Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Tewas dalam Serangan Gabungan AS-Israel

ali khamenei, iran, amerika serikat, israel, serangan udara

Ayatollah , Pemimpin Tertinggi yang telah memimpin Republik Islam selama lebih dari tiga dekade, dikonfirmasi tewas pada Sabtu, 28 Februari 2026. Kematiannya terjadi menyusul gabungan yang dilancarkan oleh dan Israel terhadap sejumlah target di Iran.

Kantor berita pemerintah Iran, termasuk IRNA dan televisi nasional, mengonfirmasi kabar duka ini pada Minggu pagi, 1 Maret 2026, setelah sebelumnya Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan kematian tersebut. Laporan awal menyebutkan bahwa kompleks kediaman Khamenei di Teheran menjadi salah satu lokasi yang dihantam serangan, dengan citra satelit menunjukkan kerusakan parah pada bangunan tersebut.

Serangan Udara dan Dampaknya

Serangan yang menewaskan Khamenei merupakan bagian dari operasi militer skala besar yang dilancarkan oleh AS dan Israel. Operasi ini dilaporkan menargetkan situs rudal balistik dan pertahanan udara Iran, dengan tujuan menghambat program nuklir dan rudal negara tersebut, serta memicu perubahan rezim. Sebagai respons, Iran melancarkan serangan rudal balasan ke Israel dan beberapa negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.

Selain Pemimpin Tertinggi, serangan tersebut juga dilaporkan menewaskan empat anggota keluarga dekat Khamenei, termasuk putri, cucu, menantu perempuan, dan menantu laki-lakinya. Beberapa pejabat tinggi Iran lainnya, seperti penasihat senior Ali Shamkhani dan komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Jenderal Mohammad Pakpour, juga dilaporkan tewas dalam serangan tersebut.

Masa Berkabung dan Reaksi Internasional

Pemerintah Iran segera mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari dan menetapkan tujuh hari libur umum menyusul syahidnya Khamenei. Kematian pemimpin berusia 86 tahun ini, yang telah menjabat sejak tahun 1989 dan menjadi kepala negara terlama di Timur Tengah, menandai transisi kepemimpinan kedua dalam sejarah Republik Islam Iran sejak Revolusi Islam 1979.

Reaksi internasional beragam. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kematian Khamenei memberikan “kesempatan terbesar” bagi rakyat Iran untuk “mengambil kembali” negara mereka. Sementara itu, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menegaskan bahwa Khamenei “tidak akan ditangisi” mengingat perannya dalam program rudal dan nuklir Iran, serta tindakannya terhadap rakyatnya sendiri. Di dalam negeri, beberapa laporan menyebutkan adanya sorak-sorai di sejumlah wilayah Teheran setelah berita kematiannya tersiar.

Proses Suksesi dan Kandidat Potensial

Menurut konstitusi Iran, Majelis Ahli, sebuah badan ulama beranggotakan 88 cendekiawan Islam senior, bertanggung jawab untuk memilih Pemimpin Tertinggi berikutnya. Proses suksesi ini dikendalikan ketat dan telah menjadi subjek spekulasi selama bertahun-tahun, terutama mengingat kondisi kesehatan Khamenei.

Beberapa nama ulama senior telah disebut-sebut sebagai kandidat potensial untuk menggantikan Khamenei. Di antaranya adalah putra kedua Khamenei, Mojtaba Khamenei, yang memiliki pengaruh signifikan di balik layar melalui hubungannya dengan pasukan keamanan dan IRGC. Kandidat lain yang menonjol termasuk Ayatollah Alireza Arafi, Hojjat-ol-Eslam Mohsen Qomi, Ayatollah Mohsen Araki, Ayatollah Gholam Hossein Mohseni Ejei, dan Ayatollah Hashem Hosseini Bushehri. Cucu pendiri Republik Islam, Hassan Khomeini, juga disebut sebagai pesaing kuat yang memiliki kombinasi otoritas agama, posisi politik, dan koneksi institusional.