginya permintaan lindung nilai terhadap potensi penurunan harga.

Secara historis, Bitcoin masih dipersepsikan sebagai aset berisiko (risk asset) oleh investor, bukan sebagai aset aman (safe haven) seperti emas, terutama pada fase awal krisis geopolitik besar. Penurunan ini juga memperpanjang tren jual yang telah berlangsung berbulan-bulan di pasar kripto, di mana Bitcoin telah turun lebih dari 50 persen dari puncaknya di atas USD 125.000 pada Oktober 2025.

Reaksi Indonesia

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) menyatakan keprihatinannya atas meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah dan menyerukan semua pihak untuk menahan diri serta mengutamakan dialog dan diplomasi. Pemerintah Indonesia, melalui Presiden, bahkan menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi dialog dan bersedia bertolak ke Teheran untuk mediasi jika disetujui kedua belah pihak. Anggota Komisi I DPR RI, Sukamta, juga menilai serangan ini serius dan berpotensi mengganggu proses diplomasi, bahkan dapat meluas menjadi perang regional.