PB Alkhairaat Matangkan Persiapan Haul Guru Tua ke-58, Antisipasi Puluhan Ribu Jemaah

Author Image

Hodak

28 Februari 2026

Pengurus Besar (PB) Alkhairaat di , , tengah mematangkan persiapan untuk penyelenggaraan Haul ke-58 Pendiri Perguruan Islam Alkhairaat, atau yang akrab disapa Guru Tua. Acara tahunan yang diperkirakan akan menjadi Haul Akbar ini dijadwalkan berlangsung pada 12 Syawal 1447 Hijriah dan diprediksi akan menarik puluhan ribu jemaah dari seluruh penjuru Nusantara, bahkan mancanegara.

Rapat teknis dan musyawarah keluarga besar Yayasan Masjid Alkhairaat telah intensif digelar di Masjid Alkhairaat, Palu, untuk memastikan kelancaran acara. Ketua Utama Alkhairaat, Habib Sayid Alwi bin Saggaf Alwi Aljufri, menegaskan bahwa Haul ke-58 ini merupakan Haul Akbar yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Senada dengan itu, Ketua Umum , HS. Mohsen Alaydrus, menekankan pentingnya pelayanan optimal, khususnya distribusi konsumsi bagi puluhan ribu jemaah yang diperkirakan memadati area haul.

Fokus Pelayanan dan Keamanan Jemaah

Dalam rapat teknis yang dipimpin HS. Mohsen Alaydrus pada Jumat (27/2), ia menginstruksikan seluruh koordinator bidang untuk mempersiapkan perlengkapan teknis secara maksimal. “Posko-posko harus ditata dan diatur dengan baik agar konsumsi bagi jemaah tamu Guru Tua dapat terlayani secara optimal,” tegasnya. Koordinator Bidang Acara, Dr. Ahmad Alhasni, mengusulkan pemanfaatan madrasah-madrasah di sekitar kompleks haul sebagai posko pembagian konsumsi, dengan melibatkan dewan guru dan santri.

Aspek keamanan juga menjadi prioritas utama. Ratusan pasukan Garda Alkhairaat (GAL) akan disiagakan untuk mengamankan jalannya Haul Akbar ini. Panglima Garda Alkhairaat, KH. Husen Habibu, menyatakan bahwa pasukan GAL akan berkolaborasi dengan aparat keamanan seperti kepolisian, TNI, Satpol PP Provinsi Sulteng dan Kota Palu, serta Menwa UNISA. Selain itu, elemen masyarakat lain seperti GP Anshor, Front Pemuda Kaili, dan Persatuan Pelajar Islam Alkhairaat (PPIA) juga akan turut serta dalam pengamanan.

Tema Pendidikan Berkelanjutan dan Rangkaian Acara

Haul ke-58 Guru Tua tahun ini mengusung tema “Pendidikan yang Berkelanjutan”. Tema ini dipilih sebagai refleksi atas perjuangan Guru Tua dalam membangun dan mengembangkan pendidikan Islam melalui Alkhairaat. Sebagai bagian dari rangkaian acara, sejumlah lembaga pendidikan di bawah naungan Alkhairaat dijadwalkan membuka pameran pendidikan, menampilkan program dan aktivitas santri.

Selain itu, panitia berencana mengadakan sarasehan kurikulum muatan lokal Kealkhairaatan yang diinisiasi oleh Majelis Pendidikan PB Alkhairaat. Festival Raodhah, yang menjadi ajang promosi produk UMKM lokal serta menampilkan berbagai pertunjukan bernuansa religi, juga akan kembali digelar berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Kota Palu.

Wakil Ketua Panitia, Sayyid Ir. Alwi bin Muhammad Al-Jufri, menyebut soliditas panitia menjadi perhatian utama, mengingat jemaah tidak hanya berasal dari Palu, tetapi juga seluruh nusantara bahkan luar negeri. Ketua Yayasan Masjid Alkhairaat Palu, Habib Idrus Alhabsy, juga menegaskan bahwa Haul ke-58 akan memberikan porsi lebih besar kepada para ulama untuk menyampaikan ceramah, dibandingkan unsur pemerintah, guna menekankan penguatan nilai-nilai keagamaan.

Mengenang Jejak Guru Tua

Habib Idrus bin Salim Al-Jufri, yang dikenal sebagai Guru Tua, adalah ulama besar kelahiran Tarim, Hadhramaut, Yaman, pada 15 Maret 1892, dan wafat di Palu pada 22 Desember 1969. Beliau merupakan pendiri organisasi Islam Alkhairaat pada tahun 1930, yang kini menjadi salah satu organisasi dakwah dan pendidikan terbesar di kawasan timur Indonesia. Semasa hidupnya, Guru Tua dikenal sebagai tokoh sentral yang menghibahkan diri untuk kemajuan pendidikan dan penyebaran Islam, khususnya di Sulawesi Tengah dan wilayah timur Indonesia.

Alkhairaat telah berhasil membangun lebih dari 1.550 madrasah yang tersebar di Sulawesi, Maluku, Kalimantan, hingga Papua, serta memiliki perguruan tinggi dan rumah sakit. Peringatan Haul ini menjadi momentum penting bagi Abnaulkhairaat untuk mengenang kembali perjuangan dan jasa Guru Tua, serta meneguhkan semangat kebangsaan, pendidikan, dan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin yang diwariskannya.