Volume minyak mentah ilegal dari Iran, Rusia, dan Venezuela yang tertahan di kapal tanker di lepas pantai China telah mencapai tingkat rekor. Fenomena ini didorong oleh sanksi Barat yang ketat terhadap negara-negara pengekspor tersebut, serta meningkatnya ketegangan geopolitik global yang memengaruhi pasar energi.
Tiga negara pengekspor minyak ini—Iran, Rusia, dan Venezuela—diketahui mengoperasikan apa yang disebut sebagai “armada bayangan” yang terdiri dari ratusan kapal tanker tua. Armada ini berfungsi untuk menyalurkan minyak ke pasar global secara diam-diam, menghindari pelacakan dan penegakan sanksi internasional. Amerika Serikat (AS) telah secara aktif menindak kapal-kapal ini, termasuk menjatuhkan sanksi baru terhadap armada bayangan Iran antara Desember 2025 hingga Februari 2026.
Sebagai importir minyak mentah terbesar di dunia, China menjadi pembeli utama minyak dari negara-negara yang terkena sanksi ini, seringkali dengan diskon besar. Minyak dari Rusia, Iran, dan Venezuela menyumbang sekitar 33% dari total impor minyak China. Ketergantungan ini menempatkan Beijing dalam posisi yang rentan terhadap gangguan pasokan, terutama di tengah gejolak global.
Hubungan perdagangan minyak antara Iran dan China sangat signifikan, di mana China membeli lebih dari 80% ekspor minyak Iran. Pada tahun 2025, China mengimpor rata-rata 1,38 juta barel minyak Iran per hari, yang setara dengan 13,4% dari total impor minyaknya. Minyak Iran seringkali disamarkan melalui pelabuhan Malaysia atau dicampur di laut untuk menghindari deteksi, dan pembayarannya dilakukan dalam mata uang Yuan sejak tahun 2012. Namun, ekspor minyak Iran ke China sempat menurun dari 1,1 juta barel per hari menjadi sekitar 1 juta barel per hari pada Februari 2026, sebagian karena sanksi AS yang menargetkan pelabuhan seperti Rizhao pada Oktober 2025.
Demikian pula, Rusia merupakan pemasok minyak terbesar bagi China, menyumbang 20% dari total impor minyaknya. Hingga September 2025, sekitar 20% atau 2 juta barel per hari impor minyak mentah China berasal dari Rusia. Sanksi AS terhadap perusahaan energi Rusia seperti Rosneft PJSC dan Lukoil PJSC pada November 2025 telah memperlambat aliran minyak Rusia ke China, bahkan menyebabkan beberapa kilang milik negara menghentikan pembelian minyak jenis ESPO.
Situasi Venezuela juga menunjukkan dinamika serupa. Sejak sanksi terhadap PDVSA diperketat pada 2019-2020, China menjadi pembeli utama minyak Venezuela dengan diskon besar. Pada tahun 2025, sekitar 4-8% kebutuhan minyak China dipasok dari minyak mentah berat Venezuela untuk kilang-kilang swasta di Shandong. Namun, operasi besar-besaran AS pada akhir 2025, termasuk blokade kapal tanker dan penyitaan beberapa kapal, serta penangkapan Presiden Nicolás Maduro pada 3 Januari 2026, telah menyebabkan penurunan drastis impor minyak Venezuela ke China pada Januari-Februari 2026. AS bahkan menuntut Venezuela untuk memutuskan hubungan dengan China, Rusia, dan Iran jika ingin terus menjual minyaknya.
Di tengah ketegangan ini, konflik di Timur Tengah, khususnya serangan AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari 2026, telah menyebabkan penutupan Selat Hormuz secara hampir total. Selat ini merupakan jalur vital yang menangani seperlima pasokan minyak dunia, dan penutupannya telah mendorong harga minyak global melonjak tajam. Harga minyak Brent mencapai US$111,04 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melambung hingga 22% pada 8 Maret 2026. Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa China tidak akan lagi mendapatkan minyak dari Iran jika konflik terus berlanjut, dan menyoroti keinginan AS untuk mengontrol pasokan minyak global.
Sebagai respons terhadap krisis pasokan dan lonjakan harga, pemerintah China telah menginstruksikan kilang-kilang terbesarnya untuk menghentikan ekspor diesel dan bensin mulai 5 Maret 2026. Langkah darurat ini bertujuan untuk mengamankan pasokan domestik di tengah ketidakpastian global. China juga memiliki “cadangan mengambang” berupa kapal tanker minyak Iran yang berlabuh di lepas pantai, yang terakumulasi sejak akhir tahun lalu akibat penurunan permintaan domestik.