Pertamina Perketat Mitigasi dan Jamin Pasokan Energi Nasional di Tengah Gejolak Timur Tengah

PT (Persero) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nasional di tengah eskalasi yang memanas di kawasan . Perusahaan energi pelat merah ini memprioritaskan keselamatan seluruh pekerja dan keberlangsungan operasional melalui penguatan mitigasi risiko serta pemantauan intensif di seluruh lini bisnis strategisnya.

Ketegangan di Timur Tengah meningkat signifikan menyusul serangan militer langsung Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang kemudian dibalas Iran dengan rentetan rudal dan drone ke Israel serta pangkalan militer AS di wilayah Teluk. Situasi ini memicu kekhawatiran pasar global terhadap gangguan pasokan dan jalur logistik, khususnya di Selat Hormuz, yang merupakan koridor vital bagi sekitar 20 hingga 30 persen perdagangan minyak laut global.

Dampak langsung dari gejolak ini telah terasa pada harga minyak dunia. Pada awal Februari 2026, harga minyak mentah Brent untuk kontrak April 2026 berada di level US$69,32 per barel, naik 13,58% secara bulanan, sementara West Texas Intermediate (WTI) untuk Maret 2026 mencapai US$65,21 per barel, naik 12,93%. Per 1 Maret 2026, harga Brent telah mencapai sekitar US$72,48 per barel dan WTI US$67,02 per barel. Para pengamat energi memperingatkan bahwa jika konflik meluas dan Selat Hormuz ditutup, harga minyak bisa melonjak hingga US$80 bahkan US$100 per barel, yang akan menekan fiskal Indonesia sebagai negara pengimpor BBM dan berpotensi memicu kenaikan harga BBM domestik.

Langkah Mitigasi dan Koordinasi Intensif

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyatakan bahwa seluruh pekerja, operasional, dan armada Pertamina di wilayah Timur Tengah terus dimonitor secara ketat. “Pertamina telah menyiapkan langkah-langkah mitigasi risiko dan memperkuat komunikasi dengan Kementerian Luar Negeri, KBRI, KJRI, serta otoritas setempat guna menjaga keamanan kru dan kelancaran operasional,” ujarnya dalam keterangan resmi pada Minggu, 1 Maret 2026.

Pertamina mengidentifikasi tiga unit bisnis strategis yang bersinggungan langsung dengan dinamika kawasan Timur Tengah. Ketiganya adalah PT Pertamina International Shipping (PIS) Non Captive yang menangani pengangkutan energi global, Pertamina Internasional EP (PIEP) yang menjalankan operasi hulu di Basra, Irak, serta Pertamina Patra Niaga dalam pengadaan minyak mentah dan produk energi dari kawasan tersebut.

Keselamatan Pekerja dan Armada PIS Terjamin

Secara spesifik, PT Pertamina International Shipping (PIS) meningkatkan pemantauan untuk menjamin keselamatan pekerja dan kru kapal. PIS memiliki kantor cabang di Dubai, PIS Middle East (PIS ME), dengan 30 pekerja beserta keluarga mereka yang dilaporkan dalam kondisi aman. Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, memastikan, “Kondisi para pekerja dan keluarga PIS Middle East saat ini dipastikan dalam kondisi aman, dan perusahaan terus memantau situasi di Dubai.” Para pekerja juga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, lapor diri, dan menghubungi hotline KBRI/KJRI jika terjadi kondisi darurat.

PIS melaporkan empat kapal berada di kawasan Timur Tengah: Kapal Gamsunoro di Khor al Zubair, Irak; Kapal Pertamina Pride yang tengah melakukan proses loading di Ras Tanura; Kapal PIS Rinjani dalam posisi anchor di Khor Fakkan; serta Kapal PIS Paragon di Oman. Perusahaan berkoordinasi dengan pengelola kapal dan otoritas maritim setempat untuk meningkatkan kewaspadaan. Upaya juga tengah dilakukan untuk segera mengeluarkan dua kapal, Pertamina Pride dan Gamsunoro, dari area Teluk.

Diversifikasi Pasokan dan Optimalisasi Kilang Domestik

Untuk menjaga ketahanan energi nasional, Pertamina memiliki portofolio pasokan minyak mentah, BBM, dan LPG yang terdiversifikasi, baik dari produksi dalam negeri maupun dari berbagai negara mitra. Diversifikasi ini memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan suplai di tengah dinamika geopolitik. Pertamina juga telah memperkuat kerja sama global, termasuk kesepakatan untuk penyediaan light crude dari Amerika Serikat dan kontrak pasokan LPG untuk sepanjang tahun 2026.

Selain itu, Pertamina mengoptimalkan operasional kilang domestik untuk menjaga keseimbangan produksi dan distribusi. Dengan pengelolaan pasokan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, perusahaan memastikan ketersediaan BBM dan LPG bagi masyarakat tetap dalam kondisi aman, memadai, dan terkendali. “Sebagai garda terdepan energi nasional, Pertamina memperketat pengawasan dan mengupayakan ketahanan pasokan crude, BBM, dan LPG tetap aman untuk memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia,” pungkas Muhammad Baron.