Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan pergerakan fluktuatif pasca libur panjang perayaan Tahun Baru Imlek 2026. Setelah dibuka menguat signifikan pada Rabu, 18 Februari 2026, indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) ini kemudian terkoreksi pada Kamis, 19 Februari 2026, menyusul keputusan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga acuannya. Sentimen pasar cenderung bervariasi menjelang akhir pekan, dengan kekhawatiran geopolitik global turut membayangi.
IHSG Melonjak di Awal Pekan Pasca Imlek
Pada pembukaan perdagangan Rabu, 18 Februari 2026, IHSG langsung tancap gas di zona hijau, berada di posisi 8.235,808. Indeks kemudian menguat 80,769 poin atau setara 0,98 persen ke level 8.293,040 pada pukul 09.20 WIB. Kinerja positif ini berlanjut hingga penutupan perdagangan, di mana IHSG melonjak 1,19% atau 97,05 poin, parkir di level 8.310,22.
Penguatan signifikan ini didorong oleh sentimen positif dari dalam dan luar negeri, termasuk kinerja sektor unggulan serta optimisme pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi domestik. Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyoroti bahwa sektor energi dan consumer cyclical menjadi motor penggerak utama penguatan IHSG. Senada, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menambahkan bahwa optimisme pasar pasca libur panjang, ekspektasi terhadap kondisi ekonomi yang solid, antisipasi kinerja emiten, serta potensi pembagian dividen menjadi faktor pendorong utama.
Data perdagangan BEI mencatat total volume transaksi saham mencapai 51,91 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 23,62 triliun. Sebanyak 454 saham ditutup menguat, 216 saham melemah, dan 145 saham stagnan, menunjukkan dominasi sentimen positif. Kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp15.066,702 triliun.
Terkoreksi Setelah Keputusan Suku Bunga BI
Namun, euforia penguatan tersebut tidak bertahan lama. Pada perdagangan Kamis, 19 Februari 2026, IHSG ditutup melemah 0,43% ke level 8.274,08. Pelemahan ini terjadi setelah Bank Indonesia (BI) mengumumkan keputusan untuk menahan suku bunga acuan BI-rate di level 4,75% untuk kelima kalinya secara berturut-turut. Kebijakan ini sejalan dengan upaya BI untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang cenderung melemah di level Rp 16.894 per dollar AS, serta menjaga inflasi tetap dalam kisaran target 1,5%-3,5% dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Sektor teknologi mencatatkan koreksi terdalam sebesar 1,16%, diikuti sektor keuangan yang melemah 1,03%, dan properti yang turun 0,70%. Di sisi lain, sektor barang baku justru membukukan penguatan terbesar sebesar 2,85%, diikuti sektor transportasi 1,92% dan energi 0,82%. Aktivitas perdagangan pada hari itu mencatat volume transaksi 53,30 miliar saham dengan nilai Rp 26,24 triliun.
Sentimen negatif juga datang dari kekhawatiran investor akan fiskal Indonesia, serta potensi penurunan peringkat ekuitas dan peringkat kredit oleh MSCI dan Moody’s. Selain itu, laju inflasi pada Januari 2026 mencapai level tertinggi sejak Mei 2023 di angka 3,55% secara tahunan (YoY).
Proyeksi dan Sentimen Mendatang
Menjelang akhir pekan, pada Jumat, 20 Februari 2026, IHSG diprediksi akan cenderung bergerak mixed atau konsolidasi. Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak pada kisaran 8.200-8.300. Sentimen negatif antara lain berasal dari melemahnya indeks bursa Asia akibat memanasnya tensi geopolitik antara AS dan Iran, di tengah minimnya faktor positif baru dari domestik. Selain itu, defisit neraca transaksi berjalan Indonesia yang melebar menjadi US$ 2,54 miliar pada kuartal IV-2025 juga menjadi perhatian investor.
Untuk jangka panjang, beberapa analis masih optimistis terhadap prospek IHSG di tahun 2026. VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, memprediksi IHSG berpotensi menembus level 9.000 pada tahun ini, bahkan ada yang meyakini bisa mencapai 10.500. Faktor pendorongnya meliputi pertumbuhan investor domestik yang mencapai 19,19 juta Single Investor Identification (SID), peningkatan jumlah Initial Public Offering (IPO), serta potensi pelonggaran suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (25-50 bps) dan The Fed (hingga 100 bps).
Keselarasan kebijakan moneter dan fiskal juga disebut sebagai kunci utama yang akan mendukung target IHSG. Namun, perlu diingat bahwa pergerakan IHSG cenderung lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga dibandingkan kinerja laba emiten. Investor juga akan mencermati rilis data Current Account kuartal IV-2025 serta kelanjutan earning season kuartal IV-2025.