Uni Emirat Arab (UEA) telah mengumumkan penutupan dua pasar saham utamanya, Bursa Efek Abu Dhabi (ADX) dan Pasar Keuangan Dubai (DFM), mulai Senin, 2 Maret 2026, hingga pemberitahuan lebih lanjut. Keputusan drastis ini diambil menyusul eskalasi ketegangan regional yang signifikan, dipicu oleh serangan balasan Iran terhadap wilayah Teluk setelah tindakan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Awalnya, penutupan pasar saham direncanakan selama dua hari, yakni pada 2 dan 3 Maret 2026. Namun, Otoritas Pasar Modal UEA (UAE Capital Markets Authority) kemudian merevisi keputusan tersebut, menyatakan bahwa penutupan akan berlaku “hingga pemberitahuan lebih lanjut” untuk memberikan waktu bagi otoritas dan pelaku pasar guna menilai dampak dari peristiwa terkini terhadap infrastruktur keuangan dan kepercayaan investor.
Serangan rudal dan drone Iran dilaporkan menghantam beberapa lokasi di UEA, termasuk bandara, pelabuhan, dan area perumahan, yang mengakibatkan tiga korban jiwa di negara tersebut. Ledakan juga terdengar di kota-kota besar seperti Dubai dan Abu Dhabi. Insiden ini merupakan respons Iran terhadap serangan militer yang dilancarkan oleh AS dan Israel, memicu gelombang gangguan bisnis terluas di kawasan Teluk sejak pandemi.
Dampak dari ketegangan geopolitik ini tidak hanya terasa di UEA. Pasar saham di negara-negara Teluk lainnya yang tetap beroperasi pada Minggu, 1 Maret 2026, mengalami penurunan tajam. Indeks acuan Arab Saudi anjlok lebih dari 4% saat pembukaan dan ditutup 2,2% lebih rendah, sementara Oman turun 1,4% dan Mesir kehilangan 2,5%. Bursa saham Kuwait bahkan mengambil langkah luar biasa dengan menangguhkan perdagangan sepenuhnya hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah melonjak signifikan. Harga Brent naik sekitar 8% pada Senin, menandai kenaikan hampir 30% sepanjang tahun ini. Emas dan obligasi pemerintah AS juga menjadi incaran investor sebagai aset safe-haven di tengah ketidakpastian. Kekhawatiran akan potensi penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati sekitar 20% ekspor minyak global, semakin memperburuk prospek pasokan energi dan memicu kenaikan harga.
Menanggapi serangan tersebut, UEA juga mengambil langkah diplomatik dengan menarik duta besarnya dari Teheran dan menutup kedutaannya di Iran. Vijay Valecha, Chief Investment Officer Century Financial, menyatakan bahwa meskipun harga minyak yang tinggi dapat memberikan keuntungan fiskal bagi produsen Teluk seperti Arab Saudi dan Qatar, sektor perdagangan, logistik, dan pariwisata, khususnya di UEA, akan menghadapi tekanan besar jika sentimen regional memburuk. Mohammed Ali Yasin, CEO Ghaf Benefits, menambahkan bahwa pasar akan tetap rapuh dan volatil selama tindakan militer masih berlangsung.
Penutupan pasar saham ini mencerminkan upaya otoritas UEA untuk menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi investor dari gejolak yang tidak terkendali akibat konflik yang semakin memanas di Timur Tengah.