Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, dikonfirmasi meninggal dunia pada Sabtu, 28 Februari 2026, setelah menjadi target serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel. Kabar duka ini diumumkan oleh media pemerintah Iran pada Minggu pagi, 1 Maret 2026, yang juga menyatakan 40 hari masa berkabung nasional.
Khamenei, yang berusia 86 tahun, tewas dalam serangan yang menargetkan kantor atau kompleksnya di Teheran. Serangan ini merupakan bagian dari operasi militer besar-besaran yang dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran, dengan tujuan yang dilaporkan untuk memicu perubahan rezim. Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terpisah mengonfirmasi serangan tersebut dan kematian Khamenei.
Kematian Pemimpin dan Dampak Regional
Kematian Ali Khamenei menandai berakhirnya kepemimpinan selama hampir 37 tahun, menjadikannya kepala negara terlama di Timur Tengah pada saat wafatnya. Ia mengambil alih posisi Pemimpin Tertinggi pada tahun 1989, menggantikan pendiri Republik Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini. Sebelum menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi, Khamenei juga pernah menjabat sebagai Presiden Iran dari tahun 1981 hingga 1989.
Serangan udara tersebut tidak hanya menewaskan Khamenei, tetapi juga merenggut nyawa beberapa pejabat senior Iran lainnya, termasuk Menteri Pertahanan Amir Nasirzadeh, Komandan Garda Revolusi Mohammed Pakpour, dan Ali Shamkhani, penasihat utama Khamenei. Laporan awal juga menyebutkan bahwa putri, menantu, dan cucu Khamenei turut menjadi korban.
Menanggapi serangan ini, Iran mengecam tindakan AS dan Israel sebagai “tidak beralasan, ilegal, dan tidak sah.” Teheran segera melancarkan serangan rudal balasan terhadap pangkalan-pangkalan AS dan Israel di berbagai negara di Timur Tengah, memperluas konflik ke lebih dari enam negara. Insiden ini memicu kekhawatiran global akan eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan tersebut.
Proses Suksesi dan Tantangan Internal
Menyusul kematian Khamenei, Iran segera membentuk dewan kepemimpinan sementara. Dewan ini terdiri dari Presiden Iran saat ini, Masoud Pezeshkian, Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei, dan seorang anggota Dewan Penjaga yang dipilih oleh Dewan Kebijaksanaan. Dewan ini akan menjalankan tugas kepemimpinan sampai Pemimpin Tertinggi yang baru terpilih.
Majelis Ahli, sebuah panel beranggotakan 88 ulama Syiah, kini memiliki tugas konstitusional untuk memilih Pemimpin Tertinggi yang baru “sesegera mungkin.” Proses suksesi ini menjadi krusial mengingat Khamenei telah lama menjadi penentu kebijakan utama Iran. Beberapa nama yang disebut-sebut sebagai calon potensial termasuk putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, serta ulama senior seperti Alireza Arafi, Hashem Hosseini Bushehri, dan Gholam-Hossein Mohseni-Ejei. Mantan Presiden Ebrahim Raisi, yang sebelumnya dianggap sebagai kandidat kuat, meninggal dunia dalam kecelakaan helikopter pada Mei 2024.
Selama masa kepemimpinannya, Ali Khamenei dikenal karena sikap anti-Barat yang teguh, khususnya terhadap Amerika Serikat dan Israel. Ia juga berperan penting dalam memperluas pengaruh Iran di seluruh wilayah dan menekan perbedaan pendapat di dalam negeri. Namun, pemerintahannya juga diwarnai oleh kesulitan ekonomi akibat sanksi internasional dan gelombang protes domestik yang meluas.