Pemerintah Pastikan Stok Pangan Jakarta Aman Jelang Lebaran 2026 di Tengah Gejolak Minyak Global

Pemerintah, melalui berbagai kementerian dan lembaga terkait, menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan kebutuhan pokok menjelang Hari Raya . Meskipun dihadapkan pada ancaman gejolak harga minyak dunia akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, stok pangan di dan secara nasional dipastikan aman.

Gubernur DKI Jakarta memastikan pasokan pangan di Ibu Kota dalam kondisi stabil. Ia menyebutkan, stok komoditas utama seperti cabai keriting, daging, dan beras lebih dari cukup. Pramono juga memantau pergerakan harga di pasar-pasar utama Jakarta dan menyatakan belum ada lonjakan signifikan. “Karena kita sebentar lagi menyambut Idul Fitri, kebutuhan utama di Jakarta hal yang menyangkut cabai keriting, daging, beras sekarang ini stoknya lebih dari cukup,” ujar Pramono usai menghadiri acara JIS Ramadan Fest 2026 di Jakarta Utara, Minggu (2/3/2026).

Stok Nasional dan Intervensi Pasar

Badan Pangan Nasional (Bapanas) juga mengonfirmasi bahwa kondisi pasar cukup terjaga dengan pokok yang stabil dan stok yang aman hingga Idul Fitri. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan optimisme pemerintah dalam menjaga harga pangan tetap terkendali. Pemantauan ketat terhadap volatilitas harga pangan strategis terus dilakukan selama minggu pertama Ramadan 1447 Hijriah.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menambahkan, stok pangan nasional sangat kuat. Ia menyebut stok beras nasional mencapai 3,3 juta ton pada akhir Januari 2026, menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Proyeksi menunjukkan angka ini akan meningkat menjadi 3,8 juta ton pada akhir Februari dan menembus 4 juta ton pada Maret 2026. Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan tidak ada isu penimbunan stok di tengah peningkatan permintaan pasar menjelang Lebaran.

Untuk menjaga daya beli masyarakat, pemerintah menyiapkan berbagai program intervensi. Bantuan pangan berupa 10 kilogram beras dan 2 liter minyak goreng akan disalurkan kepada 33,2 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) mulai Maret 2026. Selain itu, Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras dengan anggaran Rp4,97 triliun untuk 828 ribu ton beras juga terus berjalan sepanjang tahun.

Harga Komoditas dan Pengawasan

Berdasarkan sidak Bapanas di Pasar Senen, Jakarta, pada Kamis (26/2/2026), mayoritas komoditas strategis berada dalam rentang Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Acuan Penjualan (HAP). Harga daging sapi segar berkisar Rp130.000–Rp140.000 per kilogram, daging ayam Rp40.000 per kilogram, dan cabai rawit merah turun dari Rp110.000 menjadi Rp100.000 per kilogram. Harga telur ayam berada di kisaran Rp29.000 hingga Rp30.500 per kilogram.

Namun, laporan lain dari Pasar Kopro, Jakarta Barat, pada awal Ramadan menunjukkan harga cabai rawit merah masih di angka Rp140.000 per kilogram, bawang merah Rp52.000 per kilogram, dan telur ayam Rp32.000 per kilogram. Harga daging sapi di pasar ini juga tercatat Rp150.000 per kilogram dan diprediksi akan kembali meningkat mendekati Idul Fitri. Bapanas bersama Satgas Saber Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan terus melakukan pengawasan di 1.329 titik untuk menindak pelaku usaha yang menaikkan harga secara tidak wajar.

Ancaman Geopolitik dan Dampak Harga Minyak

Di balik optimisme stabilitas pangan, pemerintah juga mewaspadai dampak eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas harga energi global. Gubernur Pramono Anung mengakui potensi penutupan Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia, akan berdampak langsung pada rantai pasok dan kenaikan harga.

Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, memperkirakan kenaikan harga minyak global sebesar US$25 per barel dapat mendorong kenaikan harga keekonomian solar domestik sekitar Rp750 hingga Rp2.000 per liter. Jika harga solar meningkat 10 persen, ongkos angkut truk berpotensi naik 3,5–4 persen. Kenaikan ongkos truk di atas 10 persen dapat menaikkan harga barang mendekati 0,8 persen, terutama pada komoditas pangan dan produk konsumsi cepat saji. Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menambahkan, eskalasi konflik berpotensi memicu lonjakan harga minyak Brent hingga US$120 per barel, serupa dengan invasi Rusia ke Ukraina.

Pemerintah mengantisipasi dampak ini dengan menjadikan APBN sebagai shock absorber untuk meredam transmisi konflik, khususnya pada sektor energi dan pangan, serta menyiapkan kebijakan lanjutan menjelang Idul Fitri guna menjaga konsumsi domestik.