Pemerintah Targetkan Rp33 Triliun dari Lelang SUN Besok, Antisipasi Geopolitik Global

surat utang negara, apbn 2026, kementerian keuangan, djppr, bank indonesia

Pemerintah Indonesia siap menggelar lelang (SUN) dalam mata uang rupiah pada Selasa, 3 Maret 2026, dengan target indikatif sebesar Rp33 triliun. Lelang ini bertujuan untuk memenuhi sebagian kebutuhan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko () menyatakan bahwa pemerintah berpotensi menyerap dana hingga Rp49,5 triliun, atau 150% dari target indikatif yang ditetapkan. Pengumuman mengenai lelang ini telah dirilis pada Kamis, 26 Februari 2026, dan diunggah melalui laman Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (IDX) pada Jumat sore, 27 Februari 2026.

Sembilan Seri SUN Ditawarkan di Tengah Dinamika Pasar Global

Dalam lelang besok, pemerintah akan menawarkan sembilan seri SUN yang terdiri dari tiga seri Surat Perbendaharaan Negara (SPN) dan enam seri Obligasi Negara (ON) atau Fixed Rate (FR). Untuk seri SPN, yang menggunakan sistem diskonto, meliputi SPN01260404 dengan jatuh tempo 4 April 2026, SPN12260604 jatuh tempo 4 Juni 2026, dan SPN12270304 jatuh tempo 4 Maret 2027.

Sementara itu, enam seri Obligasi Negara yang dilelang adalah FR0109 (jatuh tempo 15 Maret 2031) dengan kupon 5,875%, FR0108 (15 April 2036) kupon 6,50%, FR0106 (15 Agustus 2040) kupon 7,125%, FR0107 (15 Agustus 2045) kupon 7,125%, FR0102 (15 Juli 2054) kupon 6,875%, serta FR0105 (15 Juli 2064) kupon 6,875%. Setiap unit SUN memiliki nominal sebesar Rp1 juta.

Lelang akan dilaksanakan melalui mulai pukul 09.00 WIB dan ditutup pukul 11.00 WIB, dengan tanggal setelmen pada Kamis, 5 Maret 2026. Proses lelang bersifat terbuka (open auction) dengan metode harga beragam (multiple price), sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 168/PMK.08/2019. Pemerintah juga memberikan alokasi pembelian non-kompetitif maksimal 99% untuk SPN dan 30% untuk ON.

Sentimen Pasar Waspada di Tengah Geopolitik dan Prospek Suku Bunga

Pelaksanaan lelang ini berlangsung di tengah sentimen pasar obligasi yang cenderung “waspada namun tetap optimis” (cautiously optimistic). Ketegangan geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran, telah memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan ketidakpastian, mendorong investor global ke mode risk-off. Selain itu, revisi outlook negatif dari lembaga pemeringkat Moody’s juga menjadi perhatian pelaku pasar.

Meskipun demikian, fundamental pasar Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia dinilai tetap kokoh berkat dominasi investor domestik, yang membuat pasar lebih tangguh dibandingkan saat porsi investor asing masih besar. Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan bahwa kondisi ini menjadikan pasar obligasi Indonesia lebih resilien. Investor domestik, seperti perbankan dan institusi keuangan, diprediksi akan lebih selektif dan mungkin menuntut yield yang sedikit lebih tinggi untuk mengimbangi ketidakpastian global.

Permintaan dalam lelang diproyeksikan tetap solid dan berpotensi mencatat oversubscription, meskipun tidak setinggi awal tahun 2026. Seri tenor menengah seperti FR0109 diperkirakan menjadi primadona karena menawarkan keseimbangan antara yield dan risiko durasi. Sementara itu, seri tenor panjang seperti FR0106 tetap diminati investor jangka panjang, dan SPN tenor pendek menjadi pilihan untuk “memarkir” likuiditas di tengah gejolak pasar. Ekspektasi penurunan suku bunga Bank Indonesia pada semester II 2026 juga menjadi katalis penting yang mendorong investor untuk mulai melakukan positioning.

Strategi Pembiayaan APBN 2026 Tetap Terkendali

Pemerintah terus menerapkan strategi front-loading, yaitu menarik pembiayaan utang lebih awal, untuk mengamankan APBN 2026. Hingga 31 Januari 2026, realisasi pembiayaan APBN tercatat Rp105,06 triliun, atau sekitar 15,2% dari target, menunjukkan strategi yang lebih terukur dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menegaskan bahwa pengelolaan fiskal saat ini sangat terukur guna menjaga kredibilitas ekonomi nasional.

Meskipun minat investor terhadap surat utang negara cenderung menurun sejak awal tahun 2026, dengan penawaran masuk pada lelang sebelumnya (18 Februari 2026) tercatat Rp63 triliun dibandingkan Rp90,9 triliun pada lelang pertama 6 Januari 2026, rata-rata bid to cover ratio untuk SUN pada tiga lelang awal 2026 masih tercatat 2,2 kali. Hal ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang tetap baik.