Pemerintah Pastikan Harga Daging dan Cabai Turun Jelang Ramadan, Stok Pangan Aman

bapanas, harga pangan, ramadan, sidak pasar, daging sapi

Pemerintah memastikan pasokan dan harga bahan pangan pokok terpantau stabil menjelang pertengahan 1447 Hijriah. Bahkan, sejumlah komoditas strategis seperti dan merah menunjukkan tren penurunan harga setelah serangkaian inspeksi mendadak (sidak) di berbagai pasar tradisional di kota-kota besar selama sepekan terakhir.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (), I Gusti Ketut Astawa, menyatakan optimisme pemerintah bahwa kondisi harga dan pasokan pangan akan tetap terjaga hingga Idulfitri. “Saya rasa semua pangan pokok stabil. Stok aman. Walau memang (harga) bervariasi, tapi kecenderungannya kita lihat sudah mulai stabil dan menurun,” ujar Ketut dalam keterangan resminya.

Sidak Pasar Intensif di Berbagai Wilayah

Dalam upaya menjaga stabilitas ini, Bapanas bersama Satuan Tugas Sapu Bersih Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan (Satgas Saber Pangan) telah melakukan sidak di beberapa lokasi. Pada Kamis, 26 Februari 2026, sidak digelar di Pasar Senen, Jakarta, diikuti dengan pemantauan di Pasar Palimo, Palembang, Sumatera Selatan, pada Selasa, 24 Februari 2026. Hasilnya, sebagian besar komoditas strategis ditemukan berada dalam rentang Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat konsumen.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, juga turut melakukan inspeksi mendadak di tiga pasar utama di Kota Semarang, Jawa Tengah, yakni Pasar Johar, Pasar Kepanjen, dan Pasar Kanjengan, pada Jumat, 27 Februari 2026. Sidak ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan dan stabilitas harga pangan selama Ramadan serta menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.

Rincian Pergerakan Harga Komoditas

Berdasarkan hasil pemantauan, harga daging sapi segar tercatat berkisar antara Rp130.000 hingga Rp140.000 per kilogram. Sementara itu, harga daging ayam ras berada di kisaran Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram. Komoditas cabai rawit merah dilaporkan turun dari Rp110.000 menjadi Rp100.000 per kilogram di beberapa pasar yang disidak. Harga telur ayam ras juga terpantau stabil di kisaran Rp29.000 hingga Rp30.500 per kilogram.

Di sisi lain, harga bawang merah tercatat sekitar Rp40.000 hingga Rp44.750 per kilogram. Untuk beras medium, harganya berkisar antara Rp12.000 hingga Rp13.500 per kilogram.

Fluktuasi Regional dan Strategi Pengendalian

Meskipun tren penurunan dan stabilitas harga terlihat di banyak daerah, fluktuasi masih terjadi secara regional. Di Kota Medan, misalnya, harga cabai menunjukkan pergerakan dinamis; cabai merah turun menjadi Rp33.000 dari sebelumnya Rp34.500, namun cabai rawit justru sedikit naik menjadi Rp34.500 dari Rp33.000 per kilogram. Sementara itu, di Kota Batam, beberapa harga sembako seperti beras dan daging sapi impor masih bertahan tinggi di atas Rp120.000 per kilogram, meskipun harga telur ayam dan cabai merah relatif stabil.

Pemerintah berkomitmen untuk terus melakukan intervensi pasar guna menjaga keseimbangan pasokan dan harga. Strategi yang dijalankan meliputi penyaluran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk beras dan jagung, pemberian bantuan pangan, Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP), serta penyelenggaraan Gerakan Pangan Murah (GPM). Selain itu, pemantauan harga akan diperkuat melalui lebih dari seribu enumerator di seluruh Indonesia, dengan penambahan cakupan komoditas.

Inflasi Pangan Terkendali, Namun Tetap Waspada

Secara makro, inflasi pangan (volatile food) tercatat mengalami deflasi signifikan sebesar 1,96 persen secara bulanan pada Januari 2026. Namun, Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi laju inflasi Indonesia akan meningkat pada Februari 2026, seiring momentum Ramadan yang biasanya mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok. Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menegaskan pentingnya pengendalian harga komoditas pangan sebagai langkah utama menjaga stabilitas inflasi nasional. “Inflasi ini bisa terkendali karena kita merasakan rapat seperti ini tiap minggu. Dan semua daerah bekerja, semua kementerian bekerja,” ujar Tito.