Piala Dunia 2026 Siap Digelar, Tantangan Geopolitik Bayangi Pesta Tiga Negara

Piala Dunia 2026, yang akan diselenggarakan di tiga negara —Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—diproyeksikan menjadi turnamen terbesar dalam sejarah sepak bola. Namun, di balik kemegahan pesta olahraga global ini, bayang-bayang isu diprediksi akan kembali menguji persatuan dan sportivitas, sebuah fenomena yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Piala Dunia.

Untuk pertama kalinya, tiga negara akan menjadi tuan rumah bersama, dengan total 48 tim peserta dan 104 pertandingan yang akan dimainkan di 16 kota: 11 di Amerika Serikat, 2 di Kanada, dan 3 di Meksiko. Skala yang masif ini tidak hanya menghadirkan tantangan logistik yang kompleks, tetapi juga berpotensi memperbesar ketegangan geopolitik yang mungkin muncul di antara negara-negara peserta atau di panggung global yang lebih luas.

Sebuah buku baru berjudul “We Are the World Cup: The Global History of the Tournament” karya Dr. , menyoroti bagaimana geopolitik selalu terjalin erat dengan Piala Dunia sejak awal berdirinya hingga era modern. Buku ini mengulas berbagai insiden di masa lalu di mana ketegangan politik, boikot, dan manuver diplomatik memainkan peran signifikan dalam jalannya turnamen.

Dr. Galarza berpendapat bahwa gagasan olahraga sebagai entitas apolitis adalah sebuah mitos. Menurutnya, Piala Dunia, sebagai ajang global, secara inheren bersifat politis. Contoh historis seperti Piala Dunia 1978 di Argentina yang berlangsung di bawah junta militer, menunjukkan bagaimana acara olahraga besar dapat menjadi panggung bagi pernyataan politik dan konflik ideologi.

Meskipun negara-negara tuan rumah 2026 umumnya memiliki catatan hak asasi manusia dan kebebasan politik yang lebih baik dibandingkan beberapa tuan rumah sebelumnya, pengawasan ketat terhadap isu-isu ini akan tetap ada. Para ahli memperkirakan bahwa turnamen 2026, meskipun diselenggarakan di wilayah yang relatif stabil, tetap tidak luput dari tekanan geopolitik, terutama yang berkaitan dengan hubungan internasional antarnegara peserta atau konflik global yang lebih luas.

Aspek komersial Piala Dunia, dengan nilai sponsor dan hak siar yang mencapai miliaran dolar, menjadikan stabilitas politik sebagai faktor krusial bagi FIFA dan para mitranya. Setiap gangguan geopolitik besar dapat berdampak signifikan secara finansial. Turnamen ini diperkirakan akan menghasilkan miliaran pendapatan dan menarik jutaan pengunjung, menjadikannya target utama bagi diplomasi kekuatan lunak sekaligus potensi protes terkait isu-isu global.