Perbankan RI Kokoh Hadapi Risiko, Saham Bank Besar Menguat Terpicu Sentimen Positif BI

Author Image

Hodak

21 Februari 2026

bank indonesia, perbankan indonesia, saham bank, bbri, bmri

Sektor menunjukkan ketahanan yang kokoh dalam menghadapi berbagai potensi risiko, demikian ditegaskan oleh (BI). Pernyataan positif ini langsung disambut antusias oleh pasar modal, terlihat dari penguatan signifikan pada saham- berkapitalisasi besar atau big banks pada penutupan perdagangan Jumat, 20 Februari 2026.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Kamis, 19 Februari 2026, mengungkapkan bahwa hasil stress test BI secara jelas menunjukkan perbankan nasional, khususnya bank-bank besar, amat kuat dan solid. Ketahanan ini ditopang oleh kemampuan bayar dan profitabilitas korporasi yang terjaga.

Kekuatan fundamental perbankan tercermin dari sejumlah indikator kunci. Rasio Kecukupan Modal (CAR) perbankan mencapai 25,89% pada Desember 2025, angka yang dinilai sangat kuat untuk menyerap risiko dan mendukung ekspansi kredit. Selain itu, rasio kredit bermasalah (NPL) secara agregat tetap rendah, dengan NPL bruto sebesar 2,05% dan NPL neto 0,75% pada periode yang sama, mengindikasikan risiko kredit yang terkendali. Likuiditas perbankan juga memadai, ditunjukkan oleh rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 27,54% dan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tinggi sebesar 13,48% (year-on-year/yoy) pada Januari 2026.

Pertumbuhan kredit perbankan terus menunjukkan tren positif. Pada Januari 2026, pertumbuhan kredit mencapai 9,96% (yoy), meningkat dari 9,69% (yoy) pada Desember 2025. Perry Warjiyo memproyeksikan pertumbuhan kredit untuk keseluruhan tahun 2026 akan berada dalam kisaran 8-12%. Peningkatan ini didorong oleh aktivitas ekonomi yang membaik, pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial BI, serta realisasi program prioritas pemerintah. Kredit investasi menjadi penopang utama dengan pertumbuhan mencapai 22,38% (yoy) pada Januari 2026, sementara kredit modal kerja dan konsumsi tumbuh masing-masing 4,13% (yoy) dan 6,58% (yoy). Ruang ekspansi kredit juga masih terbuka lebar dengan adanya fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) sebesar Rp2.506,47 triliun atau 22,65% dari total plafon kredit.

Dalam RDG Februari 2026, BI memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 4,75%. Keputusan ini diambil untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, sekaligus mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Bank sentral juga terus memperkuat kebijakan makroprudensial yang bersifat pro-growth untuk mendorong penyaluran kredit ke sektor riil, khususnya sektor prioritas pemerintah, serta mempercepat penurunan suku bunga kredit perbankan melalui implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).

Sentimen positif dari pernyataan BI ini tercermin jelas di lantai bursa. Pada perdagangan Jumat, 20 Februari 2026, empat saham bank besar kompak ditutup menguat. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk () memimpin kenaikan sebesar 1,86% ke level Rp3.840 per saham. Diikuti oleh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang menguat 0,99% ke Rp5.125 per saham, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 0,70% ke Rp7.225 per saham, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) terapresiasi 0,45% ke Rp4.470 per saham. Analis dari BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan peringkat netral untuk sektor perbankan, namun merekomendasikan ‘beli’ untuk saham BBCA dengan target harga Rp11.400.

Bank Indonesia juga akan terus memperkuat sinergi kebijakan bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam memitigasi berbagai risiko yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026 diperkirakan berada dalam kisaran 4,9-5,7% (yoy), didukung oleh berbagai kebijakan pemerintah dan BI untuk mendorong pertumbuhan.