Raksasa restoran cepat saji, Pizza Hut, berencana menutup sekitar 250 gerainya di Amerika Serikat pada paruh pertama tahun 2026. Langkah ini merupakan bagian dari tinjauan strategis yang lebih luas oleh perusahaan induknya, Yum! Brands, untuk mengatasi kinerja yang kurang memuaskan dan tantangan di pasar yang kompetitif.
Keputusan penutupan gerai ini diumumkan dalam laporan pendapatan kuartal keempat tahun 2025 Yum! Brands pada awal Februari 2026. Penutupan ini menargetkan unit-unit yang berkinerja buruk dan merupakan bagian dari program revitalisasi yang disebut “Hut Forward”.
Penurunan Penjualan dan Tinjauan Strategis
Penjualan gerai yang sama (same-store sales) Pizza Hut di AS mengalami penurunan sebesar 3% pada kuartal keempat 2025 dan 5% untuk keseluruhan tahun 2025. Secara global, penjualan gerai yang sama juga turun 1% pada periode yang sama. Penurunan ini terjadi meskipun Yum! Brands secara keseluruhan mencatat hasil keuangan yang kuat, dengan pertumbuhan signifikan dari merek-merek lain seperti Taco Bell dan KFC.
CEO Yum! Brands, Chris Turner, menyatakan bahwa perusahaan sedang mengambil tindakan jangka pendek yang terfokus pada Pizza Hut sebagai bagian dari tinjauan strategis. “Kinerja Pizza Hut mengindikasikan perlunya tindakan tambahan untuk membantu merek ini mewujudkan nilai penuhnya, yang mungkin lebih baik dilaksanakan di luar Yum! Brands,” ujar Turner. Tinjauan strategis ini, yang mencakup potensi penjualan merek Pizza Hut, telah dimulai sejak November 2025 dan diharapkan selesai pada tahun ini.
CFO Yum! Brands, Ranjith Roy, menjelaskan bahwa 250 gerai yang ditutup tersebut hanya merupakan “sebagian kecil dari 20.000 unit yang dimiliki Pizza Hut secara global” dan merupakan “jawaban yang tepat bagi merek ini seiring kami menjalani tinjauan strategis.” Program “Hut Forward” sendiri mencakup inisiatif pemasaran yang lebih dinamis, modernisasi teknologi, pembaruan perjanjian waralaba, dan kontribusi satu kali dari Yum! Brands untuk dukungan pemasaran.
Tantangan Industri dan Persaingan Ketat
Penutupan gerai ini juga mencerminkan tantangan yang lebih luas dalam industri restoran cepat saji, terutama bagi rantai pizza tradisional. Biaya tenaga kerja dan bahan makanan yang meningkat, penurunan lalu lintas makan di tempat, serta pertumbuhan pesat merek-merek yang berfokus pada pengiriman dan pemesanan berbasis aplikasi, telah memberikan tekanan besar. Selain itu, harga pizza yang naik lebih dari 15% selama lima tahun terakhir menyebabkan 35% konsumen memesan pizza lebih jarang.
Pizza Hut juga menghadapi persaingan ketat dari rival seperti Domino’s, yang disebut-sebut “memenangkan perang harga pizza”. Domino’s mencatat peningkatan signifikan dalam penjualan gerai yang sama di AS pada tahun 2024 dan 2025.
Kinerja Internasional dan Isu Waralaba Sebelumnya
Meskipun menghadapi kesulitan di pasar domestik AS, Pizza Hut menunjukkan momentum positif di pasar internasional. Penjualan gerai yang sama di divisi internasional naik 1% pada kuartal keempat dan sepanjang tahun 2025, dengan kekuatan khusus di Timur Tengah, Amerika Latin, dan Asia. Namun, penutupan gerai juga terjadi di luar AS, seperti 68 lokasi di Inggris pada Oktober (2025) dan 254 gerai di Turki pada awal 2025 akibat pengakhiran perjanjian waralaba induk.
Sebelumnya, pada Juli 2024, salah satu pemegang waralaba besar Pizza Hut, EYM Group, mengajukan kebangkrutan Bab 11, yang berujung pada penjualan 77 lokasinya pada awal 2025. Hal ini disebabkan oleh sengketa hukum dan royalti yang tidak dibayar. Pizza Hut bahkan mengakuisisi kembali 18 dari gerai tersebut.
Yum! Brands menyatakan bahwa penutupan gerai di AS ini bersifat sementara dan diharapkan jumlah gerai global Pizza Hut akan kembali tumbuh pada paruh kedua tahun 2026. Perusahaan tetap optimis dengan peluang pertumbuhan jangka panjangnya, menargetkan pertumbuhan unit 5% dan pertumbuhan penjualan sistem 7% secara keseluruhan.