Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026, para pedagang kulit ketupat di sejumlah pasar tradisional Jakarta, termasuk di sepanjang Jalan Palmerah Barat, Jakarta Barat, dan Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, tengah merasakan berkah lonjakan permintaan. Aktivitas jual beli anyaman daun kelapa muda ini meningkat signifikan, membuat para pedagang kewalahan memenuhi pesanan dari masyarakat.
Di Palmerah, pedagang tetap seperti Aji, yang sehari-hari berjualan di Jalan Palmerah Barat, mengaku kewalahan menghadapi tingginya permintaan. Biasanya, janur yang ia jual juga digunakan untuk umbul-umbul acara hajatan atau dipasok ke pedagang ketupat sayur dan katering. Namun, di momen jelang Lebaran ini, fokusnya beralih sepenuhnya pada kulit ketupat.
Lonjakan permintaan ini turut memicu kenaikan harga kulit ketupat hingga dua kali lipat. Aji menyebutkan, harga satu ikat berisi 10 buah kulit ketupat mencapai Rp12.000 saat Lebaran, berbeda jauh dari harga normal Rp5.000 hingga Rp6.000 di hari biasa. Kenaikan harga ini, menurut Aji, disebabkan oleh mahalnya bahan baku janur dari pemasok. Meskipun demikian, para pembeli disebut memahami kondisi ini dan tidak mempermasalahkannya, mengingat ketupat merupakan sajian khas yang wajib ada saat Lebaran.
Untuk memenuhi tingginya kebutuhan pasar yang bisa mencapai ribuan buah sehari, Aji memilih untuk membeli kulit ketupat dari pemasok, alih-alih memproduksinya sendiri karena keterbatasan waktu. Jumlah pembelian oleh konsumen pun bervariasi, mulai dari jumlah kecil hingga ribuan buah untuk dijual kembali dalam bentuk ketupat matang. Pembeli untuk konsumsi pribadi biasanya membeli sekitar 20 hingga 50 kulit ketupat.
Fenomena serupa juga terlihat di Pasar Jatinegara. Marta (42), seorang pedagang musiman di sana, melaporkan bahwa lapaknya sudah ramai pembeli sejak pagi hari pada 19 Maret 2026, dengan lebih dari 300 anyaman ketupat terjual. Kulit ketupat di Pasar Jatinegara dijual seharga Rp8.000 per 10 buah, dan Marta menyebut harganya stabil. Pembeli seperti Siti (47) memilih datang lebih awal untuk menghindari kehabisan stok, menegaskan bahwa Lebaran terasa kurang lengkap tanpa hidangan ketupat.
Di sisi lain, Argan (27), perantau asal Banten yang telah 15 tahun berjualan di kawasan Pasar Palmerah, tepatnya di depan Pasar Pisang, juga merasakan peningkatan signifikan. Ia mampu menjual hingga 2.000 buah kulit ketupat dalam sehari semalam. Argan menjual kulit ketupat seharga Rp7.000 per ikat (10 buah) menjelang Lebaran, naik dari Rp5.000 di hari biasa, dengan keuntungan sekitar Rp1.000 per ikat setelah memperhitungkan biaya bahan baku dan produksi yang melonjak.
Meningkatnya aktivitas ekonomi musiman ini menjadi gambaran perputaran ekonomi rakyat yang bergerak seiring tingginya konsumsi masyarakat selama Ramadan. Meskipun demikian, tekanan inflasi Februari 2026 yang mencapai 4,76 persen secara tahunan, didorong oleh kenaikan harga pangan dan energi, berpotensi menekan daya beli masyarakat. Namun, tradisi membuat ketupat sebagai simbol kebersamaan dan hidangan khas Lebaran tetap menjadi prioritas bagi banyak keluarga di Indonesia.