Para peternak babi di China menghadapi kerugian yang semakin memburuk pada Maret 2026, seiring dengan anjloknya harga daging babi ke level terendah dalam tujuh tahun terakhir. Kondisi ini diperparah oleh lesunya konsumsi domestik dan kenaikan biaya produksi yang signifikan.
Data terbaru menunjukkan bahwa harga babi hidup di China telah merosot hampir 15% menjadi sekitar CNY10.29 per kilogram pada 16 Maret 2026, berada di bawah biaya produksi industri. Bahkan, harga grosir daging babi yang dibeli oleh pengecer juga terjun bebas hingga sekitar 17 yuan per kilogram, mencatat rekor terendah dalam empat tahun. Rata-rata harga babi hidup pada awal 2026 berada di 13.10 yuan/kg, dengan sedikit kenaikan sementara di sekitar Tahun Baru Imlek sebelum kembali menurun.
Kerugian yang dialami peternak kini mencapai lebih dari 400 yuan (sekitar $58) per ekor babi, jumlah yang tidak berkelanjutan dan menimbulkan pesimisme luas di kalangan industri. Model peternakan dengan keunggulan biaya tertinggi, seperti “swadaya dan swakelola,” juga telah merugi selama lima minggu berturut-turut, dengan kerugian melebar hingga lebih dari CNY280 ($41) per ekor.
Kelebihan Pasokan dan Konsumsi yang Lesu
Penyebab utama anjloknya harga adalah kombinasi kelebihan pasokan dan permintaan yang lemah. Produksi daging babi China melonjak 4,1% secara tahunan pada 2025, mencapai 59 juta ton. Jumlah babi yang disembelih juga meningkat 2,4% menjadi 720 juta ekor pada tahun yang sama. Pada kuartal keempat 2025, produksi mencapai 15,7 juta ton, level tertinggi untuk periode tersebut sejak 2018.
Stok induk babi di China per 31 Desember 2025 tercatat melebihi 39,6 juta ekor, sedikit di atas target pemerintah sebesar 39 juta. Efisiensi produksi yang meningkat juga turut memperparah tekanan pasokan, sementara pengurangan kapasitas produksi di industri babi berjalan lambat.
Di sisi lain, konsumsi domestik tetap lesu. Pertumbuhan ekonomi China yang melambat sejak pandemi telah menyebabkan rumah tangga mengurangi pengeluaran untuk daging. Setelah libur Tahun Baru Imlek, konsumsi daging babi memasuki musim sepi tradisional. Zhu Zengyong, seorang peneliti dari Chinese Academy of Agricultural Sciences, menyatakan bahwa tidak ada lagi ruang untuk pertumbuhan konsumsi daging babi di China dalam waktu dekat.
Intervensi Pemerintah dan Strategi Industri
Pemerintah China telah berupaya menstabilkan pasar dengan mendorong peternak untuk mengurangi produksi sejak tahun lalu. Langkah-langkah yang diambil termasuk mengurangi jumlah induk babi dan tingkat pemotongan. Pada Agustus 2025, pemerintah meluncurkan pembelian cadangan daging babi beku untuk menopang harga. Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan (MARA) serta Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) bahkan mengadakan pertemuan khusus dengan peternak babi terkemuka pada awal Maret 2026 untuk memperkuat regulasi kapasitas.
Target populasi induk babi diperkirakan akan diturunkan lebih lanjut menjadi sekitar 36,5 juta ekor tahun ini. Selain itu, praktik “penggemukan kedua” (second-fattening) juga tidak lagi dianjurkan untuk mengurangi bobot rata-rata babi yang disembelih.
Di tengah tekanan ini, beberapa peternak dan korporasi mulai mencari produk bernilai tambah lebih tinggi. Daging babi hitam premium, yang dikenal sebagai “Wagyu-nya daging babi,” menjadi alternatif menjanjikan karena harganya bisa mencapai empat kali lipat dari babi putih konvensional. Perusahaan besar seperti Wen Foodstuff dan New Hope telah memperluas populasi babi hitam mereka, dengan perkiraan jumlah babi hitam nasional akan meningkat sekitar 50% menjadi 30-32 juta ekor pada 2026.
Dampak pada Perusahaan dan Prospek ke Depan
Perusahaan peternakan babi besar yang terdaftar di bursa saham juga merasakan dampaknya. Muyuan Foodstuff melaporkan penurunan pendapatan sebesar 24% pada Februari 2026 dibandingkan tahun sebelumnya, sementara Wens Foodstuff Group mencatat penurunan 16%. Wen Foodstuff Group bahkan mencatat laba bersih 2025 turun 40,7% dibandingkan tahun sebelumnya.
Biaya pakan juga menjadi beban tambahan, dengan harga bungkil kedelai dan jagung mencapai level tertinggi sejak Agustus 2024. Gangguan pasokan energi dan pupuk dari Timur Tengah turut memengaruhi pasar pertanian global.
Prospek jangka pendek untuk harga babi tetap pesimistis. Namun, industri diperkirakan akan mencapai titik terendah pada paruh kedua tahun 2026, terutama jika target pengurangan kapasitas diterapkan secara ketat dan pemangkasan kapasitas pasif akibat kerugian besar terjadi.