Pasar Minyak Bergejolak Hebat Usai Serangan AS-Israel ke Iran, Ancaman Selat Hormuz Mengintai

iran, amerika serikat, selat hormuz, harga minyak, donald trump

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah serangan gabungan (AS) dan Israel terhadap yang terjadi pada akhir Februari 2026. Insiden ini segera memicu gejolak signifikan di pasar minyak global, dengan harga komoditas energi melonjak tajam dan memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan yang lebih luas.

Pada penutupan perdagangan Jumat, 27 Februari 2026, mentah Brent tercatat di kisaran US$72,87 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$67,02 per barel. Namun, setelah serangan tersebut, harga Brent melonjak hingga mendekati US$80 per barel di pasar over-the-counter pada Minggu, 1 Maret 2026. Analis memperkirakan lonjakan harga bisa mencapai US$5 hingga US$20 per barel saat perdagangan dibuka kembali, didorong oleh premi risiko geopolitik yang kini melekat pada harga minyak.

Selat Hormuz: Nadi Energi Dunia di Ambang Krisis

Fokus utama kekhawatiran pasar tertuju pada , jalur pelayaran sempit namun krusial yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan Samudra Hindia. Sekitar seperlima hingga sepertiga dari total pasokan minyak dan gas global setiap hari melintasi selat ini, menjadikannya nadi vital bagi keamanan energi internasional.

Iran, yang berbatasan langsung dengan Selat Hormuz, memiliki posisi strategis untuk mengganggu lalu lintas kapal tanker. Laporan terbaru menyebutkan bahwa parlemen Iran mendorong pemerintah untuk menutup selat tersebut sebagai respons atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan gabungan AS-Israel. Meskipun belum ada pengumuman resmi dari Teheran, lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan menurun tajam, dengan beberapa kapal tanker berbalik arah atau menunggu di sekitar pintu masuk selat. Kementerian pelayaran Yunani bahkan telah menyarankan kapal-kapal untuk menghindari kawasan tersebut.

Mantan penasihat energi Gedung Putih di era Presiden George W. Bush, Bob McNally, memperingatkan bahwa situasi ini “sangat serius” dan pasar selama ini cenderung meremehkan potensi gangguan pasokan di kawasan tersebut. Jika Selat Hormuz benar-benar ditutup atau menjadi tidak aman bagi lalu lintas komersial, para analis memproyeksikan harga minyak mentah Brent dapat melonjak di atas US$100 per barel, bahkan mencapai US$120 hingga US$150 per barel. Penutupan ini berpotensi menghilangkan sekitar 8 hingga 10 juta barel per hari pasokan minyak global dari pasar, dengan jalur pipa alternatif dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dinilai tidak cukup untuk menggantikan volume tersebut.

Dampak Global dan Ancaman Resesi Ekonomi

Eskalasi konflik ini tidak hanya berdampak pada harga minyak, tetapi juga memicu kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global dan risiko resesi. Lonjakan harga energi secara historis berkorelasi dengan tekanan inflasi global, kenaikan biaya logistik, dan penurunan daya beli konsumen. Bank sentral dunia kemungkinan akan menahan suku bunga tinggi lebih lama untuk mengendalikan tekanan harga, yang pada gilirannya dapat melemahkan investasi dan konsumsi.

Bagi Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak, dampak dari lonjakan harga ini akan terasa langsung. Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak mentah akan memperbesar beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan listrik, memaksa pemerintah untuk merealokasi anggaran pembangunan. Selain itu, tekanan global ini biasanya diikuti oleh pelemahan nilai tukar rupiah, yang berpotensi mencapai Rp17.000 per dolar AS, memicu inflasi barang impor dan menekan daya beli masyarakat.

Proyeksi Pasar di Tengah Ketidakpastian

Sebelum eskalasi ini, Goldman Sachs pada November 2025 sempat memproyeksikan penurunan harga minyak hingga tahun 2026 karena lonjakan produksi global yang diperkirakan akan menciptakan surplus pasokan. Namun, risiko geopolitik yang meningkat telah mengubah proyeksi tersebut. Survei terhadap 34 ekonom dan analis pada Februari 2026 menunjukkan kenaikan perkiraan rata-rata harga Brent menjadi US$63,85 per barel dan WTI menjadi US$60,38 per barel untuk tahun ini.

Norbert Rucker, Kepala Ekonom dan Riset Next Generation di Julius Baer, menyatakan bahwa harga minyak saat ini ditopang oleh premi risiko geopolitik yang signifikan. Namun, ia menambahkan bahwa ketegangan dengan Iran berpotensi hanya bersifat sementara, dan perhatian pasar pada akhirnya akan kembali pada persoalan kelebihan pasokan yang dapat memberi tekanan jangka panjang. Meskipun demikian, dalam jangka pendek, pasar tetap waspada terhadap setiap perkembangan di Timur Tengah yang dapat memicu volatilitas lebih lanjut.