Polemik Impor 105 Ribu Pikap Agrinas dari India: Celios Peringatkan Kerugian Rp39 Triliun, Menperin Soroti Industri Lokal

Author Image

Hodak

21 Februari 2026

pt agrinas pangan nusantara, celios, mahindra scorpio pikap, tata yodha pikap, tata ultra t.7 light truck

Rencana untuk mengimpor 105.000 unit kendaraan niaga dari India memicu perdebatan sengit di tengah kekhawatiran akan dampak ekonomi domestik. Center of Economic and Law Studies () memperkirakan langkah ini berpotensi merugikan ekonomi Indonesia hingga Rp39 triliun dan menghilangkan ratusan ribu lapangan kerja.

Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, pada Jumat (20/2/2026), mengungkapkan hasil studi lembaganya yang menyoroti potensi kerugian ekonomi sebesar Rp39 triliun akibat importasi pikap Agrinas tersebut. Selain itu, Bhima juga memperkirakan adanya kehilangan tenaga kerja sekitar 330.000 orang karena persaingan dengan produsen mobil lokal.

Di sisi lain, PT Agrinas Pangan Nusantara (Agrinas), sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), berdalih bahwa keputusan impor ini didasarkan pada prinsip efisiensi, efektivitas, dan tepat guna, sejalan dengan amanat Presiden. Direktur Utama Agrinas, Joao Angelo De Sousa Mota, menjelaskan bahwa harga pikap 4×4 dari India hampir 50% lebih murah dibandingkan produk sejenis di pasar domestik. Ia juga menyebutkan bahwa industri dalam negeri belum mampu memenuhi pengadaan pikap 4×4 dalam jumlah besar, khususnya untuk medan yang sangat berat seperti di daerah tambang dan perkebunan.

Total kontrak pengadaan kendaraan niaga ini mencapai Rp24,66 triliun, meliputi 105.000 unit pikap dan truk yang akan didatangkan dari India. Kendaraan-kendaraan ini ditujukan untuk mendukung operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dalam memperkuat rantai pasok pangan di tingkat desa.

Secara rinci, 35.000 unit pikap akan dipasok oleh Mahindra & Mahindra dengan model Scorpio Pikap. Sementara itu, Tata Motors akan menyuplai 70.000 unit, yang terdiri dari 35.000 unit pikap Yodha dan 35.000 unit truk ringan Ultra T.7. Beberapa unit pikap Mahindra Scorpio dilaporkan sudah tiba di Indonesia dan akan segera didistribusikan.

Spesifikasi Kendaraan Niaga Impor Agrinas

Kendaraan yang diimpor Agrinas dirancang untuk mendukung kebutuhan logistik di pedesaan dengan kondisi jalan yang bervariasi. Berikut adalah detail spesifikasi dari beberapa model yang diimpor:

Aspek Tata Ultra T.7 Light Truck
Merek & Model Mahindra Scorpio Pikap Tata Yodha Pikap Tata Ultra T.7 Light Truck
Asal Pabrikan India India India
Mesin 2.2 L mHawk, standar Euro4, 140 PS, torsi 320 Nm
Transmisi 6 MT320 (6 gigi maju, 1 gigi mundur)
Drivetrain 4×4 (varian single cab) 4×2 dan 4×4 (varian single cab & crew cab)
Fitur Utama AC, audio 2DIN, power window, follow me headlamps, cruise control steering switch Dirancang untuk kinerja berkelanjutan, waktu aktif tinggi, dan ekonomi operasi efisien GVW sekitar 7.490 kg, tangki bahan bakar 90 liter, kabin nyaman untuk pengiriman barang cepat
Fitur Keselamatan 2 airbag, ABS, central locking with remote
Ketersediaan Beberapa unit sudah tiba di Indonesia

Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa impor kendaraan bermotor tidak memerlukan izin khusus seperti Persetujuan Impor (PI) atau rekomendasi teknis tambahan, karena komoditas ini masuk dalam kategori bebas impor.

Namun, kebijakan impor masif ini menuai sorotan dari Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Ia menyatakan bahwa industri otomotif nasional memiliki kapasitas produksi pikap hingga 1 juta unit per tahun dan mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik dengan kualitas kompetitif. Agus memperkirakan, jika 70.000 unit pikap 4×2 dipenuhi dari produksi dalam negeri, akan ada dampak ekonomi (backward linkage) sekitar Rp27 triliun dan penciptaan lapangan kerja di berbagai subsektor industri.

Perkumpulan Industri Kecil dan Menengah Komponen Otomotif (PIKKO) juga menyuarakan kekhawatiran. Ketua Umum PIKKO, Rosalina Faried, menyatakan dukungan terhadap program pemerintah, namun menyayangkan rencana impor kendaraan operasional secara penuh. PIKKO menilai, impor kendaraan utuh berpotensi menimbulkan disrupsi terhadap keberlangsungan ekosistem industri otomotif nasional dan berdampak pada sekitar 6.000 tenaga kerja di sepanjang rantai pasok, terutama di tengah kondisi industri yang masih lesu.