PT Pertamina Patra Niaga (PPN) melaporkan bahwa stok minyak mentah di kilang perseroan berada dalam kondisi normal, cukup untuk kebutuhan operasional selama 11 hingga 12 hari. Langkah ini diambil seiring dengan pengoperasian kilang pada kapasitas maksimal untuk memastikan ketersediaan pasokan energi nasional, terutama menjelang momen Lebaran 2026 dan di tengah dinamika geopolitik global.
Direktur Utama PPN, Mars Ega Legowo, menegaskan bahwa Pertamina memprioritaskan ketersediaan pasokan dengan mengoptimalkan produksi kilang. Saat ini, produksi olahan minyak mencapai sekitar 1,1 juta barel per hari (bph). Strategi ini berfokus pada kuantitas produksi, bukan semata-mata profitabilitas kilang.
“Nah, jadi kami mengutamakan availability sehingga kilang modenya adalah mode maksimalkan kuantitas produksi. Saat ini berproduksi kurang lebih 1,1 juta bph. Untuk pengadaan yang kita siapkan pada Januari, itu sebetulnya nanti pada Februari juga kita refill lagi, kita isi lagi. Nanti Maret kita pengadaan lagi, isi lagi,” ujar Ega dalam konferensi pers Satuan Tugas Ramadan dan Idulfitri di Rest Area KM 57, Senin (16/3/2026).
Ega menambahkan bahwa selain stok yang tersimpan di kilang, persediaan minyak mentah juga berada di kapal-kapal yang sedang dalam perjalanan menuju Indonesia serta di fasilitas penyimpanan lain, termasuk di lokasi subholding hulu. Ia menjelaskan bahwa tidak mungkin menampung seluruh stok dalam jumlah besar di kilang.
Pengadaan minyak mentah dilakukan secara berkelanjutan, dengan sebagian besar (90-95%) melalui kontrak jangka panjang, sementara sisanya dipenuhi melalui skema spot. Strategi ini menjadi antisipasi terhadap potensi peningkatan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang diproyeksikan naik sekitar 12 persen selama periode mudik Lebaran 2026, serta potensi gangguan jalur perdagangan migas global seperti penutupan Selat Hormuz.
Ketahanan Energi Nasional di Atas Batas Minimal
Secara keseluruhan, pemerintah juga memastikan cadangan BBM nasional berada dalam kondisi aman. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa ketahanan stok BBM nasional saat ini mencapai sekitar 23 hari, bahkan melampaui batas minimal standar nasional yang berkisar 20 hingga 23 hari.
“Saya sampaikan bahwa kemampuan daya tampung BBM kita sudah sejak lama hanya maksimal di 25 hari, maksimal. Sehingga cadangan nasional kita itu minimal 20 sampai 23 hari. Sekarang BBM kita itu sudah 23 hari. Jadi sudah di atas standar minimal cadangan nasional yang sebagaimana lazimnya,” kata Bahlil pada Jumat (13/3/2026).
Data per 9 Maret 2026 menunjukkan ketahanan stok untuk berbagai jenis BBM, antara lain Pertalite sekitar 25 hari, Pertamax 26,56 hari, Pertamax Turbo 23,26 hari, Solar 16,28 hari, Pertamina Dex 44,43 hari, Avtur 38,42 hari, Kerosene 19,30 hari, dan LPG 11,51 hari.
Arahan Presiden untuk Perkuat Fasilitas Penyimpanan
Meskipun stok saat ini aman, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan pemerintah untuk segera membangun fasilitas penyimpanan minyak mentah baru. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas cadangan energi nasional hingga tiga bulan, mengingat kapasitas penyimpanan yang ada saat ini masih terbatas.
Bahlil menjelaskan, “Jadi kita tidak bisa katakan lah, teman-teman menganggap harus Pak kita stok 60 hari. Mau isi taruh di mana? Kita tidak punya storage. Makanya sekarang arahan Bapak Presiden segera kita membangun storage. Jadi bukan kita tidak punya cadangan untuk mengisi minyak. Tapi sekarang mau taruh di mana?” Studi kelayakan untuk proyek ini sedang berjalan, dengan salah satu lokasi alternatif yang dipertimbangkan berada di wilayah Sumatra.
Pemerintah juga menyiapkan langkah kontingensi, termasuk diversifikasi sumber minyak mentah dari berbagai kawasan seperti Afrika dan Amerika, untuk mengantisipasi potensi lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik.
Di sisi hulu, PT Pertamina EP Zona 4 juga menargetkan peningkatan produksi minyak hingga 30.305 barel per hari (BOPD) dan gas sekitar 485,07 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) pada tahun 2026. Upaya ini dilakukan melalui optimalisasi lapangan eksisting dan pemanfaatan teknologi untuk mendukung ketahanan energi nasional.
Komisi VI DPR RI menyambut baik upaya Pertamina dalam integrasi hilir untuk memperkuat efisiensi operasional dan ketahanan energi nasional.