Pasokan LNG Asia Terancam di Tengah Konflik Timur Tengah, Harga Meroket

lng, qatarenergy, selat hormuz, krisis energi, asia

Pasokan gas alam cair () di menghadapi tekanan signifikan pada Maret 2026, menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang berdampak langsung pada jalur pelayaran vital dan fasilitas produksi utama. Situasi ini memicu lonjakan harga yang tajam dan memaksa negara-negara importir di kawasan untuk mencari alternatif di tengah ketidakpastian global.

Krisis dipicu oleh penutupan efektif , jalur pelayaran krusial yang menghubungkan produsen energi Teluk dengan pasar global, serta deklarasi force majeure oleh . Qatar, yang pada tahun 2025 merupakan eksportir LNG terbesar kedua di dunia, menghentikan produksi dari fasilitas Ras Laffan. Gangguan ini secara instan menghilangkan sekitar 20% pasokan LNG global dari pasar. Menteri Energi Qatar mengindikasikan bahwa proses memulai kembali dan melanjutkan pasokan dapat memakan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.

Harga LNG Melonjak, Pembeli Asia Panik

Akibatnya, harga spot LNG di Asia mengalami lonjakan terbesar sejak tahun 2023, mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir di angka US$25,40 per juta British thermal unit (MMBtu), sebelum sedikit mereda menjadi US$23,80 per MMBtu. Secara keseluruhan, harga gas alam di Eropa dan Asia telah melonjak 50% dibandingkan tahun lalu. Pasar berjangka mengindikasikan bahwa harga gas rata-rata di kedua kawasan tersebut bisa menjadi yang tertinggi sejak tahun 2022.

Keterbatasan jumlah kapal yang tersedia dan kapasitas likuefaksi cadangan yang minim semakin memperparah situasi, membatasi pengiriman kargo LNG segera ke kedua wilayah tersebut. Selain itu, biaya pengiriman LNG juga meroket, terutama di pasar Pasifik, karena waktu tempuh yang lebih lama dan kepadatan pelabuhan.

Negara Asia Paling Rentan Terdampak

Beberapa negara di Asia sangat rentan terhadap gangguan pasokan ini. Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura menjadi yang paling terpapar terhadap hilangnya pasokan LNG kontrak dari Qatar, mengingat Qatar menyumbang 15-35% dari total pasokan gas mereka. Negara-negara Asia Selatan seperti Bangladesh dan Pakistan juga sangat bergantung, dengan LNG Qatar mencakup 45-99% dari impor LNG mereka. Singapura, khususnya, menghasilkan 90% listriknya dari gas alam, menjadikannya sangat bergantung pada impor.

Menanggapi krisis ini, India, salah satu pembeli LNG yang paling sensitif terhadap harga di Asia, memilih untuk menjatah pasokan gas ke pelanggan industri daripada membeli LNG dengan harga spot yang melambung tinggi. Sementara itu, Tiongkok dan Jepang menunjukkan ketahanan yang lebih baik. Paparan mereka terhadap LNG Qatar relatif terbatas (masing-masing 6% dan 5% dari total pasokan gas) dan mereka memiliki opsi untuk beralih ke bahan bakar alternatif seperti batu bara atau mengoptimalkan portofolio LNG mereka. Tiongkok juga memiliki cadangan minyak mentah yang signifikan.

Banyak negara di Asia, termasuk Korea Selatan, Thailand, dan Taiwan, telah mengaktifkan respons darurat untuk menilai cadangan yang ada dan menjajaki opsi mitigasi dampak perang terhadap keamanan energi mereka. Para ahli juga memperingatkan bahwa energi bersih, bukan LNG, adalah kunci untuk menghindari dampak dari krisis yang sedang berlangsung, mendorong percepatan transisi ke energi bersih yang dihasilkan secara domestik.

Proyeksi Surplus Global Terancam

Sebelum konflik di Timur Tengah memanas, pasar LNG global sebenarnya diproyeksikan akan mengalami surplus signifikan pada tahun 2026. Proyeksi ini didorong oleh masuknya kapasitas baru, terutama dari Amerika Serikat, Qatar (ekspansi North Field East), Kanada, Meksiko, dan negara-negara Afrika. Pasokan LNG global diperkirakan akan meningkat tajam sekitar 10% pada tahun 2026, mencapai 470 juta ton, laju tercepat sejak 2019. Amerika Utara diperkirakan akan menyumbang sebagian besar peningkatan pasokan LNG global.

Namun, Morgan Stanley kini merevisi perkiraannya, menyatakan bahwa gangguan pasokan dari Qatar kemungkinan besar akan mengimbangi sebagian besar proyeksi surplus 6 juta ton untuk tahun 2026. Mereka juga memundurkan perkiraan pengiriman pertama dari proyek ekspansi North Field Qatar ke kuartal pertama tahun 2027.

Situasi LNG Indonesia

Di tengah gejolak global, Indonesia, sebagai negara pengekspor LNG, juga menghadapi dinamika pasokan domestik. Perusahaan Listrik Negara (PLN) membutuhkan 103 kargo LNG untuk tahun 2026, meningkat dari 90 kargo pada tahun 2025. Pemerintah Indonesia optimistis bahwa produksi gas domestik akan mencukupi kebutuhan nasional pada tahun 2025 dan 2026, tanpa perlu impor. Bahkan, pada tahun 2024, Indonesia mengalihkan sekitar 50 kargo LNG (sekitar 17% dari perkiraan ekspor) untuk memenuhi kebutuhan domestik yang melonjak dan penurunan produksi. Dalam jangka panjang, Indonesia berpotensi menjadi importir bersih LNG pada tahun 2040-an seiring dengan peningkatan konsumsi domestik dan upaya konversi pembangkit listrik dari diesel ke LNG.