Pedangdut Ira Swara merasakan pengalaman tak menyenangkan di awal tahun 2026. Rumahnya yang berlokasi di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, terendam banjir hingga mencapai ketinggian betis orang dewasa, Selasa (20/1/2026). Momen ini menjadi kejutan besar bagi pelantun lagu ‘Wakuncar’ tersebut, mengingat baru kali ini ia mengalami banjir sejak kembali menempati rumah lamanya di Tanjung Priok dua tahun lalu.
Kaget dan Panik Akibat Banjir Pertama
Ira Swara mengungkapkan rasa terkejutnya karena tidak memiliki persiapan khusus menghadapi banjir. Ia dan keluarga sempat panik saat melihat air mulai naik, karena daerah tersebut sebelumnya dirasa aman dari genangan.
“Kita sih gak pernah ngerasain banjir sebelumnya. Ini pertama kali,” kata Ira Swara saat ditemui di Studio Trans7, Warung Buncit, Jakarta Selatan, Senin (19/1/2026). Curah hujan yang tinggi sejak dini hari menjadi pemicu utama banjir tersebut. Meski hujan sudah mengguyur sejak malam, Ira Swara menyebut air baru mulai masuk dan merendam lantai rumahnya pada pagi hari.
“Kita memang karena tidak terbiasa banjir, jadi barang-barangnya pun yang barang-barang sensitif air gitu ada di lantai bawah. Hujannya dari dini hari sampai siang, tapi banjirnya mulai jam 8 pagi,” terangnya.
Kondisi Rumah dan Evakuasi Barang
Kondisi di dalam rumah Ira Swara cukup memprihatinkan. Air setinggi setengah betis orang dewasa menggenangi beberapa ruangan utama, termasuk kamar tidur dan ruang tamu. Barang-barang yang berada di lantai bawah terpaksa dievakuasi dengan terburu-buru.
Putri Ira Swara, Yunia Syahrie, menjelaskan bahwa kamarnya yang berada di bagian depan rumah, satu lantai dengan ruang tamu, juga terendam. “Kamar aku itu kebetulan paling depan satu lantai sama ruang tamu. Nah itu kena setengah betis juga. Jadi barang-barang aku sempat gitar ujungnya kerendam dikit, tapi aku sempat selamatin sih gak lama,” jelas Yunia.
Kerja Bakti Pasca Banjir
Banjir tersebut tidak hanya merendam perabotan, tetapi juga memberikan kerepotan bagi keluarga Ira Swara. Setelah air perlahan surut, mereka harus melakukan kerja bakti besar-besaran untuk membersihkan sisa-sisa lumpur dan genangan air yang masuk ke dalam rumah.
“Cowok-cowok yang beres-beres. Aku pas malamnya sampai habis Maghrib masih finishing-finishing ngepel gitu,” pungkas Ira Swara.






