Pekan pertama Maret 2026 dibuka dengan gejolak signifikan di pasar keuangan global, menyusul eskalasi konflik terbuka antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. Serangan militer gabungan AS-Israel yang menargetkan Iran pada akhir Februari memicu respons balasan dari Teheran, menciptakan sentimen penghindaran risiko (risk-off) yang kuat di kalangan investor.
Operasi militer gabungan AS dan Israel, yang dinamai “Operation Lion’s Roar”, dilancarkan pada 28 Februari 2026, menyasar pangkalan militer, fasilitas pertahanan, dan struktur kepemimpinan di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Serangan ini dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersama ratusan korban jiwa lainnya, dengan Palang Merah Iran mencatat sekitar 201 orang meninggal dan 747 luka-luka di berbagai provinsi.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan menggunakan rudal balistik dan drone ke wilayah Israel, pangkalan militer AS, serta negara-negara sekutu di kawasan Teluk seperti Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Serangan ini menyebabkan kerusakan pada bandara di Dubai dan Abu Dhabi, serta fasilitas sipil lainnya.
Selat Hormuz Terancam, Harga Komoditas Melonjak
Ketegangan ini diperparah dengan ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menguasai lebih dari 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global. Peringatan dari Teheran ini telah mendorong sebagian besar pemilik kapal tanker, perusahaan minyak besar, dan rumah dagang untuk menangguhkan pengiriman melalui selat tersebut.
Dampak langsung terlihat pada harga komoditas. Harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 10 persen menjadi sekitar US$80 per barel dalam perdagangan over-the-counter pada 1 Maret, setelah sebelumnya ditutup di US$73 per barel pada Jumat. Analis memperkirakan harga berpotensi menembus US$100 per barel jika gangguan pasokan berlangsung berkepanjangan atau jika Selat Hormuz benar-benar ditutup. Direktur energi dan pengilangan di ICIS, Ajay Parmar, menegaskan bahwa faktor kunci yang menentukan arah harga bukan hanya serangan militer itu sendiri, melainkan potensi penutupan Selat Hormuz.
Selain minyak, harga emas juga meroket sebagai aset lindung nilai (safe haven). Pada 2 Maret 2026, harga emas dunia melonjak 1,59% menjadi US$5.361,9 per troy ons. Sebelumnya, pada Sabtu (28/2), harga emas sudah mencapai US$5.280 per troy ons. Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan, “ketidakpastian geopolitik menjadi katalis utama penguatan harga emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).” Ia memprediksi peluang penguatan emas lebih besar, bahkan berpotensi menembus US$5.500 per troy ons atau Rp3.400.000 per gram jika eskalasi berlanjut.
Bursa Saham Global Tertekan, Rupiah Melemah
Sentimen risk-off juga memukul pasar ekuitas global. Kontrak berjangka Wall Street anjlok tajam pada Minggu malam, 1 Maret 2026, dengan S&P 500 turun hampir 1,1 persen, Nasdaq 100 turun satu persen, dan Dow Jones turun 1,1 persen. Bursa saham Asia-Pasifik juga dibuka melemah pada Senin, 2 Maret 2026, dengan indeks Nikkei 225 Jepang turun hampir 2 persen dan indeks ASX 200 Australia terkoreksi 0,38 persen.
Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan mengalami volatilitas dan berpotensi terkoreksi. Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menyebut konflik ini “jelas akan memicu volatilitas bagi IHSG. Akan ada koreksi wajar dan fase konsolidasi bearish dalam jangka pendek”. Namun, ia juga melihat peluang akumulasi pada saham-saham yang mengalami diskon harga, terutama di sektor energi dan komoditas berbasis logam dasar yang diuntungkan dari kenaikan harga global.
Mata uang juga merasakan dampaknya. Dolar AS menguat signifikan sebagai aset safe haven, sementara euro dan mata uang berisiko lainnya, termasuk rupiah, terpukul. Rupiah offshore pagi ini tertekan 0,24% dan menyusut di level Rp16.843 per dolar AS. Ibrahim Assuaibi memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi terdepresiasi menuju Rp17.000 per dolar AS jika ketegangan terus meningkat, karena “ketika pasar global masuk mode risk-off, arus modal bergerak ke dolar AS dan obligasi Pemerintah AS”. Pengamat Pasar Modal & Co-Founder Pasar Dana, Hans Kwee, menambahkan bahwa “kenaikan harga minyak tidak menguntungkan bagi negara net importir minyak seperti Indonesia”.
Selain dinamika geopolitik, pasar juga mencermati rilis data ekonomi penting. Amerika Serikat akan merilis laporan ketenagakerjaan resmi untuk Februari, Indeks Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur versi ISM, dan data penjualan ritel. Data PMI Manufaktur juga dijadwalkan rilis di Tiongkok, Kanada, Korea Selatan, serta negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia.