Asosiasi pengecer bahan bakar di Venezuela telah menyatakan “keadaan darurat” nasional dan mendesak pemerintah untuk menaikkan harga bensin. Desakan ini muncul setelah para pengecer menghadapi margin keuntungan yang sangat tipis selama enam tahun terakhir.
Menurut pernyataan yang dilihat oleh Bloomberg, asosiasi tersebut menuntut agar pemerintah tidak hanya menaikkan harga bensin, tetapi juga menyatukan kriteria penjualan untuk berbagai jenis bensin di seluruh negeri. Para pengecer sepakat untuk menyatakan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dalam “keadaan darurat ekonomi dan operasional” mulai 25 Februari 2026, menyusul kegagalan pembicaraan dengan pemerintah mengenai peningkatan margin dan masalah serius lainnya.
Tuntutan ini muncul tak lama setelah pemerintah meluncurkan rencana pada awal Februari untuk memasarkan bensin premium di beberapa SPBU tertentu di ibu kota Caracas. Sementara itu, harga bersubsidi tetap dipertahankan untuk bensin berkualitas rendah di lebih dari 1.600 SPBU lainnya di seluruh Venezuela.
Sejak tahun 2020, Venezuela telah menerapkan sistem subsidi ganda untuk bensin. Sebagian bensin dijual dengan harga kurang dari 1 sen per liter, sementara sisanya dijual seharga 0,5 dolar AS per liter. Sistem ini, meskipun bertujuan meringankan beban masyarakat, telah membatasi pendapatan bagi para pengecer.
Venezuela telah menyubsidi bensin selama beberapa dekade, memungkinkan pengemudi untuk mengisi tangki dengan harga yang jauh lebih murah daripada biaya pemurnian dan distribusi oleh perusahaan minyak negara PDVSA. Upaya sebelumnya untuk menaikkan harga bensin di SPBU telah memicu reaksi publik yang kuat, termasuk bentrokan mematikan di Caracas pada tahun 1989.
Kondisi ini diperparah oleh krisis ekonomi parah yang melanda Venezuela. Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan Venezuela akan menjadi negara dengan tingkat inflasi tahunan tertinggi di dunia pada tahun 2026, mencapai 628,8% (year on year/YoY). Inflasi di Venezuela pernah mencapai puncaknya hingga 65.374,1% pada tahun 2018 dan 19.906% pada tahun 2019. Pada April 2025, tingkat inflasi meningkat menjadi 172% dari 136% pada Maret 2025.
Di tengah impitan ekonomi ini, kelangkaan bahan bakar menjadi hal yang umum, terutama di luar Caracas. Meskipun demikian, pemerintah Venezuela sendiri telah memulai peningkatan harga bahan bakar di SPBU di Caracas sebagai bagian dari strategi untuk menghasilkan pendapatan baru dan menarik investasi asing guna menghidupkan kembali industri minyaknya. Namun, baik PDVSA maupun Kementerian Perminyakan belum menanggapi permintaan komentar mengenai deklarasi darurat dari para pengecer.
Situasi di Venezuela juga semakin kompleks dengan keterlibatan Amerika Serikat (AS). AS telah mengambil alih kendali ekspor minyak Venezuela setelah penangkapan Presiden Nicolás Maduro pada Januari 2026. Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan bahwa AS telah menerima lebih dari 80 juta barel minyak dari Venezuela sejak kejadian tersebut.