Pasar aset kripto global mengalami gejolak signifikan pada awal Maret 2026, menyusul eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Harga Bitcoin (BTC), mata uang kripto terbesar di dunia, sempat anjlok tajam sebelum menunjukkan pemulihan cepat setelah kabar kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel pada 1 Maret 2026.
Peristiwa dramatis ini memicu reaksi berantai di pasar keuangan global, termasuk aset digital yang beroperasi 24 jam sehari. Pada awalnya, pasar kripto global terguncang hebat, dengan total kapitalisasi pasar yang sempat menyusut sekitar US$128 miliar. Bitcoin tertekan hingga di bawah level US$64.000, bahkan menyentuh US$63.000.
Eskalasi Konflik dan Dampak Kemanusiaan
Kematian Ayatollah Ali Khamenei terjadi dalam serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 1 Maret 2026. Sebagai respons, Iran segera melancarkan serangan balasan ke sejumlah wilayah, termasuk Israel, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain. Teheran juga mengancam akan memperluas serangannya ke pangkalan militer yang berafiliasi dengan Amerika Serikat di Irak.
Konflik ini telah menelan korban jiwa dan kerusakan parah. Ratusan orang dilaporkan tewas dan terluka di Iran, yang menjadi wilayah paling terdampak. Tiga tentara Amerika Serikat tewas dan lima lainnya luka parah, sementara di Uni Emirat Arab tercatat tiga korban tewas dan 58 luka-luka. Kuwait juga melaporkan satu korban tewas dan 32 luka-luka. Di Israel, serangan balasan Iran menewaskan sedikitnya enam orang. Selain itu, fasilitas umum seperti sekolah dan rumah sakit di Iran mengalami kerusakan luas.
Volatilitas Pasar Kripto: Anjlok Lalu Pulih
Setelah penurunan awal, harga Bitcoin menunjukkan pemulihan yang signifikan. Data CoinMarketCap menunjukkan Bitcoin melonjak sekitar 2 persen dalam 24 jam, dari US$65.000 hingga sempat menyentuh titik tertinggi harian di US$68.000. Menurut BlockBeats, Bitcoin melonjak 2,21% mencapai US$68.196 sebelum stabil di sekitar US$67.300. Pada Senin, 2 Maret 2026, harga Bitcoin terkoreksi dan diperdagangkan di kisaran US$66.831. Aset kripto terbesar kedua, Ethereum (ETH), juga menunjukkan pemulihan, kembali ke level US$2.000 setelah sebelumnya diperdagangkan di bawah US$1.900.
Meskipun ada pemulihan, sentimen pasar masih diliputi ketidakpastian. Indeks Fear and Greed kripto terpantau berada di skor 10 dari 100, menandakan “ketakutan ekstrem” di kalangan investor. CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menjelaskan bahwa pelemahan ini dipicu oleh sentimen risk-off global akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ia menambahkan bahwa penurunan ini bukan disebabkan oleh likuidasi besar, melainkan minimnya minat beli yang cukup kuat untuk menahan tekanan jual di tengah sentimen makro yang negatif.
Analisis dan Prospek Pasar
Para analis menyoroti peran Bitcoin sebagai “katup tekanan likuiditas” selama eskalasi konflik geopolitik, terutama di akhir pekan ketika pasar tradisional tutup. Namun, Calvin Kizana dari Tokocrypto berpendapat bahwa kripto belum sepenuhnya berfungsi sebagai safe haven klasik seperti emas. Ia menyarankan investor untuk mengambil pendekatan wait and see dan mengedepankan manajemen risiko.
Di sisi lain, analis on-chain XWIN Research Japan di CryptoQuant menilai bahwa lonjakan ketegangan geopolitik hanya memicu volatilitas jangka pendek pada Bitcoin, tanpa mengubah arah struktural jangka panjangnya. Mereka menekankan bahwa likuiditas dan regulasi, bukan perang, yang menentukan arah struktural Bitcoin. Pasar derivatif juga menunjukkan volatilitas signifikan, dengan volume penjualan derivatif Bitcoin melonjak sekitar US$1,8 miliar dalam satu jam. Posisi put options Bitcoin terkonsentrasi pada harga kesepakatan US$60.000 di Deribit, mengindikasikan kesiapan pasar terhadap potensi penurunan harga lebih lanjut.
Selain itu, konflik ini juga memicu lonjakan harga minyak mentah, dengan Brent mendekati US$80 per barel dan WTI menguat 7-8 persen, akibat kekhawatiran gangguan pasokan melalui Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump sendiri menegaskan bahwa Amerika Serikat telah menenggelamkan sembilan kapal angkatan laut Iran dan “sebagian besar menghancurkan” markas besar angkatan lautnya, serta berjanji untuk terus membombardir Iran hingga tujuannya tercapai.